french-fries17908686_lrg

Semuanya Dibaperin

Catatan: Buat sarana belajar nulis dan formatting di Medium.com, versi terbaru dari tulisan ini sudah dipindah ke kiriman Medium saya.

Baper. Bawa perasaan.

Aku belum ngerti kenapa fenomena ini sering kualami. Cewek jaman ini gampang bapernya. Ada yang baru diajak naik Kerinci, baper. Baru dipegang tangannya pas nonton konser, baper. Baru dinyanyiin dua lagu pake piano, baper. Baru dikasih bunga sama coklat, baper.

Bertahun-tahun aku mencoba melacak logika di balik kegampangbaperan ini, walaupun berusaha memikirkannya membuatku migrain. Awal tahun ini aku dekat dengan seorang data analyst di sebuah perusahaan asuransi transportasi di Jakarta. Di salah satu sesi kencan di kafe sebelah kantornya, kami pesan sepiring-kecil kentang goreng. Waktu dia ke kamar kecil, aku agak lapar dan makan kentang kami sampai hampir habis. Ketika dia kembali, duduk di sampingku, dan hendak mengambil sisa kentangnya, dia mengernyitkan dahinya dan nyeletuk, “Loh, perasaan tadi masih banyak deh kentangnya?!”

Aku tercekat. Gelas teh di genggamanku hampir merosot.

Pertanyaan darinya membuatku terkesiap, tidak percaya yang baru kudengar, tidak tahu respons yang tepat. Aku baru saja melihat keburukan tersembunyi dari seorang yang selama ini… kukagumi. Apa aku belum benar-benar mengenalnya? Apa pikiranku kurang tajam untuk menangkap pesan-pesan bawah sadar dan bendera merah yang tersirat selama ini? Kenapa aku baru sadar sekarang?

Otakku berkilas-balik ke beberapa minggu lalu. Kami banyak ngobrol di dunia maya, dan sudah saling berbagi beberapa quirk (kebiasaan aneh) masing-masing, mulai dari yang gila sampai yang seram. Salah satunya, dia sebegitu takutnya dengan laba-laba, sampai-sampai tiap kali dia melihat hewan itu di kamarnya, dia berusaha ngobrol dengan sopan meminta laba-laba itu pergi. Dia takut kalau laba-laba itu dibunuhnya, teman-temannya akan tahu dan bergerombol menyerbu kamarnya. Selain itu, dia yakin laba-laba adalah hewan cerdas yang akan pergi kalau kita memintanya pergi. Quirk yang ini membuatku terbahak-bahak.

Quirk yang lain adalah dia suka rasa darah. Tapi bukan artinya dia tiba-tiba menyileti pergelangan tangan untuk bisa minum darah atau beli sekantong darah dari PMI untuk dicampur ke jusnya. Ugh. Yang dia maksud dengan “suka darah” adalah kalau dia masak dan jarinya tergores pisau, dia akan menghisap lukanya sampai pendarahan berhenti. Sinting. Yang ini, walaupun membuat merinding, bisa kumengerti karena aku juga tidak bisa menjelaskan kenapa aku suka bau bensin.

 

Aku masih terdiam. Dia tidak bertanya kedua kalinya tentang kenapa kentang gorengnya tinggal sedikit dan meneruskan mengemil yang tersisa di piring. Aku mengikutinya, mencelupkan potongan kentang di saus bolognese, menuntunnya ke mulutku dan menikmatinya melebur di atas lidah — tapi pikiranku saat itu sudah bukan kentang lagi. Aku merenungkan fakta (yang baru kusadari) bahwa kami ternyata seberbeda ini. Alasan awal ketertarikanku kepadanya adalah logikanya yang kuat, wawasannya yang luas, dan kecerdasannya dalam menyelesaikan masalah dengan cara nonkonvensional. Sekarang aku sadar bahwa mulai hari ini kami tidak bisa meneruskan hubungan ini.

Sifatnya kali ini tak bisa lagi kutoleransi.

Dia makan kentang aja pakai perasaan.

Saat itu juga aku ingin teriak di depan mukanya, “YAELAH MBAK MAKAN KENTANG AJA PAKE PERASAAN?!” tapi niat itu kuurungkan. Bukan hakku untuk menghakimi apa yang dia rasakan, apa yang dia ekspresikan, maupun apa yang dia pertanyakan.

This is absolutely the most disturbing thing I experienced going out with this girl. I know that in every relationship it’s not always sunshine and rainbows; inevitably, there will be bumps in the road, there will be conflicts and compromises. Yet, this one is a trait I cannot overlook… and I cannot compromise.

Akhirnya, sama satu cewek ini aku ill-feel dan — setelah penuh kepura-puraan menyelesaikan satu sesi kencan sebagai bentuk hormat — aku muntaber (“mundur tanpa berita”, dikenal juga dengan ghosting). Ya, kami putus kontak begitu saja.

Buat kamu yang kutinggal tanpa pesan, maaf ya kita harus pisah tidak dengan cara baik-baik; aku memutuskan untuk tidak terlibat hubungan dengan seseorang yang terlalu mengagungkan perasaan. Semoga kamu menemukan orang lain yang mengerti kamu, yang sefrekuensi denganmu dan semua drama dan perasaanmu.

Selama beberapa hari setelah muntaber, aku mengasingkan diri, berusaha menempatkan diri di posisinya dan mencari alasan mengapa dengan mudahnya dia membawa perasaan terhadap hal-hal kecil dalam hidupnya. Mencari kesimpulan rasional sebagai penjelasan kegampang-baperan. Nothing. Zero. Zilch. Nada. Nihil. Aku gagal melihat pondasi semua kebaperan itu.

Fenomena dikelilingi-orang-baper ini tidak berhenti di situ saja. Minggu lalu, aku mau ngisi ulang kartu di Starbucks Cilandak Townsquare sebesar seratus ribu. Barista yang jadi kasirku saat itu, Nia, bertanya tepat seperti ini, “Emm, perasaan baru kemarin malam deh Mas ngisi seratus?”

Aku tercekat. Botol minum di genggamanku hampir jatuh.

Pertanyaan itu lagi.

Tanpa berkedip, aku memandangi Mbak Nia yang sedang mengisi saldo kartuku. Semudah itukah wanita mengukur semuanya dengan perasaan? Sesuci itukah peran “intuisi” dalam hidup mereka? Tidak adakah usaha untuk menggunakan nalar? Tidak adakah tempat untuk logika? Kemarin malamnya aku memang mengisi saldoku, dan dia tahu itu. Dia sangat tahu, karena dia sendiri yang mengisinya. Dia bisa saja tanpa ragu mengucapkan, “Kemarin ‘kan saldonya baru diisi?!”, tapi kenapa dia masih berlindung di balik alasan rapuh bernama “perasaan”?

Sepertinya, bagi kalian, “perasaan” sudah turun derajat menjadi kambing hitam, pintu keluar untuk menutupi keputusan-keputusan tidak logis.

Aku menarik nafas dalam untuk bisa kembali ke dunia nyata. Sembari tersenyum aku jawab, “Ah enggak kok Mbak, cuma perasaan Mbak aja.” Lalu aku memesan susu teh-hijau dingin, seperti biasa.

 

Jakarta, 23 Maret 2016
Dari seorang yang mencintaimu dengan logika

4 thoughts on “Semuanya Dibaperin”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s