Arsip Kategori: side-jobs

Model yang Meleset

Semua orang, di kepalanya, punya model tentang cara kerja dunia. Kadang, modelnya nggak sempurna.


Rana, 8 tahun, adalah anak orang kaya. Suatu hari, di kelas, gurunya meminta Rana menuliskan cerita tentang kehidupan orang miskin. Yang Rana tulis — dan bacakan di depan kelas — adalah:

“Andi adalah seorang yang sangaaat miskin. Sehari-hari dia cuma makan sedikit tuna dan sedikit ayam. Jus pun cuma setengah gelas setiap harinya. Ayah ibunya tidak punya uang untuk membeli banyak jus dan baju. Pembantu-pembantu di rumah Andi kurus dan lapar. Bahkan supir Andi mati kelaparan.”


Andi adalah anak orang miskin, dari desa. Suatu hari, di kelas, gurunya meminta Andi menuliskan cerita tentang bagaimana kehidupan orang kaya di kota. Yang Andi tulis adalah:

“Rana adalah anak orang kaya. Dia punya banyak sekali layangan di kamarnya untuk dimainkan bersama teman-teman. Mereka tinggal di kota dengan sawah yang berhektar-hektar. Rana punya belasan pasang sandal, sehingga kalau ada yang rusak dia bisa langsung ganti. Karena rumah orang tuanya besar, dia juga bisa pelihara banyak bebek dan kambing di kandang.”


Ketidaksempurnaan pemodelan inilah yang bikin orang punya ekspektasi yang nggak realistis dan kesimpulan yang nggak akurat.

Ketidaksempurnaan model ini menyebabkan kita, sadar atau tidak, menyakiti orang lain.

Contoh #1
“Mas, ini filenya udah saya taro di flashdisknya ya.”
“Eh! Ini flashdisknya kok nggak ditutup sih?! Nanti kalau kena virus gimana? Komputer saya rusak!”

Contoh #2
* ada siswa pakai sandal di kelas bahasa Inggris *
Guru: Hey you! No more sandal!
Siswa: Thirty nine, Ma’am!
Murid Sekelas : * sontak ketawa kompak *
Guru: * nangis keluar kelas *


Nah, tugas seorang psikiater itu adalah nganalisis cerita frustrasi dari klien, nentuin kesalahan pemodelannya di sebelah mana, terus ngasih pengetahuan dan pengalaman yang membuat model-dunia di kepala klien lebih akurat dan klien nggak frustrasi lagi.

Jadi psikiater terapis itu mirip programmer bagian quality assurance: sama-sama nyari error di kode, terus melakukan “penulisan ulang” supaya output bisa lancar dan bahkan memungkinkan program siap menangani beban yang lebih tinggi.

* belajar jadi psikiater-amatir yang baik *

Iklan

OJK-OECD Seminar Copywriting

Jadi, bulan lalu saya bantuin temen bikin situs seminar OJK sebagai salah satu kerjaan lepas. Berhubung waktu itu bagian Topics masih nggak ada kontennya, saya bikin copywriting untuk petikan isi topiknya.

Menariknya, dari hasil riset sana-sini untuk mengisi kutipan inilah, saya jadi tahu apa yang sekarang sedang terjadi di industri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di Indonesia.


  • Driving the Potential of MSMEs

For the holistic development of the economy, it is essential that the micro and small industries should co-exist with the big industries. Precisely measuring performance and detecting key bottlenecks is crucial to address issues and develop the MSME sector to its fullest capacity. In this session we are going to review MSMEs prospects and how to make the best use of them.

  • The Strategic Role of MSMEs for the Regional Economy

The Micro, Small and Medium Enterprises (MSME) sector contributes to the process of economic growth, employment generation and balanced regional development. It has the potential to emerge as a strong, vibrant and globally competitive sector in the economy. Obtain the latest data on how well MSMEs strengthen the regional economy and even transcend regional boundaries in this session.

  • Financial Education for MSMEs: The Current Research

The most important metrics for a small business are those that are critical for its continued survival and sustainability: profit margins — which tells whether a business is commercially viable and profitable, and cashflow — how long the business can keep running. Capture how business around the world survive and sustain their business in this session.

  • Financial Literacy Strategies for MSMEs: Challenges and Best Practices from Around the World

 

Operating cash flow while maintaining profitability is probably the number one for MSMEs. What financial metrics do small and mid size businesses care about most? What are the tools that they use to proactively monitor them? This session shows you what works and what doesn’t in various global contexts, from various financial and MSME experts.

  • The Role of Government for Successful MSMEs: The Case of Indonesia

McKinsey, in a recent report, stated Indonesia was going to make it to the top 10 world economies by 2030, despite the challenges in near term. The MSME segment is expected to play a significant role in the emergence of the Indonesian economy. Gain more insights on how Indonesia’s government direct MSMEs and regulate their policies in this session.

  • The Role of Financial Industry in Supporting MSMEs

Financial industry produces utility for the MSMEs. It helps arrange a beneficial transfer of money between parties and growing the economy. From asset management to increased access to alternative investments, from loan management to sales campaign, see how the current financial industry take charge in nurturing MSMEs.

  • Beyond Financial Literacy: Improving Business Knowhow in MSMEs

One of the keys to assist MSMEs grow and become the backbone of the economy is by understanding the financial behaviour, needs, and desires of the country’s population. This session will cover how we can assist MSMEs overcome major startup obstacles.

To Kill a Mocking Up

Agustus lalu, saya diminta bikin proposal untuk lomba Kopernik, lema Tim Virtuosity Indonesia. Jadi, saya bikin sebuah mockup. Branding sebuah proyek akan lebih terlihat keren dan futuristik kalo sekalian ada aplikasinya untuk ponsel pintar, bahkan walaupun aplikasinya cuma bisa dijalanin sampai layar login. Bahkan kalau aplikasinya tidak jelas gunanya apa. Yang penting ada dulu. Soal fungsionalitas bisa direvisi nanti. 😀

cprprajamudamerah

Belajar Servis

Ada temen yang bikin status kayak gini:

Pernah satu kali saya diwawancara ketika hendak mengikuti sebuah kegiatan skala nasional mewakili Bali.

Pertanyaannya : Coba ceritakan apa itu Bali.

Jawaban spontan saya : Hah? Ceritakan apanya? Geografisnya? Pariwisatanya? Budayanya? Atau apa?

Dia hanya merespon : Ooh gitu.

Well, secara logis bisa dibilang ini orang kemungkinan nanya tentang pariwisata Bali. Tapi ada 3 kejanggalan :
1. Dia nanya apa itu Bali. Bali itu pulau. End of story;
2. Dari puluhan teman yg berkunjung ke Bali, pertanyaannya pasti spesifik seperti apa aja yg menarik di bali, gimana sih budaya di bali, dll, dsb. Lagian ini mewakili Bali di skala nasional wey, bukan di skala internasional. Kebangetan bgt engga tau Bali sampai perlu nanya apa itu Bali;
3. Ada sesi khusus utk pertanyaan pariwisata, so what the f*ck did he want me to answer?

Sampai detik ini saya masih bingung siapa yg bodoh. Dia atau saya.

Saya balesnya kayak gini:

#1
Q: Me, udah makan belum?
A: Hah? Framework waktunya kapan? Sarapan 4 jam lalu? Atau makan siang? Atau makan yang kemarin malam? Minum energen termasuk nggak? Atau apa?

#2
Q: Me, kerjaan kemarin beres?
A: Hah? Bagian mananya? Ngerancang dokumennya? Ngetik sama ngeditnya? Ngeprint sama ngasih ke supervisor? Proofreadingnya? Atau apa?

#3
Q: Wuuui baru nongol! Kerja di mana sekarang lo?
A: Hah? Cakupannya apa? Bidang pekerjaannya? Nama perusahaannya? Departemennya? Yang dikerjain? Lokasi dinasnya? Atau apa?

#4
Q: Eh, nikahan si Budi kemaren gimana?
A: Hah? Apanya? Desain interior ruangannya? Jumlah tamunya? Kualitas souvenirnya? Makanannya? Atau apanya?

#5
Q: Mbak saya sakit perut obatnya apa?
A: Hah? Sakitnya kenapa? Acid reflux? Maag? Radang usus? Sembelit? Atau apa?

#6
Q: Mbak, obat jerawat yang bagus yang mana?
A: Hah? Jerawat yang gimana? Blackhead? Whitehead? Luka bekas jerawat? Basis obatnya apa? Benzoyl peroxide? Asam salisilat? Atau apa?

– – – – –

Ada jurang cara-komunikasi yang sangat, sangat lebar antara anak teknik dan anak “servis”. Anak teknik menjawab pertanyaan, anak servis MERESPONS pertanyaan. Kenapa? Karena anak servis bisa melihat apa yang tersirat dari pertanyaan itu dan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh orang yang nanya.

Kalo tiba-tiba ada cewek, temen-sekelas-kuliah yang hari Sabtu siang nanya lewat WhatsApp, “Hey gue tadi liat lo di GI lho! Belanja apaan?”, dia sebenernya sama sekali nggak tertarik tahu lo beneran belanja apa. Dia sedang bosen dan pengen keep-in-touch dengan temen-temen lama, dan mungkin sedang eksplorasi kemungkinan hubungan romantis.

Jadi jawaban kita harusnya bukan “Hai. Iya nih gw beli kacamata baru”, melainkan “Heei! Waah lo tadi di Gi juga?! Eh, besok lo kosong nggak? Jalan yuk!”

Kalo, misalnya kita anak IT, terus pas ngobrol sama pemilik peternakan kambing tingkat nasional, dia nanya “Oooh emang ngembangin satu aplikasi kayak di proyek kamu sebelumnya gitu berapaan?”, itu sebenarnya dia nggak tertarik tahu tentang proyek lo sebelumnya. Dia lagi punya ide buat peternakannya dan benchmarking harga bikin aplikasi.

Jadi jawaban kita harusnya bukan “Oh, waktu itu buat modul X harganya Rp A, buat modul Y harganya Rp B, modul C harganya Rp C.” melainkan “Wah! Bapak lagi ada kepikiran aplikasi buat dikembangin? Sama saya aja, Pak! Harga saudara deh.”

Pokoknya, kalau anak teknik tahu caranya ngasih servis dan tahu cara RESPONDING instead of simply ANSWERING, kesempatan yang datang itu akan banyak, BANGET. Dan nggak cuma satu-dua, kesempatan yang datang itu gede-gede!

Makanya Me, belajar servis orang, wkwkwk.

Natural-Language Processing for Duolingo

Ahey! My application to be a Indonesian-English course administrator at Duolingo, arguably the best language-learning website, has been accepted.

I’m honored and passionate to bring bahasa Indonesia to the world. May this be one step closer for bahasa Indonesia to be globally recognized.

This is the correspondence archive:

duolingo-1-acc

And I replied:

duolingo-acc-2I thought it would be too nerdy, haha. But it should be okay, considering they are programmers and would do the same thing anyway. In about 7 hours, this is the reply that I got:

ScreenClip

AWWWYISSSS.

I’m looking forward to hop on board.