Kembali Berbahasa

Sumpah yang paling banyak dilanggar di Indonesia adalah: “Kami, Putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia”.

Sudah sejak jaman raja-raja Nusantara, bahasa Indonesia menjadi bahasa kerja (lingua franca) dalam perdagangan, sastra, hingga pengajaran ilmu bela diri. Sebagai negara dengan penduduk terbanyak keempat di dunia, jumlah penutur bahasa Indonesia sudah mencukupi syarat sebuah bahasa dapat menjadi bahasa antarnegara. Tapi, kalaupun bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa antarnegara, hal itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat; bukan hanya karena bahasa Indonesia baku sulit dipelajari, tapi juga karena kurangnya kebanggaan bangsa Indonesia sendiri dalam menuturkan bahasanya.

Kebanggaan berbahasa Indonesia sudah luntur–terlihat dari cara menulis dan bercakap yang makin jauh dari kaidah bahasa Indonesia. Bagi kebanyakan orang, mahir berbahasa asing lebih membanggakan–terbukti dari nilai Bahasa Inggris murid-murid yang seringkali malah lebih tinggi ketimbang nilai Bahasa Indonesia. Agus Dharma, Ketua Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud, pada penutupan bulan bahasa 2011 lalu menyatakan, bahasa Indonesia perlu ditegaskan dan dimantapkan, baik sebagai bahasa nasional maupun bahasa negara.

“Aku titipkan Indonesia kepadamu, jika engkau bisa menjaganya,” kata Bung Karno.

Tapi bagaimana kita bisa menjaga negeri ini, jika kita saja tidak peduli terhadap apa yang mempersatukan negeri ini? Kepunahan sebuah bahasa, baik tata bahasanya maupun kosakatanya, bisa terjadi karena jarang dipakai, sering salah digunakan, atau tidak digunakan sama sekali, baik dalam lisan atau tulis. Masih ingat cupak, gantang, dan pikul? Jengkal, depa, atau hasta? Masih sering menemui kalimat yang strukturnya berantakan lalu penulisnya berdalih “asal pembaca mengerti, tata bahasa bukan masalah”?

Nenek-nenek di desa tidak akrab dengan kata “provokator”, diksi yang mereka tahu adalah “penghasut”. Mahasiswa non-informatika tidak akrab dengan kata “rekursif”, diksi yang mereka tahu adalah “perulangan”. Sudah seharusnya para generasi muda menyadari pentingnya menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jika mereka menjadi tokoh-tokoh politik dan masih tidak pandai berbahasa, maka ketidakmampuan mereka berbahasa Indonesia akan menimbulkan kesenjangan bahasa dan jarak dengan rakyat Indonesia.

Pun, acara-acara TV (yang dengan salah diucapkan sebagai ‘tivi’ ketimbang ‘teve’) banyak menggunakan tema atau judul dalam bahasa asing, misalnya Indonesian Idol, MasterChef, dan Indonesian Voice. Saya terharu hingga meneteskan air mata (halah) ketika ada acara kuis Main Kata di Global TV yang kegiatannya mendukung masyarakat untuk lebih menghargai bahasa persatuan kita. Terlepas dari komersialisasi, acara kuis ini terobosan yang bagus. Tapi tetap saja, jika gedung-gedung dan mal-mal besar masih lebih nyaman menggunakan bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia, kita harus mawas diri. Apakah bahasa kita kurang menjual? Ataukah otak kecil kita tidak mampu lagi memahami bahasa persatuan yang diperjuangkan para bapak pendiri bangsa?

Bayangkan jika suatu hari nanti, di negara ini, bahasa Inggris yang kini kita diagungkan oleh kebanyakan orang menjadi bahasa yang lebih lazim digunakan ketimbang bahasa Indonesia itu sendiri. Sakit, bukan? Kita tidak akan tahu betapa berartinya sesuatu bagi kita hingga kita kehilangannya.

Tapi jangan khawatir. Kita tidak akan kehilangan bahasa Indonesia! Ya, kita–saya, kamu, mereka, dan semua orang yang mengaku Indonesia adalah tanah airnya. Kitalah yang akan membangkitkan kembali kehormatan bahasa Indonesia; memangnya siapa lagi yang akan peduli kalau bukan kita?

Sayangi, Jangan Paksakan

Dengan alasan membahayakan kebudayaan, pemerintah Cina mencekal lagu-lagu Beyonce, Lady Gaga, Katy Perry, dan artis pop barat lainnya. Pemerintah Cina juga mencekal banyak akun jejaring sosial, termasuk YouTube, Twitter, dan Facebook.

Kita tidak perlu seekstrem pemerintah Cina dalam mempertahankan kebudayaan kita—dalam hal ini, bahasa.

Orang yang mempertahankan kemurnian bahasa (language purist) cenderung mengharuskan bentuk tata bahasa yang formal. Bagaimanapun, mereka tidak akan bisa mendikte bahasa sehari-hari, atau bahasa gaul (colloquial) yang digunakan orang-orang. Bahkan, usaha mereka yang terlalu besar untuk memaksakan standar bahasa mereka bisa saja membuat orang-orang tidak suka lagi dengan bahasa itu.

Jadi, yang bisa kita lakukan adalah menumbuhkan kepedulian orang-orang kepada bahasa Indonesia.

Mari beralih ke solusi. Jumlah cara yang bisa kita gunakan untuk memenuhi butir ketiga Sumpah Pemuda tidaklah terbatas. Serius. Yang akan dipaparkan di sini hanyalah beberapa teknis penerapan saja. Semoga tujuh contoh ini bisa membantu.

1. Ikuti Perkembangan

Tahu KBBI sekarang sudah sampai edisi berapa? Tahu ada berapa pusat bahasa dan kebudayaan Indonesia di seluruh dunia? Tahu peringkat Bahasa Indonesia di Wikipedia berdasar jumlah artikel?

4, tahun 2008. 150 di 48 negara. Peringkat 26 di dunia, peringkat 3 di Asia.
Sepele, tapi fakta-fakta unik seperti inilah yang akan menumbuhkan kebanggaan kita terhadap bahasa sendiri. Selain tahu fakta unik, kita juga harus tahu istilah-istilah terbaru di bahasa Indonesia, seperti unggah (upload), unduh (download), dan linimasa (timeline).

2. Praktikkan

Kunci menguasai bahasa adalah pelajari bahasa itu dengan rajin lalu praktikkan. Perbanyak kegiatan di forum-forum resmi dan berikan tanggapan di status Facebook dosen. Karena dalam menulis kita tidak bisa mengatur intonasi, mimik, dan gerak raga, sebagai gantinya kita harus menguasai tipografi, majas, dan tanda baca. Makin banyak kita berbahasa Indonesia, makin mahir kita menggunakannya.

3. Biasakan yang Benar

Jangan benarkan yang biasa. Seringkali, “yang benar” kalah oleh “yang banyak”. Sayangnya, penggunaan bahasa di masyarakat kita lebih didasarkan pada kelaziman, bukan kebenaran. Tidak aneh jika banyak yang salah menggunakan bahasa Indonesia. Tapi, jangan lupa, masing-masing dari kita adalah bagian dari masyarakat. Jangan pernah ragukan dan sepelekan kemampuan kita untuk membawa perubahan untuk orang-orang di sekitar kita.

4. Perkaya Kosakata

Untuk apa sih orang memperkaya perbendaharaan kata? Salah satu kaidah sastra dalam menjaga ketertarikan pembaca adalah: tidak terjadinya pengulangan istilah yang berlebihan. Jika kita sedang membicarakan tema khusus, disinilah kekayaan kosakata jadi penting. Istilah resminya, “diksi”, ilmu memilih kata dalam menulis.

Jika tidak ingin repot-repot membeli tesaurus (kamus sinonim, yang khusus ditujukan untuk memperkaya kosakata), kita tinggal memperkaya basis data kata dengan menambah kekerapan membaca artikel-artikel di koran nasional yang bermutu.

5. Sukai Sastra

Tidak dipungkiri, novel-novel dan karya anak bangsa ‘lah yang membuat kekayaan bahasa kita masih bertahan hingga sekarang. Bacalah. Mereka menerbitkan karya-karya itu bukan untuk dipajang di museum seni, tetapi untuk dinikmati sebagai hidangan bagi jiwa. Saat pikiran kita bisa menyelami sebuah “pengalaman baru” yang dihasilkan oleh kalimat-kalimat yang belum pernah kita baca sebelumnya, di situlah sastra bisa menunjukkan kekuatannya.

Para penerjemah dan penyulih suara yang bekerja di balik layar juga patut diacungi jempol. Dulu, tiap Minggu pagi, kita berdiri di depan teve dan menyanyi bersama ketika anime favorit kita muncul. Coba bayangkan jika lagu-lagu anime tahun 90-an dulu tidak disulih, masa kecil kita pasti tidak bahagia, hahaha…

6. Gunakan Padanan

Jika suatu kata serapan masih bisa kita temukan padanannya dalam Bahasa Indonesia, mengapa kita tetap menggunakan kata-kata serap? Jangan meniru Pak Harmoko yang biasa mengatakan ‘memfollowupi’ (maksudnya follow up), kalau kita punya kata menindaklanjuti. Begitu pula dengan ‘me-manage’ perlu kita ganti dengan ‘mengatur’ atau ‘mengelola’.

Ada banyak kata serapan yang kadang digunakan untuk gagah-gagahan dalam berinteraksi, padahal kita punya kekayaan bahasa. Gunakan ‘perulangan’ dan ‘pegiat’ ketimbang ‘rekursi’ dan ‘aktivis’. Jika tidak yakin apa padanan suatu kata dalam bahasa Indonesia, tanyakan pada orang yang paling ‘bahasawan’ yang kamu kenal, atau cukup gunakan Google Translate.

7. Hentikan Wabah Alien

Kelihatannya sepele, tapi 0r6 Y9 m3nVl1s d3n6aN g4Ya $3pR7i In1 jelas tidak menaati kaidah bahasa Indonesia yang benar. Wabah ini masih banyak terjadi di luar sana, khususnya di daerah-daerah semi perkotaan. Di kalangan siswa SD, mahasiswa, hingga pekerja sekalipun masih ada yang menggunakan bahasa alayen ini. Untung saja mahasiswa ITB umumnya sudah terbuka mata batinnya bahwa menulis seperti itu merupakan perbuatan nista dan dapat berujung pada pengucilan sosial, hahaha…

Tentu saja kita tidak bisa menghentikan mereka secara instan. Yang bisa kita lakukan adalah tetap meladeni mereka; membalas komentar alay mereka dengan bahasa Indonesia yang nyaman dan sesuai kaidah. Setidaknya, kita bisa menanamkan dalam diri mereka “Tidak semua orang menganggap bahasa alay itu gaul kok”.

***

Ada banyak cara untuk membangkitkan kembali kesadaran berbahasa Indonesia, salah satunya adalah dengan mempublikasikan tulisan pengingat seperti ini. Setidaknya, kita bisa merasa aman saat tahu bahwa ada orang yang benar-benar berusaha menjaga bahasa kita.

Artikel ini juga dipublikasikan dalam jurnal tahunan kumpulan tulisan kemahasiswaan ITB, Repertoar Ganeca.

4 thoughts on “Kembali Berbahasa”

  1. kita harus bersyukur karena mempunyai bahasa nasional,kamu mengatakan yang sebenarnya ‘semakin banyak kita belajar bahasa indonesia semakin mahir kita menggunakannya’ saya setuju dengan pendapat kamu . tapi sekarang banyak juga orang asing yang mampu berbahasa indonesia baik dan benar bahkan mereka menjadi selebritis di indonesia beberapa tahun yang lalu maher zain meluncurkan albumnya disertai dengan dua lagu berbahasa indonesia banyak orang terkesima karenanya .

  2. Mantap bung. Banyak yang masih merasa gagah dengan menggunakan kata serapan bahkan ketika bahasa kita sendiri sudah menyediakan kata tersebut dengan bunyi yang kadang terdengar unik.

    1. Ya! Bahkan, di kalangan pegiat kampus pun, menggunakan kata-kata serapan dan jargon-jargon alien saat orasi dianggap lebih mengangkat martabat. Semoga kita termasuk orang-orang yang menjadi obat bagi bangsa ini. Semangat, Beroh!😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: