Thoughts on 212-Mart

Jadi pasca-pergerakan 212, ada wacana untuk membuat jaringan waralaba 212-Mart. Selengkapnya bisa dilihat di kiriman ini.

Yeeey!

Sebagai seorang neoliberalis yang mendukung persaingan sehat demi memperbanyak pilihan konsumen, saya saaangat senang dengan dibukanya 212 Mart ini serta komitmen para pendirinya untuk menjadikan teknik kelola waserba 212 Mart open-source.

Semoga sustainable [dan ethical] sampai setidaknya 5 tahun ke depan, supaya model bisnisnya bisa ditiru. (Do you know that 80% of business fail in the first year and only 5% can make it to the third year?)

A few concerns, tho, regarding the competitions against Indomaret/Alfamart/Lawson/Sevel:

1. Buka 24-jam. Nama Seven-Eleven asalnya karena tokonya buka jam 7 pagi, tutup jam 11 malem. Tahun ’50-an sih itu jam buka yang udah lama banget. Cuma, karena tekanan kompetisi di US sekarang, warung-warung jadinya buka 24 jam. Apakah yang buka waralaba 212-Mart akan punya cukup biaya operasional untuk ngegaji [secara layak] karyawan yang jaga malam?

2. Reputasi. Tau nggak, di Starbucks itu, kalau kita ngerasa pelayanannya kurang ramah atau tempatnya bau atau kopinya basi atau rotinya jamuran, kita bisa langsung tweet ke Sbux global? Kalau buktinya kuat, mereka akan langsung kirim auditor ke Sbux itu dan nyuruh benerin layanan [dan kita dapat kupon belanja senilai ~1 juta buat ngelaporin]. Bahkan kalau masih nggak bener juga, izin waralabanya bisa dicabut sama pihak Sbux. Ada kualitas minimum yang harus dijaga setiap saat, jadinya konsumen nggak main tebak-tebakan, “Hemmm… Kira-kira kripik buah di sini basi nggak ya? Roti rumahan di sini tepungnya ada campuran cicak/lalat yang nggak sengaja kegiling nggak ya?”

3. Rantai logistik. “Kepastian mendapatkan barang yang kita butuhkan” is a big competitive advantage for convenience store franchise. Ada konsep “opportunity cost” yang kira-kira isinya, “Duh, sial, udah capek-capek jalan ke 212-Mart, barangnya nggak lengkap.” Sistem pelaporan mingguan di *mart menjamin hal seperti ini nggak ada.

Ada beberapa faktor lain seperti pelatihan karyawan, software kasir, sistem audit, riset pasar, keamanan lokasi, modal, pajak, saturasi pasar, tata letak toko, penanganan risiko gagal, ketahanan mental untuk kerja 100 jam seminggu selama belasan bulan, metode promosi, asuransi, teknologi, kompetisi, dan undang-undang perlindungan konsumen. Tapi menurutku sih, sebagai konsumen awam yang tahunya-tinggal-beli, tiga faktor di atas yang signifikan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s