Dear Mary Jane, I’m Sorry — You Have to Die

Ini adalah respons untuk tulisan Politik Machiavelis Tanggung di Indoprogress. Khususnya untuk para mahasiswa kiri yang tidak mengizinkan Mary dihukum mati.

Edit: Percakapan penuh bisa dilihat di utas Facebook ini.


Dear mahasiswa kiri, nggak semua orang layak hidup. (I feel sooo evil for saying this, but let me bite the bullet and say what many people have been wanting to say but don’t say.) Beberapa orang memberikan kontribusi negatif terhadap masyarakat dan, untuk menjaga masyarakat tetap punya value, beberapa orang ini harus “dihentikan tindakannya”.

Sumber wealth sebuah negara bukan uang, emas, maupun sumber daya alam lainnya, melainkan labor dari warga negaranya. Narkoba, pada umumnya, membuat seseorang tidak bisa memberikan labor yang diperlukan negara untuk berkembang. Iya, 6 juta pecandu narkoba itu memiskinkan Indonesia.

(I’m not against recreational drugs per se. Some high-value people need to consume recreational drugs to improve productivity. Their sum of contribution to the humanity is positive, so they’re needed by their country. But in Mary Jane’s context, she contributes a negative sum of value to our country Indonesia, so she is “dangerous”. MIT OCW has a nice introductory about the nature and politics of drugs: http://ocw.mit.edu/…/sts-062j-drugs-politics-and-…/index.htm)

Menghukum mati Mary Jane itu kayak ngebunuh temen yang kena gigitan zombie. Sedih, tapi harus dilakuin untuk menyelamatkan teman lain yang belum terinfeksi. Kita mengangkat laras senapan dengan berat hati dan bergetar, sambil dalam hati mengasihani Mary yang menjadi korban atas ketidakadilan dunia.

Kalau kalian ingin “menebus” Mary Jane, cara paling ideal adalah dengan mengganti value yang terlanjur dihilangkan oleh Mary Jane. Baik dengan cara ngasih uang kepada pemerintah ataupun dengan menjanjikan bahwa kalian akan menampung dan memperbaiki seluruh pecandu narkoba selama 10 tahun ke depan secara sustainable.

Sayangnya, kalian nggak bisa. Nggak mampu. Nggak punya value. Kalian mahasiswa kiri umumnya nggak punya kemampuan apa pun yang memberi nilai tambah untuk kehidupan manusia. Bisanya cuma protes minta pemerintah nyediain lapangan kerja buat kalian. Lah, gimana bisa ngasih kerjaan ke kalian kalau kalian nggak punya kemampuan yang dibutuhin oleh orang lain?

* pemikiran Machiavelis efek nonton “Train to Busan” *


Tambahan (28 Sep 2016)

Hukuman mati itu irreversible. Kalo salah nggak bisa balik lagi.

Makanya investigasinya harus mendalam. Sama kayak kampus yang mau ngasih sanksi drop out ke mahasiswanya yang ketahuan plagiat skripsi. Mahasiswanya punya hak dong untuk bilang “Pak, saya nggak plagiat! Ini buktinya!”

Nah, di kisah Mary Jane ini, dia udah nggak ada pembelaan apa-apa nih. Dia tahu dari awal risiko mengedarkan narkoba di Indonesia dan tahu bahwa Indonesia sedang sekarat karena brain drain dan orang-orangnya males kerja. Eeeh malah mau ngambil devisa kita.

Harga heroin di Indonesia itu 1-2 juta satu gram. 2.5 juta kalau dijualnya di Bali. Mary Jane jualan 2.3 kg. Itu artinya dia mau ngambil kekayaan negara kita sekitar 5 milyar, tanpa memberikan kontribusi balik apa-apa ke Indonesia.

Bahkan kepala desa yang korupsi aja masih ada efek baiknya lho buat orang-orang setempat, soalnya dengan hasil korupsinya dia mempekerjakan orang-orang setempat untuk bangun rumahnya atau bangun balai desa. Jadinya, anggaran pembangunan desa, walaupun alokasinya nggak seharusnya, tapi muternya masih di desa (dan dalam daerah) itu sendiri dalam bentuk aset bangunan dan penghidupan masyarakat desa. Labor didapatkan. Devisa kita naik.

Mary Jane ini negatif. Maling devisa. Empat milyar rupiah. Rp4.000.000.000. Ngeselin nggak tuh?

Tapi bagaimanapun, dia tetap korban. Korban dari suaminya yang malas kerja, mungkin? Dari anaknya yang cuma bisa minta uang? Dari orang tuanya yang produksi anak tanpa tahu cara mendidik?

Kita nggak membenci dia secara pribadi. Sama kayak kita nggak, secara pribadi, benci temen kita yang udah digigit zombie.

But I’m really sorry. She has to die. As a reminder to others. But I don’t see her as a criminal. She will die a hero. A heroine (no pun intended) for saving sooo many drug addicts from further addiction.

But again, I might be wrong. I don’t know. I have no idea of what’s wrong and what’s right anymore.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s