e19d86c5-31dd-488c-9fad-b5c80f8f8728_169

Kenapa Gojek Dilarang dan Dibolehkan Lagi

Kemarin malam, headline berita berjudul

Pemerintah Resmi Larang Layanan Ojek Daring Beroperasi

jadi materi media sosial di mana-mana. Lalu pagi ini, berita yang tersebar adalah:

“Ojek dan transportasi umum berbasis aplikasi dipersilakan tetap beroperasi sebagai solusi sampai transportasi publik dapat terpenuhi dengan layak,” kata Jonan di Jakarta, Jumat (18/12/2015).

Jadi kenapa seorang menteri progresif, Ignatius Jonan, menolak memberikan kesempatan bagi ekonomi inovatif seperti Uber dan Gojek untuk berkembang di Indonesia? Kemungkinan besar, Menhub dapat tekanan dari Blue Bird. Blue Bird, yang udah mendominasi transportasi di Indonesia sejak 1972, kehilangan pemasukan mereka sebesar 50% karena disruptive economy semacam Gojek dan Uber.

Seorang supir Blue Bird harus dapat minimum Rp700.000,00 sehari untuk bawa pulang Rp100.000,00. Sebelum Uber dan Gojek, supir taksi Blue Bird dengan mudah dapat 700-1000 ribu rupiah tiap hari. Sekarang, untuk mendapat 600 ribu rupiah saja sudah sulit. Ini menyebabkan supir-supir Blue Bird berjamaah mengundurkan diri. Dan, berhubung armada-armada taksi Blue Bird dibeli menggunakan pinjaman bank dan harus dicicil, Blue Bird akan sangat-sangat rugi kalau pemasukan menurun, plus supir mereka ngundurin diri. Armada akan taksi menganggur.

Tapi tentu saja rakyat akan teriak kalau Gojek dimatikan. Bahkan, Jokowi “memarahi” Menhub ketika mendengar Gojek dilarang, dan langsung memberi perintah untuk mencabut larangan tersebut.

presiden-jokowi-panggil-menhub-jonan-karena-melarang-gojek-pertamax7-com

Jadi, bagaimana Blue Bird bisa tetap menjaga bisnis mereka berjalan? Satu-satunya langkah legal dan adil adalah membuat aplikasi ojek mereka sendiri, atau mengakuisisi salah satu kompetitor Gojek. Toh, Blue Bird sudah punya nama, sehingga tidak perlu branding untuk bisa masuk ke pasar.

Tapi dengan tingkat penetrasi pasar saat ini, sangat sulit bagi Blue Bird untuk membuat pengguna Gojek pindah ke aplikasi taksi milik Blue Bird, kecuali kalau Blue Bird:

  1. bikin harga yang lebih kompetitif ketimbang Gojek;
  2. bikin fitur yang bisa benar-benar menarik pengguna Gojek untuk pindah dan menggalakkan consumer loyalty; atau
  3. ngasih insentif lebih buat driver Gojek supaya pindah ke Blue Bird, karena punya sistem bagus tapi nggak ada supirnya itu sama aja boong.

Oh, ngomong-ngomong, tahukah kamu siapa Ketua Organisasi Angkutan Darat? Direktur PT Blue Bird.

Lalu kenapa Gojek tidak membeberkan kepada publik bahwa semua ini agenda “jahat” Blue Bird dan Organda?

Because confronting Blue Bird publicly will trigger a nasty war. A bloody one. To the point that Blue Bird will hire a stuntman to enlist as a Gojek driver, pay him a lot to make him have an accident, and pay the media a lot to expose that case.

We don’t want that to happen.

(Disclaimer: Opini ini ditulis dengan kasar, tanpa mengacu pada data terbaru. Gojek dan Blue Bird adalah merek dagang di bawah perusahaan masing-masing. Saya tidak punya hubungan dengan Gojek maupun dengan Blue Bird.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s