Siapa yang Sesungguhnya Modern? Kalian atau Mereka?

(Catatan: balasan satir untuk salah satu post di Mojok.)

Minggu ini, saya mendapat kehormatan menerima kunjungan dari teman-teman saya, Orang Rimba. Awal minggu, mereka bertemu dengan seorang teman saya yang sudah beberapa tahun mengabdi sebagai pengajar di Rimba. Akhir minggu, kelompok Orang Rimba—komunitas masyarakat adat di Jambi—tersebut menyempatkan diri bertemu dan keliling Jakarta bersama saya.

Dari Orang Rimba, saya mendapat banyak pelajaran, terutama tentang hasrat-hasrat alami setiap orang dan bagaimana peradaban bisa terbangun karenanya. Kemampuan saya mengenal jati diri manusia terasah lewat pertanyaan-pertanyaan polos mereka tentang Jakarta dan usaha mereka membandingkan budaya kota dengan budaya Suku Anak Dalam.

Banyak yang merasa Orang Rimba terbelakang, primitif, dan tidak ingin maju. Nyatanya? Gaya hidup mereka lebih progresif dari yang kita kira. Walaupun secara budaya mereka memilih untuk jauh dari teknologi, cara pikir mereka tidak jauh beda dengan orang kota. Saya pikir, hingga tingkat tertentu, keinginan saya untuk maju dan menjadi lebih baik justru semakin terasah usai belajar dari mereka yang dianggap primitif itu.


Pengusahaan dan Pengelolaan Harta Pribadi

Hari pertama saya dan Orang Rimba jalan-jalan di Jakarta, kami terjebak di tengah kerumunan kendaraan Jakarta. Bersebelas, kami berdesak-desakan dalam sebuah mobil yang harusnya hanya berisi delapan orang.

Betulus, salah seorang Orang Rimba di kelompok kami, tercengang melihat keramaian Jakarta. “Oki Oki Oki,” Lus mengguncang bahu saya dari kursi belakang, “Apa tidak capek orang Jakarta di jalanan? Kenapa mobilnya sebanyak ini?”

Saya membalasnya, “Kalau Indonesia itu desa, Jakarta itu pasarnya—pasar yang besaaar sekali. Gedung di kanan-kiri kita itu lapak-lapaknya. Tiap hari, pagi sampai sore sampai pagi lagi, pasar ini selalu ramai. Bedanya, pasar di Rimba menjual buah dan periuk dan kain, pasar di Jakarta menjual tenaga dan pikiran dan kepuasan.”

Ketika menoleh ke kanan, kami melihat bis TransJakarta yang dengan sigap mengangkut orang-orang agar tidak terjebak macet di jalur utama. Ganti menoleh ke kiri, tampak sebuah sedan berkualitas tinggi yang hanya diisi seorang penumpang saja. Pengendum, Orang Rimba tulen, lantas bertanya, “Oki, kenapa mereka yang desak-desakan di bis itu nggak pindah ke mobil-mobil lain yang masih banyak tempat kosong?”

“Karena arahnya beda, Ndum,” saya menjawab seadanya, sambil berpikir cara berkontribusi menyelesaikan Braess’ Paradox di Jakarta ini selain dengan menggunakan transportasi publik.

Pengendum mengangguk-angguk, meneruskan memandangi jalanan Jakarta dan mobil-mobil yang berjajar rapi. “Tapi Oki,” hasrat ingin tahu Ndum mencuat lagi, “kalau arah jalannya sama, apakah mereka bisa masuk ke mobil-mobil itu?”

“Bisa. Mereka sering kok berbagi tumpangan. Orang Jakarta menyebutnya nebeng. Bahkan ada orang-orang yang baik hati merubah arah jalan mobilnya untuk mengantarkan orang lain ke tempat tujuannya.”

“Baik sekali orang-orang yang mau merubah arah jalannya itu.”

“Jakarta jadi sebesar ini karena semua orang saling percaya, saling membantu, dan saling berterima kasih, Ndum. Penumpang pun berterima kasih kepada pengantarnya dengan cara memberi uang.” Saya menunjuk mobil lain jenis city compact car yang melaju di kiri kami, “Tapi, ada juga orang kota yang ingin sendirian dalam mobilnya, tidak membolehkan orang lain menumpang mobil mereka.”

“Gila orang kota, begitu saja nggak boleh. Egois.”

“Hemmm… Mobil itu ‘kan mirip ambung (keranjang rotan segi empat -pen), Ndum. Gunanya untuk mengangkut barang yang akan dijual. Nggak ada ‘kan pedagang di pasar yang bilang ke pedagang lain, ‘Tolong angkutkan barang daganganku,’ kecuali kalau dibayar?”

Saya melihat Pengendum mencibir sambil mendengus kecil. Dalam hati, dia bersikukuh dengan pendapatnya bahwa, bagaimanapun, orang kota lebih egois ketimbang Orang Rimba.

Saya berusaha membela orang kota, “Semua manusia itu egois, Ndum. Jaraknya saja yang beda. Orang-orang menjadi paling egois saat mereka ada di tengah pasar. Yaaa, asal keegoisan kita tidak merugikan orang lain, ‘kan, nggak apa-apa.”

“Tapi mobilnya banyak kursi kosong, kenapa tidak dipakai bersama-sama? Kenapa ada orang beli mobil untuk dipakai sendiri saja?” Betulus, yang sepertinya dari tadi menguping, ikut unjuk rasa penasarannya.

“Coba bandingkan. Di kepercayaan Orang Rimba, ada dua jenis harta: harto besamo dan harta sendiri. Untuk harto besamo—pohon rotan, damar, jernang, dan balam—semua orang boleh menggunakannya. Wilayah perburuan juga termasuk harto besamo. Siapa saja boleh berburu di wilayah mana pun. Sungai juga. Semua orang bisa minum dari alirannya. Begitu juga hewan-hewan hutan. Tidak ada hewan yang menjadi harta sendiri kecuali anjing yang dipelihara. Di sini, harto besamo itu bentuknya rumah sakit, lapangan bola, jalan raya, bus Transjakarta, dan sungai-sungai beserta daerah pinggiran sungai. Orang Jakarta menyebutnya fasilitas publik.”

Pengendum dan Betulus menatap saya seperti murid menunggu pelajaran guru. “Ha. Now we’re talking,” kata saya dalam hati. Saya yakin teman-teman lain di mobil juga sebenarnya sedang mendengarkan.

“Harto tidak besamo atau harto sendiri, pemakaiannya sepenuhnya dalam kuasa pemiliknya. Jika orang lain ingin menggunakan, harus minta izin kepada sang pemilik. Kalau di Rimba, contoh harto sendiri adalah semua barang yang dibeli, kerajinan yang dibuat, tanaman yang ditanam, tanah yang sudah dibuka, pohon sialang dan pohon buah yang dipunyai. Punya banyak harto sendiri bukan berarti egois; itu artinya dia bekerja keras untuk mendapatkannya dan mampu mengurusnya.”

Betulus menimpali, “Aku sepakat. Justru menurutku orang egois adalah orang yang memperlakukan harto besamo seolah sebagai harto sendiri, sehingga orang lain tidak bisa menikmati hasil harto besamo. Oki, apa di Jakarta ada orang seperti itu?”

Saya tertawa mendengar kata-kata Betulus. Dia cerdas—mengerti bahwa tiap masyarakat punya masalah yang mirip. Belakangan, orang Jakarta memang sedang meributkan mana yang harto besamo mana yang harto sendiri.

“Di dalam bus TransJakarta,” contoh terdekat ada di kanan kami, “kadang ada orang berniat turun di halte paling jauh tapi berdiri paling dekat pintu keluar. Pintu jadi sempit dan orang makin susah keluar-masuk.”

Saya lanjut berpikir, mencari contoh lain yang ada hubungannya dengan alam, “Sungai itu harto besamo. Nah, di pinggiran salah satu sungai Jakarta, ada orang-orang yang membangun rumah yang membuat aliran sungai terhambat. Waktu hujan deras, seluruh kota banjir karena mereka. Namun, waktu warga meminta orang-orang itu pindah supaya tidak banjir lagi, orang-orang itu bersikeras bahwa rumah mereka adalah harto sendiri karena mereka sudah berpuluh tahun tinggal di situ.”

Saya merangkum kembali berita-berita yang saya baca seminggu terakhir, “Sempat terjadi perang kecil dengan berbagai senjata dan mobil-mobil besar. Memang tidak separah perang antara Orang Rimba dengan orang Desa Kungkai yang bikin belasan orang mati, tapi tetap saja membuat suasana Jakarta tidak damai.”

“Dan orang Jakarta menyebut apa kepada orang-orang seperti itu, Oki?” Betulus berusaha melengkapi pengetahuan di kepalanya dengan istilah-istilah Jakarta.

Sambil menguap ngantuk, saya menjawab sembarangan, “Douchebag.”


Penjagaan Sumber Daya yang Berkesinambungan, tapi…

Hari kedua kami bersama, saya menemani mereka tamasya ke Kota Tua. Sebenarnya, di awal minggu, mereka sudah mampir ke wilayah objek wisata ini bersama teman saya yang pengajar Orang Rimba tadi; namun, rasa penasaran yang kuat membuat mereka meminta saya menemani mereka datang lagi ke sini.

Saya kagum dengan rasa keingintahuan mereka. Mereka modern. Banyak orang kota yang berhenti membaca buku seusai kuliah, kemudian tiba-tiba mengeluh marah ketika tidak ada perusahaan yang membutuhkan kemampuannya. Padahal, zaman berganti dan kebutuhan manusia berubah.

Namun Orang-Orang Rimba—setidaknya yang ada di rombongan melancong saya ini—punya hasrat belajar yang tinggi. Saya yakin mereka akan membawa pengetahuan ini kembali ke kampung mereka dan membuat hidup Orang Rimba lebih baik.

Saat di jalan menuju Pelabuhan Sunda Kelapa, kami menyeberangi sebuah sungai. Kali ini Menosur, adik dari Pengendum, bertanya, “Oki, orang di sini ambil air minumnya di mana?”

“Dari sebuah mata air di tenggara, Sur. Danau besar. Setengah hari jaraknya dari sini kalau naik mobil. Orang Jakarta menyebutnya ‘Waduk Jatiluhur’. Airnya disalurkan lewat pipa besar ke tengah kota.”

Menosur memandangi sungai, lalu memicingkan mata sambil menggeleng, “Baguslah. Kirain dari sungai ini. Kotor, banyak sampah, nggak kayak sungai di kampung kami, bersih, bisa langsung diminum.” Saya paham kekecewaannya. Bagi Suku Anak Dalam, sungai itu suci dan merupakan sumber utama kehidupan.

Namun, sebagai orang yang sejak remaja tumbuh di kota, saya berkilah, “Hahaha. Kalaupun sungai ini tidak ada sampahnya, tetap tidak akan ada yang mau minum dari sini, Sur.”

“Kenapa? Kalau sungai tidak ada sampahnya, airnya ‘kan bisa diminum langsung?”

“Nggak semua yang tampak bersih bisa dimakan dan diminum langsung, Sur. Ingat waktu kita memetik buah rambai di Rimba? Dari luar ranum dan empuk. Ternyata di dalamnya ada anai-anai. Bahkan rambai yang dipetik oleh Betulus, setelah dilihat jeli, ada telur ulatnya. Kalau sampai termakan, aduh, bisa sakit perut seminggu.”

Menosur menatap saya, matanya menunggu penjelasan lanjutan. Saya bisa menebak isi kepalanya: apa hubungannya air sungai dengan buah rambai?

Oke, sepertinya analogi saya yang tadi kurang tepat. Saya coba mencari kiasan yang lebih tepat tentang sungai perkotaan, “Di air sungai Jakarta, hidup hewan-hewan yang keciiil sekali. Hewan-hewan ini membuat orang demam, sakit perut, mudah lelah, batuk, dan pusing. Apalagi kalau sampai diminum anak kecil—dia bisa sakit bahkan mati.”

Kening Menosur mengernyit. Sekali lagi, saya bisa membaca isi kepalanya: apa orang Jakarta perutnya selemah itu sampai-sampai tidak sanggup minum air sungai barang sedikitpun?

Saya memutar otak, mencari contoh yang sering Menosur temui di Rimba supaya mudah dijadikan perbandingan. Saya menundukkan kepala, menusuk-nusukkan kedua telunjuk ke pelipis. Rasanya sulit menemuk— Oh! Aha!

“Sur, di Rimba, kita juga kadang minum air dari akar-akar gantung ‘kan? Akar gantung itu kita potong. Dari potongan itu mengalir air yang bisa diminum. Airnya tidak banyak, tapi menyegarkan. Kadang, kalau beruntung, kita dapat air yang rasanya manis. Tapi, kalau minum air akar gantung, kita selalu merasa air itu agak sepat, karena airnya bercampur getah pohon. Karena itu, kita tidak boleh minum banyak-banyak supaya tidak sakit perut. Seperti itulah kira-kira air sungai di Jakarta.”

Mata Menosur menjinak, puas atas jawaban barusan—tapi tidak lama. Melirik kembali sungai, dia bertanya lagi, “Ini sengaja orang-orang buang sampah di sungai?”

“Iya, banyak yang seperti itu. Kenapa?”

“Katanya orang kota sekolah, lebih pintar dari kami, sekolahnya tinggi-tinggi, kok buang sampah saja masih di sungai.”

“Karena sungai di sini bukan penopang kehidupan, Sur. Air minum orang Jakarta asalnya dari Waduk Jatiluhur. Nah, danau raksasa itulah yang disucikan dan dijaga dengan sangat baik. Semuanya asri dan bersih. Bening. Sejuk. Indah. Kalau ada waktu mungkin kita harus main ke sana.”

Kelopak mata Menosur berkedip-kedip. Dia berkacak pinggang sambil memiringkan kepala, mengisyaratkan otaknya sedang mengolah. “Tapi kalaupun sungai Jakarta tidak dijadikan air minum, kenapa tidak dijaga? Kenapa penuh sampah?”

“Salah satunya karena malas, Sur. Karena lebih mudah buang sampah ke sungai daripada membawanya ke tempat sampah. Orang Rimba kalau bingguk (buang air besar -pen) dan pipis juga di sembarang tempat ‘kan?”

“Enak saja. Beda, Ki. Kami tidak pernah mengotori sungai kami.”

“Hem. Bedanya? Coba perjelas.”

“Orang Rimba bingguk di pinggir jalan, di bawah pohon, tidak pernah di sungai. Oh iya, kalau sedang bingguk, teriak ‘aaauuu… aaauuu…’ berulang-ulang supaya tidak kepergok orang yang lewat. Kalau ada yang bingguk di dekat jalan, yang mendengar teriakan itu akan berhenti dahulu sampai suara teriaknya hilang. Artinya, yang sedang bingguk harus terus bersuara sampai selesai. Jika tidak bersuara ketika bingguk dan kepergok, maka denda menanti. Lalu, setelah bingguk, kami becuka (cebok -pen) dengan daun-daun, rumput, atau kulit kayu di sekitar. Kadang pakai akar gantung yang panjang.”

TMI, Sur”, kata saya dalam hati. Too much information. Tapi karena saya orang yang suka mendengarkan cerita orang lain dan terlanjur memintanya bercerita, saya mendengarkan juga.

Saya tersadar sesuatu.

“TUNGGU, SUR. Berarti akar-akar gantung yang kadang kita pakai minum itu mungkin pernah dijadikan alat becuka?!”

“Oki,” Menosur berubah muka menjadi seperti baru makan jeruk asam, “aku jadi tidak mau minum dari akar gantung lagi.”

“…” Saya ikut tersadar setelah dengar penjelasan. “Aku juga.”


Menghargai Seni dan Barang-barang Bermutu Tinggi

Malam hari kedua bersama mereka, saat menginap di sebuah rumah di bilangan Bekasi, saya berbincang dengan beberapa anak Rimba. Mereka rupanya heran melihat penuhnya pakaian di lemari. Keheranan mereka bertambah saat melihat banyaknya piring, gelas, dan sendok padahal penghuni rumah tak lebih dari tujuh orang.

“Oki, kenapa pakaian kalian ini banyak sekali?!”

“Oh, itu. Supaya bisa sering ganti saat kotor. Ada juga pakaian-pakaian yang dipakai di acara dan pertemuan tertentu,” jawab saya sambil menggelar kasur tipis untuk tempat tidur mereka.

“Kalau harus ganti saat kotor kan juga nggak harus sebanyak ini. Satu dipakai, satu dicuci, satu atau dua untuk cadangan, kan cukup. Kenapa juga harus ada pakaian yang macam-macam begitu? Bukannya fungsi pakaian sama, untuk melindungi tubuh. Repot sekali, ribet kalian orang-orang kota ini, suka menyulitkan diri sendiri,” salah satu dari mereka tampaknya pusing dengan banyaknya barang di rumah ini.

Saya hening sejenak. “Ini butuh penjelasan yang agak panjang,” pikir saya. Saya merogoh ransel saya, menuntun jemari berkelana di sela buku-buku dan kabel-kabel. Tak lama, tangan saya menyentuh benda yang dicari. Saya mengeluarkan dan menunjukkannya kepada mereka, sebuah cendera mata yang saya beli dari pasar Anak Dalam: kalung sebelik sumpah.

“Di kota, pakaian bukan cuma pelindung tubuh, tapi juga penghias badan. Orang Jakarta menyebutnya aksesoris.” Sambil menatap mereka, saya menasbih kalung khas Suku Anak Dalam ini, memutar bijinya satu per satu.

// todo riset jenis kapital/aksesoris orang rimba

Emang buat apa? Sebenernya nggak usah pakai kalung dan gelang juga bisa hidup ‘kan?

Karena kamu ingin jati diri.

// todo tulis tentang mainan dan labi-labian dan aksesoris

Kalau pakaian yang untuk melindungi tubuh itu biasanya dipakai waktu malam, waktu nggak ada keperluan untuk bertemu orang. Kaos-kaos yang dipakai waktu malam itu biasanya itu-itu aja.


Menggunakan  Collaborative Consumption
untuk Mengoptimalkan Efisiensi

“Terus kenapa ini piring, gelas, sendok dan perabotan lain banyak sekali. Bukankah kalian cuma sedikit orang saja di rumah?”

“Oh, yang punya rumah ini punya usaha katering, membantu menyediakan perabotan masak dan alat makan untuk orang-orang yang mengadakan pesta. Jadi ”

“Kenapa orang yang mengadakan pesta nggak bawa piring sendiri? Atau dikumpul saja dari rumah-rumah di sekitar yang punya pesta kalau butuh piring banyak? ‘Kan nggak setiap hari butuh piring banyak.”

Saya tertawa terbahak-bahak. Pertanyaan ini cerdas. Anak-anak Rimba ini berbakat jadi ekonom. Walaupun masih secara kasar dan tidak menggunakan istilah baku, mereka mengerti konsep collaborative consumption untuk mengurangi overhead expenses dan memaksimalkan produktivitas.

Anak-anak Rimba ini menjunjung efisiensi, berbeda dengan teman-teman saya di Jakarta yang sering membeli dan menimbun barang tanpa tahu apa gunanya, hanya karena desakan sosial.

// todo rapiin transisi topik

“Kalau dibawa sendiri, repot. Piring-piring bisa tercampur.

// todo sharing economy uberpool nggak semua orang nimbun piring


// todo bawa ke the foundry 88 scbd

“Oki,” Ndum melongo, “gadis-gadis di sini cantik-cantik sekali ya. Giginya utuh-utuh dan bersih, tidak seperti gadis-gadis di desa kami yang giginya keropos semua. Bagaimana caraku untuk berkenalan dengan mereka?”

“Hahaha. Gadis-gadis Orang Rimba giginya hitam dan hilang karena tiap hari makan daging tapi tidak sikat gigi. Makanya, kamu tiap malam harus sikat gigi.”

“Ada mantra pelet?”

“Ada. Ilmu membujuk gadis supaya mau diajak pulang. Orang Jakarta menyebutnya pickup lines. Ampuhnya bukan kepalang.”


// todo gambarin modern/primitif nggak berhubungan dengan moralitas

“Oki.”

“Ya, Ndum?”

“Apakah kami primitif?”

// todo ceritain orang rimba jual kapling sawit buat beli motor jual tanah yang dikasih pemerintah karena tekanan sosial karena dia malas

“Tergantung siapa yang memandang, Ndum.”

“Biarawan primitif. Mereka dasar.”‘

“Tapi orang-orang jahat.”

“Makanya kita harus bekerja. Jika kita mengerjakan hal yang tepat, Ndum, hasil kerja kita adalah karya kita. Kita membantu orang lain menyelesaikan masalah dan memenuhi kebutuhan mereka. Dari situlah kita mendapatkan penghargaan. Penghargaan ini bisa ditukar dengan barang-barang yang membuat hidup kita menjadi lebih baik.”

“Oki, kamu sendiri bekerja apa?”

“Aku seniman, Ndum. Pengrajin. Pencipta. Aku bekerja dengan mengendalikan aliran alam. Lihat, mesin-mesin ini. Bisa digenggam.”

“Aku mempelajari dan menata ulang aliran energi di dalam mesin, menjadikan mesin-mesin ini bermanfaat bagi hidup orang lain. Beberapa orang menyebutku penyihir. Tapi aku yakin itu karena mereka belum tahu saja penjelasan di balik cara kerja mesin-mesin ini, hahahaha.”

“Orang Jakarta menyebutnya apa?”

Software engineer.


Esai ini mengandung cerita di dalamnya. Sebagian dari cerita tersebut hanya fiktif belaka, untuk membantu menyampaikan gagasan dari esai utama. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian, ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s