Arsip Kategori: IMHO

Ibn Sina, the Elementalist

Terinspirasi dari kiriman Facebook Maria Popova:

For some perspective on Trump’s atrocious Muslim Ban: If the ancient Arab world had banned Western travelers from its borders, we’d have no mathematics, no astronomy, no medicine. See, for instance, the lovely illustrated story of how Persian polymath Ibn Sina shaped modern medicine:

ibnsina2


Ibnu Sina (57 tahun, 980–1037) adalah salah seorang Ravenclaw dari Zaman Emas Islam (502 tahun, 786–1258) yang saya hormati karya-karyanya.

His work, “The Canon of Medicine”, is the 10th century’s “Gray’s Anatomy”. Even though they’re scientifically inaccurate (for example, he said that blood came from liver, whereas according to the current science blood comes from bone marrow), they’re mythologically cool.

(I’ve only read the summaries of these great scientists’ works–mostly through Wikipedia, since I hadn’t time to read, let alone understand, their original manuscripts.)

Jadi Ibnu Sina ini percaya bahwa di dunia ini ada empat unsur: air, api, tanah, udara. Paham “classical elements” ini, di kala itu, adalah “filosofi alam” yang lagi ngetren di dunia sejak dipopulerkan oleh Empedocles (60 tahun, -490–-430) Kombinasi dua elemen akan menghasilkan “sifat” sebagai berikut:

Api + tanah = kering
Tanah + air = dingin
Air + udara = basah
Udara + api = panas

Nah, Ibnu Sina mengklasifikasikan seluruh penyakit, organ tubuh, cairan tubuh, beserta cara pengobatannya, berdasar empat unsur dan empat sifat itu. Menakjubkan, ya? Kalau saya disuruh menggolongkan barang-barang di kantor saya berdasarkan empat elemen, saya kayaknya nggak kuat. :’)

Anyways, sampai sekarang, mitologi 4 classical elements ini masih terpakai luas untuk sastra dan kultur kontemporer. Bahkan bentuk zat (padat, cair, gas, plasma) punya banyak kesamaan atribut dengan classical elements.

(Kecuali di Megaman Battle Network. MMBN pakai elemen Aqua, Heat, Wood, sama Elec. Aqua memadamkan Heat, Heat menghanguskan Wood, Wood mengonsletkan Elec, dan Elec menyetrum Aqua. Iya, saya kangen main GBA.)

Farewell, 2016

It’s been rough. 2016 is painful for many people, including me. Nevertheless, it’s a year full of lesson. Let me express my gratitude towards you all:

farewell-2016

To all people—including myself—whose expectations I couldn’t meet in 2016, I greatly apologize.

I acknowledge my limitations and scarcity of time, energy, and
willpower. I acknowledge my skills—including time management,
task prioritization, risk estimation, communication, and decision-
making in general—have so many rooms for improvement.

2016 has been a rockin’ and humbling teacher. I have been
taking notes every single day, learning what works [and how to
refine them] and what doesn’t [and how to avoid them].
If I’m still indebted to you in any way, please let me know.
I’ll see what I can do about it. Let us be always learning.

Have an Enlightening and Marvelous 2017!

Wit beyond measure is man’s greatest treasure.

Thoughts on 212-Mart

Jadi pasca-pergerakan 212, ada wacana untuk membuat jaringan waralaba 212-Mart. Selengkapnya bisa dilihat di kiriman ini.

Yeeey!

Sebagai seorang neoliberalis yang mendukung persaingan sehat demi memperbanyak pilihan konsumen, saya saaangat senang dengan dibukanya 212 Mart ini serta komitmen para pendirinya untuk menjadikan teknik kelola waserba 212 Mart open-source.

Semoga sustainable [dan ethical] sampai setidaknya 5 tahun ke depan, supaya model bisnisnya bisa ditiru. (Do you know that 80% of business fail in the first year and only 5% can make it to the third year?)

A few concerns, tho, regarding the competitions against Indomaret/Alfamart/Lawson/Sevel:

1. Buka 24-jam. Nama Seven-Eleven asalnya karena tokonya buka jam 7 pagi, tutup jam 11 malem. Tahun ’50-an sih itu jam buka yang udah lama banget. Cuma, karena tekanan kompetisi di US sekarang, warung-warung jadinya buka 24 jam. Apakah yang buka waralaba 212-Mart akan punya cukup biaya operasional untuk ngegaji [secara layak] karyawan yang jaga malam?

2. Reputasi. Tau nggak, di Starbucks itu, kalau kita ngerasa pelayanannya kurang ramah atau tempatnya bau atau kopinya basi atau rotinya jamuran, kita bisa langsung tweet ke Sbux global? Kalau buktinya kuat, mereka akan langsung kirim auditor ke Sbux itu dan nyuruh benerin layanan [dan kita dapat kupon belanja senilai ~1 juta buat ngelaporin]. Bahkan kalau masih nggak bener juga, izin waralabanya bisa dicabut sama pihak Sbux. Ada kualitas minimum yang harus dijaga setiap saat, jadinya konsumen nggak main tebak-tebakan, “Hemmm… Kira-kira kripik buah di sini basi nggak ya? Roti rumahan di sini tepungnya ada campuran cicak/lalat yang nggak sengaja kegiling nggak ya?”

3. Rantai logistik. “Kepastian mendapatkan barang yang kita butuhkan” is a big competitive advantage for convenience store franchise. Ada konsep “opportunity cost” yang kira-kira isinya, “Duh, sial, udah capek-capek jalan ke 212-Mart, barangnya nggak lengkap.” Sistem pelaporan mingguan di *mart menjamin hal seperti ini nggak ada.

Ada beberapa faktor lain seperti pelatihan karyawan, software kasir, sistem audit, riset pasar, keamanan lokasi, modal, pajak, saturasi pasar, tata letak toko, penanganan risiko gagal, ketahanan mental untuk kerja 100 jam seminggu selama belasan bulan, metode promosi, asuransi, teknologi, kompetisi, dan undang-undang perlindungan konsumen. Tapi menurutku sih, sebagai konsumen awam yang tahunya-tinggal-beli, tiga faktor di atas yang signifikan.

Humans Are Smart

So lately people have been accusing each other stupid. I want to emphasize this: No one is stupid.

We can’t blame people for being ignorant or misinformed. We don’t know what we don’t know. Humans, at any given time, will choose the best action according to their knowledge and experience.

For example:

X, an atheist, thinks that most followers of Abrah*mic religions are stupid because they base their spiritual and cosmological knowledge on a fictional being that never existed and books that are historically invalid and morally multi-interpretative.

X goes around telling people of Abrah*mic religions that their books are hoaxes, and instead of wasting time in mosques/churches people should better themselves to help other people and build civilization.

Y, a strong believer of an Abrah*mic religion, thinks that X is stupid because… how come people are not afraid of Hell? Y also thinks billions of people have believed in the (Abrah*mic) G*D and the Books so they must be true and historical/archaeological review is unnecessary. Also, if there’s no G*D, how do people separate “good” from “evil”?

Y tells people to avoid X because X will only bring evil to their life. Y also thinks that X is stupid because X chooses to be different from half the Earth’s population who believes in Abrah*mic religions and scriptures.

Z, an anthropologist-historian, understands that people need religions to feel safe about death and existential crisis. Z understands that religions—particularly, Abrah*mic ones—are made to avoid “tragedy of the commons” in the post-Sumerian Mediterranean civilization where resources are scarce and people are stealing from and killing each other without fearing the consequences.

Z thinks that X and Y are both stupid because they’re missing the point of (Abrah*mic) religions: It’s to control the masses using “appeal to authority”. It’s to create an army that fears no death. It’s to avoid poor people from being suicidal by giving promises that “everything will be better if you follow these rules, at least in the next life”, because suicidal people will make a nation collapse.

Z knows that understanding ethics is hard, thinking takes much time, and people would just rather being told what to do—and free form responsibility—instead of learning about moral-philosophy and making their own choice.

無 thinks that X, Y, and Z are stupid because nothing of their debate will matter in the long-term because we’re going to die anyway.

無 lives a life with low expectations, so it makes 無 happy every day. 無 doesn’t care about what X, Y, and Z think.

I think? I think that all of them make the best actions according to their knowledge. Hence, they are smart.


Tenang, tenang. Status ini nggak bisa dituntut UU ITE 11/2008 soalnya menggunakan karakter lain dan cerita berbingkai dalam mengekspresikan pendapat.

Juga, semua nama dan identifier dikasih sensor. Bisa aja, misalnya, G*d itu dibaca sebagai G-Dragon.

Hukum itu kocak, Guys.

Advokasi Harus Mikirin Fisibilitas

Halo, Sobat Kanan. Di Mojok.co, ada yang nulis tentang bagaimana seharusnya pemerintah Jakarta menghias daerah kumuh bantaran Ciliwung dan bukannya menggusurnya.

Saya ngakak bacanya. Asli. Ini tulisan tipikal anak sosial banget, yang nggak belajar efisiensi, ilmu teknik, dan penghitungan holistik. Tapi tugas kita sebagai anak-anak kanan yang tercerahkan adalah untuk menyadarkan mereka bahwa banyak hal yang harus dipertimbangkan, ‘kan?

Jadi saya ngasih tanggapan di kirimannya, pakai plugin Disqus yang, sayangnya, nggak bisa di-hiperlink langsung tanpa perlu nekan tombol Komentar di bawah kirimannya.


Untuk mempermudah kita semua menyimak diskusi kami sekaligus buat ngisi blog, saya salinin tanggapan saya ke WBS ya.

Halo, Iman! 🙂 Trims udah buka materi diskusi. Oke, saya ngasih pendapat ya.

CILIWUNG
Apa sih hubungan orang pinggir Venesia sama orang pinggir Ciliwung? Emang yang tinggal di pinggir Ciliwung rajin gelar pentas kesenian dan berkontribusi untuk peradaban? Emang orang pinggiran Ciliwung bikin perahu dan punya pasar terapung?

Masyarakat awal hidup di pinggir kali biar gampang dapat air bersih. Setelah ada sistem pengairan, baru mereka pindah ke tengah kota yang punya jalan raya lebih lebar dan tanah lebih kokoh.

Emang Piramida dibangun di pinggir kali? Emang atlas Cina digambar di pinggir kali? Enggak ‘kan? Mereka butuh dukungan infrastruktur yang lebih kuat, aman, dan tahan banjir.

Ini bentuk Ciliwung:

Orang-orang buang sampah sembarangan dan bikin banjir. Coba kalau mereka dipindah ke tengah kota, akses ke fasilitas kebersihan dan jalan raya lebih gampang ‘kan?

Ini bentuk Venesia:

Deretan rumahnya rapi. Dibangunnya nggak cuma nancepin asbes sama balok kayu gampang rubuh. Yang paling penting, orang-orangnya sadar kebersihan.

GRAFITI

Tetapi, setidaknya, grafiti-grafiti tersebut bisa dilihat sebagai upaya yang amat terang dalam memanusiakan orang-orang miskin.

Orang miskin nggak perlu dikasih lukisan. Mereka perlu secara swadaya mendapatkan barang dan jasa untuk meningkatkan kualitas hidup. Nah, setelah kebutuhan dasar terpenuhi, barulah mereka bisa punya kenyamanan untuk menciptakan seni.

MARS
Oke, saya nggak mampu menghancurkan Mars. Elon Musk aja mau ngirim roket meledak terus. Berarti saya pengecut ya di mata kamu? Yaaah. ._. Ya udah deh saya mengakui kepengecutan saya.


Dia bales:

Halo mba. Salam kenal., setelah ahok
Mimpin jkt, saya yang sering mampir k rumah temen dan nginep dipinggir sungai, merasakan betul, jaman ahok air sungai surut. Tapi di usir dan dipindahkan tidak selalu solusi tunggal. Bgtu mba.

Mba, kemiskinan tdk bisa dijabarkan dengan kenyamanan. Bahkan secuil seni bisa membuat keadaan lebih baik, daripd diusir.

Oia, apa kbr kampung deret?


Duh, gw dipanggil “mba”. Sufiks “-ita” itu emang kedengaran feminin sih. Gemes dengan argumen dari dia yang bukan bener-bener argumen, saya bales lagi:

Halo, iya, pemindahan dari daerah kumuh bukan solusi tunggal, tapi itu yang paling efektif untuk jangka panjang, kalau seluruh faktor dihitung.

Penghuni daerah kumuh itu rawan sakit — apalagi balitanya — pas musim hujan kayak gini. Air Ciliwung itu tercemar berat; tinggal di deket sungai kayak gitu bisa menurunkan harapan hidup menjadi cuma 45 tahun — 25 tahun lebih sedikit dari harapan hidup standar Indonesia (70 tahun). Belum lagi kalau banjir, air meluap masuk rumah. Langsung muntaber tuh anak-anaknya.

Waktu sakit, mereka bakal ke RS pakai Kartu Sehat ‘kan? Nah, dokter dan suster yang jumlahnya terbatas itu kewalahan. Obat habis. Kamar RS penuh. Antrean ratusan orang sampai tengah malam. Kimia Farma nggak mampu suplai obat generik, walaupun terus disubsidi APBN. APBD ratusan juta rupiah habis buat menyehatkan penghuni pinggiran Ciliwung. Lah, mendingan APBD dialokasiin buat pendidikan sama ngurusin anak terlantar Jakarta.

Lagipula, emang pinggiran Ciliwung mau diperindah kayak gimana? Kalau arsitek dan anak sipil ditanyain gimana cara bikin rumah pinggiran Ciliwung lebih indah, 100% dari mereka akan bilang “harus dibongkar dulu”. Habis itu dianalisis fisibilitas pembangunannya.

Geotechnical engineering itu nggak gampang. Renovasi pinggiran sungai itu bukan proyek yang murah dan sebulan-jadi. Ngitung kekuatan tanah buat dipasangin fondasi itu pakai rumus integral lipat tiga. Ngitung volume air per menit itu beda per 25-meter ruas sungai. Ngitung kestabilan lereng sungai itu perlu mempertimbangkan cuaca, mekanika batuan, beban transien, tekanan tanah lateral, sama tekanan pori air.

Bikin infrastruktur di pinggir kali itu riskan. Salah itung, nyawa orang ilang. Kalau mau aman ya datengin spesialis infrastruktur. Kalau mau amaaan banget ya larang orang tinggal di pinggir badan air.

Lalu, Ciliwung itu banjir terus karena harusnya pinggiran Ciliwung ditanamin pohon. Air hujan langsung jadi air permukaan, nggak diserap tanah; itu karena penggundulan hutan dan pembuangan sampah rumahan oleh masyarakat sekitar. Jadi, menghitung segala aspek, pemindahan penghuni pinggiran Ciliwung ke rusun itu adalah solusi paling efektif, efisien, aman, dan nyaman untuk semua orang. (Dampak buruknya adalah terpisah dari tetangga yang udah kenal bertahun-tahun, dan harus jalan lebih jauh ke tempat kerja. Tapi itu dapat diabaikan relatif terhadap manfaat yang didapat Jakarta.)

Untuk bisa berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya, kita harus punya model yang akurat tentang cara kerja dunia. Niat baik aja nggak cukup; fokus pada satu aspek bisa bikin aspek lain keteteran. Advokasi itu harus mikirin fisibilitas. Makanya belajar engineering dong, supaya bisa jadi insan solutif yang seutuhnya, yang bisa nyelesaiin masalah secara kontekstual, bukan cuma modal kasihan doang.