Belajar Servis

Ada temen yang bikin status kayak gini:

Pernah satu kali saya diwawancara ketika hendak mengikuti sebuah kegiatan skala nasional mewakili Bali.

Pertanyaannya : Coba ceritakan apa itu Bali.

Jawaban spontan saya : Hah? Ceritakan apanya? Geografisnya? Pariwisatanya? Budayanya? Atau apa?

Dia hanya merespon : Ooh gitu.

Well, secara logis bisa dibilang ini orang kemungkinan nanya tentang pariwisata Bali. Tapi ada 3 kejanggalan :
1. Dia nanya apa itu Bali. Bali itu pulau. End of story;
2. Dari puluhan teman yg berkunjung ke Bali, pertanyaannya pasti spesifik seperti apa aja yg menarik di bali, gimana sih budaya di bali, dll, dsb. Lagian ini mewakili Bali di skala nasional wey, bukan di skala internasional. Kebangetan bgt engga tau Bali sampai perlu nanya apa itu Bali;
3. Ada sesi khusus utk pertanyaan pariwisata, so what the f*ck did he want me to answer?

Sampai detik ini saya masih bingung siapa yg bodoh. Dia atau saya.

Saya balesnya kayak gini:

#1
Q: Me, udah makan belum?
A: Hah? Framework waktunya kapan? Sarapan 4 jam lalu? Atau makan siang? Atau makan yang kemarin malam? Minum energen termasuk nggak? Atau apa?

#2
Q: Me, kerjaan kemarin beres?
A: Hah? Bagian mananya? Ngerancang dokumennya? Ngetik sama ngeditnya? Ngeprint sama ngasih ke supervisor? Proofreadingnya? Atau apa?

#3
Q: Wuuui baru nongol! Kerja di mana sekarang lo?
A: Hah? Cakupannya apa? Bidang pekerjaannya? Nama perusahaannya? Departemennya? Yang dikerjain? Lokasi dinasnya? Atau apa?

#4
Q: Eh, nikahan si Budi kemaren gimana?
A: Hah? Apanya? Desain interior ruangannya? Jumlah tamunya? Kualitas souvenirnya? Makanannya? Atau apanya?

#5
Q: Mbak saya sakit perut obatnya apa?
A: Hah? Sakitnya kenapa? Acid reflux? Maag? Radang usus? Sembelit? Atau apa?

#6
Q: Mbak, obat jerawat yang bagus yang mana?
A: Hah? Jerawat yang gimana? Blackhead? Whitehead? Luka bekas jerawat? Basis obatnya apa? Benzoyl peroxide? Asam salisilat? Atau apa?

– – – – –

Ada jurang cara-komunikasi yang sangat, sangat lebar antara anak teknik dan anak “servis”. Anak teknik menjawab pertanyaan, anak servis MERESPONS pertanyaan. Kenapa? Karena anak servis bisa melihat apa yang tersirat dari pertanyaan itu dan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh orang yang nanya.

Kalo tiba-tiba ada cewek, temen-sekelas-kuliah yang hari Sabtu siang nanya lewat WhatsApp, “Hey gue tadi liat lo di GI lho! Belanja apaan?”, dia sebenernya sama sekali nggak tertarik tahu lo beneran belanja apa. Dia sedang bosen dan pengen keep-in-touch dengan temen-temen lama, dan mungkin sedang eksplorasi kemungkinan hubungan romantis.

Jadi jawaban kita harusnya bukan “Hai. Iya nih gw beli kacamata baru”, melainkan “Heei! Waah lo tadi di Gi juga?! Eh, besok lo kosong nggak? Jalan yuk!”

Kalo, misalnya kita anak IT, terus pas ngobrol sama pemilik peternakan kambing tingkat nasional, dia nanya “Oooh emang ngembangin satu aplikasi kayak di proyek kamu sebelumnya gitu berapaan?”, itu sebenarnya dia nggak tertarik tahu tentang proyek lo sebelumnya. Dia lagi punya ide buat peternakannya dan benchmarking harga bikin aplikasi.

Jadi jawaban kita harusnya bukan “Oh, waktu itu buat modul X harganya Rp A, buat modul Y harganya Rp B, modul C harganya Rp C.” melainkan “Wah! Bapak lagi ada kepikiran aplikasi buat dikembangin? Sama saya aja, Pak! Harga saudara deh.”

Pokoknya, kalau anak teknik tahu caranya ngasih servis dan tahu cara RESPONDING instead of simply ANSWERING, kesempatan yang datang itu akan banyak, BANGET. Dan nggak cuma satu-dua, kesempatan yang datang itu gede-gede!

Makanya Me, belajar servis orang, wkwkwk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s