w1nomagczv

Advokasi Harus Mikirin Fisibilitas

Halo, Sobat Kanan. Di Mojok.co, ada yang nulis tentang bagaimana seharusnya pemerintah Jakarta menghias daerah kumuh bantaran Ciliwung dan bukannya menggusurnya.

Saya ngakak bacanya. Asli. Ini tulisan tipikal anak sosial banget, yang nggak belajar efisiensi, ilmu teknik, dan penghitungan holistik. Tapi tugas kita sebagai anak-anak kanan yang tercerahkan adalah untuk menyadarkan mereka bahwa banyak hal yang harus dipertimbangkan, ‘kan?

Jadi saya ngasih tanggapan di kirimannya, pakai plugin Disqus yang, sayangnya, nggak bisa di-hiperlink langsung tanpa perlu nekan tombol Komentar di bawah kirimannya.


Untuk mempermudah kita semua menyimak diskusi kami sekaligus buat ngisi blog, saya salinin tanggapan saya ke WBS ya.

Halo, Iman!🙂 Trims udah buka materi diskusi. Oke, saya ngasih pendapat ya.

CILIWUNG
Apa sih hubungan orang pinggir Venesia sama orang pinggir Ciliwung? Emang yang tinggal di pinggir Ciliwung rajin gelar pentas kesenian dan berkontribusi untuk peradaban? Emang orang pinggiran Ciliwung bikin perahu dan punya pasar terapung?

Masyarakat awal hidup di pinggir kali biar gampang dapat air bersih. Setelah ada sistem pengairan, baru mereka pindah ke tengah kota yang punya jalan raya lebih lebar dan tanah lebih kokoh.

Emang Piramida dibangun di pinggir kali? Emang atlas Cina digambar di pinggir kali? Enggak ‘kan? Mereka butuh dukungan infrastruktur yang lebih kuat, aman, dan tahan banjir.

Ini bentuk Ciliwung:

Orang-orang buang sampah sembarangan dan bikin banjir. Coba kalau mereka dipindah ke tengah kota, akses ke fasilitas kebersihan dan jalan raya lebih gampang ‘kan?

Ini bentuk Venesia:

Deretan rumahnya rapi. Dibangunnya nggak cuma nancepin asbes sama balok kayu gampang rubuh. Yang paling penting, orang-orangnya sadar kebersihan.

GRAFITI

Tetapi, setidaknya, grafiti-grafiti tersebut bisa dilihat sebagai upaya yang amat terang dalam memanusiakan orang-orang miskin.

Orang miskin nggak perlu dikasih lukisan. Mereka perlu secara swadaya mendapatkan barang dan jasa untuk meningkatkan kualitas hidup. Nah, setelah kebutuhan dasar terpenuhi, barulah mereka bisa punya kenyamanan untuk menciptakan seni.

MARS
Oke, saya nggak mampu menghancurkan Mars. Elon Musk aja mau ngirim roket meledak terus. Berarti saya pengecut ya di mata kamu? Yaaah. ._. Ya udah deh saya mengakui kepengecutan saya.


Dia bales:

Halo mba. Salam kenal., setelah ahok
Mimpin jkt, saya yang sering mampir k rumah temen dan nginep dipinggir sungai, merasakan betul, jaman ahok air sungai surut. Tapi di usir dan dipindahkan tidak selalu solusi tunggal. Bgtu mba.

Mba, kemiskinan tdk bisa dijabarkan dengan kenyamanan. Bahkan secuil seni bisa membuat keadaan lebih baik, daripd diusir.

Oia, apa kbr kampung deret?


Duh, gw dipanggil “mba”. Sufiks “-ita” itu emang kedengaran feminin sih. Gemes dengan argumen dari dia yang bukan bener-bener argumen, saya bales lagi:

Halo, iya, pemindahan dari daerah kumuh bukan solusi tunggal, tapi itu yang paling efektif untuk jangka panjang, kalau seluruh faktor dihitung.

Penghuni daerah kumuh itu rawan sakit — apalagi balitanya — pas musim hujan kayak gini. Air Ciliwung itu tercemar berat; tinggal di deket sungai kayak gitu bisa menurunkan harapan hidup menjadi cuma 45 tahun — 25 tahun lebih sedikit dari harapan hidup standar Indonesia (70 tahun). Belum lagi kalau banjir, air meluap masuk rumah. Langsung muntaber tuh anak-anaknya.

Waktu sakit, mereka bakal ke RS pakai Kartu Sehat ‘kan? Nah, dokter dan suster yang jumlahnya terbatas itu kewalahan. Obat habis. Kamar RS penuh. Antrean ratusan orang sampai tengah malam. Kimia Farma nggak mampu suplai obat generik, walaupun terus disubsidi APBN. APBD ratusan juta rupiah habis buat menyehatkan penghuni pinggiran Ciliwung. Lah, mendingan APBD dialokasiin buat pendidikan sama ngurusin anak terlantar Jakarta.

Lagipula, emang pinggiran Ciliwung mau diperindah kayak gimana? Kalau arsitek dan anak sipil ditanyain gimana cara bikin rumah pinggiran Ciliwung lebih indah, 100% dari mereka akan bilang “harus dibongkar dulu”. Habis itu dianalisis fisibilitas pembangunannya.

Geotechnical engineering itu nggak gampang. Renovasi pinggiran sungai itu bukan proyek yang murah dan sebulan-jadi. Ngitung kekuatan tanah buat dipasangin fondasi itu pakai rumus integral lipat tiga. Ngitung volume air per menit itu beda per 25-meter ruas sungai. Ngitung kestabilan lereng sungai itu perlu mempertimbangkan cuaca, mekanika batuan, beban transien, tekanan tanah lateral, sama tekanan pori air.

Bikin infrastruktur di pinggir kali itu riskan. Salah itung, nyawa orang ilang. Kalau mau aman ya datengin spesialis infrastruktur. Kalau mau amaaan banget ya larang orang tinggal di pinggir badan air.

Lalu, Ciliwung itu banjir terus karena harusnya pinggiran Ciliwung ditanamin pohon. Air hujan langsung jadi air permukaan, nggak diserap tanah; itu karena penggundulan hutan dan pembuangan sampah rumahan oleh masyarakat sekitar. Jadi, menghitung segala aspek, pemindahan penghuni pinggiran Ciliwung ke rusun itu adalah solusi paling efektif, efisien, aman, dan nyaman untuk semua orang. (Dampak buruknya adalah terpisah dari tetangga yang udah kenal bertahun-tahun, dan harus jalan lebih jauh ke tempat kerja. Tapi itu dapat diabaikan relatif terhadap manfaat yang didapat Jakarta.)

Untuk bisa berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya, kita harus punya model yang akurat tentang cara kerja dunia. Niat baik aja nggak cukup; fokus pada satu aspek bisa bikin aspek lain keteteran. Advokasi itu harus mikirin fisibilitas. Makanya belajar engineering dong, supaya bisa jadi insan solutif yang seutuhnya, yang bisa nyelesaiin masalah secara kontekstual, bukan cuma modal kasihan doang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s