Farewell, 2016

It’s been rough. 2016 is painful for many people, including me. Nevertheless, it’s a year full of lesson. Let me express my gratitude towards you all:

farewell-2016

To all people—including myself—whose expectations I couldn’t meet in 2016, I greatly apologize.

I acknowledge my limitations and scarcity of time, energy, and
willpower. I acknowledge my skills—including time management,
task prioritization, risk estimation, communication, and decision-
making in general—have so many rooms for improvement.

2016 has been a rockin’ and humbling teacher. I have been
taking notes every single day, learning what works [and how to
refine them] and what doesn’t [and how to avoid them].
If I’m still indebted to you in any way, please let me know.
I’ll see what I can do about it. Let us be always learning.

Have an Enlightening and Marvelous 2017!

Wit beyond measure is man’s greatest treasure.

Iklan

Thoughts on 212-Mart

Jadi pasca-pergerakan 212, ada wacana untuk membuat jaringan waralaba 212-Mart. Selengkapnya bisa dilihat di kiriman ini.

Yeeey!

Sebagai seorang neoliberalis yang mendukung persaingan sehat demi memperbanyak pilihan konsumen, saya saaangat senang dengan dibukanya 212 Mart ini serta komitmen para pendirinya untuk menjadikan teknik kelola waserba 212 Mart open-source.

Semoga sustainable [dan ethical] sampai setidaknya 5 tahun ke depan, supaya model bisnisnya bisa ditiru. (Do you know that 80% of business fail in the first year and only 5% can make it to the third year?)

A few concerns, tho, regarding the competitions against Indomaret/Alfamart/Lawson/Sevel:

1. Buka 24-jam. Nama Seven-Eleven asalnya karena tokonya buka jam 7 pagi, tutup jam 11 malem. Tahun ’50-an sih itu jam buka yang udah lama banget. Cuma, karena tekanan kompetisi di US sekarang, warung-warung jadinya buka 24 jam. Apakah yang buka waralaba 212-Mart akan punya cukup biaya operasional untuk ngegaji [secara layak] karyawan yang jaga malam?

2. Reputasi. Tau nggak, di Starbucks itu, kalau kita ngerasa pelayanannya kurang ramah atau tempatnya bau atau kopinya basi atau rotinya jamuran, kita bisa langsung tweet ke Sbux global? Kalau buktinya kuat, mereka akan langsung kirim auditor ke Sbux itu dan nyuruh benerin layanan [dan kita dapat kupon belanja senilai ~1 juta buat ngelaporin]. Bahkan kalau masih nggak bener juga, izin waralabanya bisa dicabut sama pihak Sbux. Ada kualitas minimum yang harus dijaga setiap saat, jadinya konsumen nggak main tebak-tebakan, “Hemmm… Kira-kira kripik buah di sini basi nggak ya? Roti rumahan di sini tepungnya ada campuran cicak/lalat yang nggak sengaja kegiling nggak ya?”

3. Rantai logistik. “Kepastian mendapatkan barang yang kita butuhkan” is a big competitive advantage for convenience store franchise. Ada konsep “opportunity cost” yang kira-kira isinya, “Duh, sial, udah capek-capek jalan ke 212-Mart, barangnya nggak lengkap.” Sistem pelaporan mingguan di *mart menjamin hal seperti ini nggak ada.

Ada beberapa faktor lain seperti pelatihan karyawan, software kasir, sistem audit, riset pasar, keamanan lokasi, modal, pajak, saturasi pasar, tata letak toko, penanganan risiko gagal, ketahanan mental untuk kerja 100 jam seminggu selama belasan bulan, metode promosi, asuransi, teknologi, kompetisi, dan undang-undang perlindungan konsumen. Tapi menurutku sih, sebagai konsumen awam yang tahunya-tinggal-beli, tiga faktor di atas yang signifikan.

Kenapa Belajar Ini, Kenapa Belajar Itu

KENAPA BELAJAR INI, KENAPA BELAJAR ITU

Guys, gw nggak capek-capek bilang ini ya: Knowledge is an invaluable capital. Bisa tahu lebih duluan ketimbang temen-temen kalian yang lain is a huge advantage.

Belajar filosofi dan retorika itu gunanya supaya kita punya worldview yang kokoh dan bisa mempertahankan semua pilihan hidup kita sampai tingkat atomik, jika orang lain mempertanyakannya.

Yang bikin males adalah kalau kita merasa filosofi itu cuma ngapalin ucapan-ucapan Descartes, Peter Singer, Socrates/Plato/Aristoteles.

Belajar sejarah itu gunanya supaya kita bisa mengerti kesuksesan dan kegagalan yang membawa kita ke titik ini, supaya kita bisa meniru langkah-langkah menuju kesuksesan dan menghindari kegagalan.

Yang bikin males adalah kalau kita merasa sejarah itu cuma ngapalin tanggal kejadian sama nama-nama orang yang terlibat di dalamnya.

Belajar sains dan teknik itu gunanya supaya ngerti cara kerja dunia, supaya pelajaran kita di bidang-bidang lain bisa ditopang dan kita bisa membuat inovasi dan kemajuan untuk kualitas hidup manusia.

Yang bikin males adalah kalau kita merasa sains itu cuma ngapalin tabel periodik dan ngapalin rumus-rumus fisika dan teknik cuma belajar cara bongkar pasang komponen listrik dan beton dan debugging software.

Belajar sosiologi dan psikologi itu gunanya buat tahu cara kerja dan karakteristik masyarakat, serta peran masing-masing individu dalam masyarakat tersebut.

⁠⁠⁠⁠⁠Yang bikin males adalah kalau kita merasa sosiologi/psikologi itu cuma baca-baca Capital-nya Karl Marx, The Wealth of Nations-nya Adam Smith, sama jenis-jenis penyakit di Pedoman Penggolongan Penyakit dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ).

Belajar matematika itu untuk meningkatkan kapasitas mental dalam mengumpulkan informasi, mengolahnya, dan menggunakannya untuk mengambil keputusan terbaik bagi sebanyak mungkin orang.

Yang bikin males adalah kalau kita merasa matematika adalah muter-muterin angka yang abstrak untuk dipas-pasin ke integral lipat tiga dalam enam dimensi.

Belajar seni itu gunanya supaya kita bisa membuat gagasan-gagasan terbaik yang kita miliki menjadi hidup dan persuasif bagi orang lain.

Yang bikin males adalah kalau kita merasa seni adalah sekadar corat-coret pakai cat dan bikin cerita fiksi dan produksi film-film absurd dan ngasih informasi yang nggak penting.

Intelligence is a gift, not a right. It must be wielded not as a weapon but as a tool for the betterment of others.

Intelligence must be used for the benefit, and not to the detriment, of society. Those who use intelligence for their own personal gain or to the detriment of others have not properly borne the responsibility of their gift, and are not welcome in the world of wisdom.

Depiction: Saraswati, (Indian) godess of knowledge and arts.

Humans Are Smart

So lately people have been accusing each other stupid. I want to emphasize this: No one is stupid.

We can’t blame people for being ignorant or misinformed. We don’t know what we don’t know. Humans, at any given time, will choose the best action according to their knowledge and experience.

For example:

X, an atheist, thinks that most followers of Abrah*mic religions are stupid because they base their spiritual and cosmological knowledge on a fictional being that never existed and books that are historically invalid and morally multi-interpretative.

X goes around telling people of Abrah*mic religions that their books are hoaxes, and instead of wasting time in mosques/churches people should better themselves to help other people and build civilization.

Y, a strong believer of an Abrah*mic religion, thinks that X is stupid because… how come people are not afraid of Hell? Y also thinks billions of people have believed in the (Abrah*mic) G*D and the Books so they must be true and historical/archaeological review is unnecessary. Also, if there’s no G*D, how do people separate “good” from “evil”?

Y tells people to avoid X because X will only bring evil to their life. Y also thinks that X is stupid because X chooses to be different from half the Earth’s population who believes in Abrah*mic religions and scriptures.

Z, an anthropologist-historian, understands that people need religions to feel safe about death and existential crisis. Z understands that religions—particularly, Abrah*mic ones—are made to avoid “tragedy of the commons” in the post-Sumerian Mediterranean civilization where resources are scarce and people are stealing from and killing each other without fearing the consequences.

Z thinks that X and Y are both stupid because they’re missing the point of (Abrah*mic) religions: It’s to control the masses using “appeal to authority”. It’s to create an army that fears no death. It’s to avoid poor people from being suicidal by giving promises that “everything will be better if you follow these rules, at least in the next life”, because suicidal people will make a nation collapse.

Z knows that understanding ethics is hard, thinking takes much time, and people would just rather being told what to do—and free form responsibility—instead of learning about moral-philosophy and making their own choice.

無 thinks that X, Y, and Z are stupid because nothing of their debate will matter in the long-term because we’re going to die anyway.

無 lives a life with low expectations, so it makes 無 happy every day. 無 doesn’t care about what X, Y, and Z think.

I think? I think that all of them make the best actions according to their knowledge. Hence, they are smart.


Tenang, tenang. Status ini nggak bisa dituntut UU ITE 11/2008 soalnya menggunakan karakter lain dan cerita berbingkai dalam mengekspresikan pendapat.

Juga, semua nama dan identifier dikasih sensor. Bisa aja, misalnya, G*d itu dibaca sebagai G-Dragon.

Hukum itu kocak, Guys.

Model yang Meleset

Semua orang, di kepalanya, punya model tentang cara kerja dunia. Kadang, modelnya nggak sempurna.


Rana, 8 tahun, adalah anak orang kaya. Suatu hari, di kelas, gurunya meminta Rana menuliskan cerita tentang kehidupan orang miskin. Yang Rana tulis — dan bacakan di depan kelas — adalah:

“Andi adalah seorang yang sangaaat miskin. Sehari-hari dia cuma makan sedikit tuna dan sedikit ayam. Jus pun cuma setengah gelas setiap harinya. Ayah ibunya tidak punya uang untuk membeli banyak jus dan baju. Pembantu-pembantu di rumah Andi kurus dan lapar. Bahkan supir Andi mati kelaparan.”


Andi adalah anak orang miskin, dari desa. Suatu hari, di kelas, gurunya meminta Andi menuliskan cerita tentang bagaimana kehidupan orang kaya di kota. Yang Andi tulis adalah:

“Rana adalah anak orang kaya. Dia punya banyak sekali layangan di kamarnya untuk dimainkan bersama teman-teman. Mereka tinggal di kota dengan sawah yang berhektar-hektar. Rana punya belasan pasang sandal, sehingga kalau ada yang rusak dia bisa langsung ganti. Karena rumah orang tuanya besar, dia juga bisa pelihara banyak bebek dan kambing di kandang.”


Ketidaksempurnaan pemodelan inilah yang bikin orang punya ekspektasi yang nggak realistis dan kesimpulan yang nggak akurat.

Ketidaksempurnaan model ini menyebabkan kita, sadar atau tidak, menyakiti orang lain.

Contoh #1
“Mas, ini filenya udah saya taro di flashdisknya ya.”
“Eh! Ini flashdisknya kok nggak ditutup sih?! Nanti kalau kena virus gimana? Komputer saya rusak!”

Contoh #2
* ada siswa pakai sandal di kelas bahasa Inggris *
Guru: Hey you! No more sandal!
Siswa: Thirty nine, Ma’am!
Murid Sekelas : * sontak ketawa kompak *
Guru: * nangis keluar kelas *


Nah, tugas seorang psikiater itu adalah nganalisis cerita frustrasi dari klien, nentuin kesalahan pemodelannya di sebelah mana, terus ngasih pengetahuan dan pengalaman yang membuat model-dunia di kepala klien lebih akurat dan klien nggak frustrasi lagi.

Jadi psikiater terapis itu mirip programmer bagian quality assurance: sama-sama nyari error di kode, terus melakukan “penulisan ulang” supaya output bisa lancar dan bahkan memungkinkan program siap menangani beban yang lebih tinggi.

* belajar jadi psikiater-amatir yang baik *

%d blogger menyukai ini: