Sejarah dan Penerapan Hak Kekayaan Intelektual

Alkisah, ratusan tahun lalu, orang miskin susah jadi kaya. Orang yang nggak punya sumber produksi — lahan, tanah, peternakan, tambang minyak, tambang garam — cuma bisa jadi buruh upahan. Sekarang, di era pengetahuan, semua orang bisa jadi kaya tanpa harus punya sumber produksi berbentuk fisik.

Ambil contoh para freelancer-entrepreneur yang jualan produk pengetahuan. Gw bikin ASIK (Aplikasi Sistem Informasi Kesiswaan), bisa dapat puluh-juta per deployment ke SMP/SMA. Temen gw riset setahun sendirian bikin sistem pegas buat mobil, desainnya dibeli Toyota seharga Rp500.000.000 buat bikin Agya. Temen gw lagi, bikin riset sekuensing DNA bareng grupnya buat deteksi kanker usus, dapet berapa milyar pas produk lab mereka dijual ke vendor obat swasta.

Kenapa sih One Piece punya Chopper, Bleach punya Kon, dan Fairy Tail (dan Rave Master) punya Plue? Buat dijadiin plush toys, soalnya target pasar utama shonen adalah cowok. Karakter plush toy adalah intellectual property tambahan yang dibuat supaya para cowok animisme ini bisa ngasih hadiah ke gebetan/pacar/istri mereka.

(Bukan, Franky bukan product placement Coca Cola.)

HAKI itu konsep bisnis. HAKI dipakai oleh para profit-oriented businessman untuk menguasai sumber produksi dan mendapatkan sebanyak mungkin wealth. Ini perbedaan utama Elon Musk dan Steve Jobs, perbedaan Nikola Tesla vs Thomas Edison. Satunya engineer, satunya businessman.

Tesla itu ngelepas semua patennya buat jadi open-source lho! [https://www.tesla.com/blog/all-our-patent-are-belong-you]. Sementara, Steve Jobs, ngambil ide grendel-kunci-rumah buat hapenya aja dipatenin. Terus ada aturan bahwa “OSX hanya bisa dipasang di perangkat dengan label Apple”.

(Makanya bikin Hackintosh itu technically ilegal. Cuma, ini bisa diakalin dengan cara ngasih stiker Apple di PC, terus baru PC-nya dipasangin OSX.)

HAKI itu, sekali lagi, konsep bisnis. Ada perusahaan-perusahaan brengsek yang model bisnis utamanya adalah patent-troll. Jadi mereka brainstorm sebanyak mungkin ide-ide barang dan ide app, tapi patennya nggak diproduksi. Terus mereka secara aktif nyari perusahaan lain yang punya barang mirip dengan paten mereka, terus dituntut deh. Tentu saja, nuntutnya ini nunggu perusahaan-implementer ini untung dulu supaya bisa diperas.

Kenapa Indonesia nggak peduli dengan paten? Karena budaya Indonesia itu kolektivis. Semua untuk satu untuk semua. Intellectual property adalah milik bersama. Sandal Swallow itu kayaknya tiap kabupaten ada pabriknya deh, yang satu sama lain nggak saling kenal.

Nonton film Juragan Cincin (The Lord of the Rings)? Ada roti namanya “lembas”, punyanya bangsa elf, yang satu gigit aja bisa bikin kenyang seharian. Kalau resep roti lembas ini dibawa sama ras manusia, kayaknya bakal dipatenin deh.

Kenapa pemusik komersil — Radja, Peter Pan — cenderung membiarkan lagunya dibajak oleh tukang-VCD-tiga-ribuan-pinggir-jalan? Untuk meningkatkan eksposur. Untuk membiarkan lagunya dinyanyikan pengamen lampu merah. Supaya tawaran manggung makin tinggi.

Hal yang sama terjadi di industri Kpop. AOA sama Trouble Maker itu lagunya di Spotify semua. Naruh lagu di Spotify (atau MelOn) itu royaltinya kecil banget lho. Tapi bukan itu model bisnis Kpop. Model bisnis mereka adalah manggung.

Sementara, Taylor Swift narik lagu-lagunya (thus, her intellectual property) dari Spotify, karena dia spesial. Karena dia adalah satu dari sedikit musisi yang nggak perlu manggung. Dia udah bukan di tahap “cari eksposur”. Model bisnisnya adalah “jualan lagu”. Dan karena model bisnis “jualan lagu” ini terganggu oleh Spotify, Taylor Swift melindungi “intellectual property”-nya.

Intinya, Guys, perusahaan/individu akan menuntut pelanggaran hak paten jika pelanggaran hak paten itu dirasa merusak bisnis. Buat para seniman yang masih dalam tahap cari eksposur, mereka justru “seneng” kalo karya mereka dibajak, dengan syarat bahwa end-consumer tahu bahwa merekalah pembuat karya itu, dan mereka dapat “brand recognition” karena pembajakan ini.

Hukum itu fleksibel. Salah-benar itu konsep manusia. Keadilan itu didefinisikan oleh yang kuat.

a8c96d6c7afd9a22b98ad9dee4363ae9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s