Courtesy: Wikimedia

Dear Diare

Dear Diare
Malam ini kamu kembali hadir
Memaksaku membersihkan kupu-kupu
yang sekian lama hidup di lambungku

Dear Diare
Malam adalah sesuatu yang mengagumkan, bukan?
Tanpa dingin dan heningnya malam
ide-ide di otak seperti mulut tanpa lidah, pena tanpa tinta
Tidak ada artinya

Hanya dalam sepinya malam
Para insinyur dan ilmuwan menjadi pujangga dadakan
Mencerna seharian pengalaman, merangkum dengan bijak
Hanya dalam heningnya malam
Aku bisa khidmat mendengar suaramu
Merasakan kehangatan yang kau beri

Dear Diare
Bersamamu, aku adalah anak kecil yang ingin tahu segalanya
Yang tangannya sigap mengapresiasi pengetahuan di sekelilingnya
Meraih botol sampo dan tabung odol terdekat
Mencoba menghafal semua nama bahan yang selama ini tidak kupedulikan

Satu jam saja bersamamu, aku menjadi filsuf besar Yunani
Mempertanyakan semua yang kubaca pagi ini
“Lalu, cinta seperti apa yang orang-orang itumiliki?
Yang konon menjadi dasar sebuah komitmen institusi mahamegah bernama pernikahan?
Mengapa mereka begitu bernafsu menguasai satu sama lain,
seperti sekumpulan tunawisma berebutan lahan membabi buta
berlomba untuk menancapkan plang tanda hak miliknya masing-masing?
Bisakah cinta yang sedemikian agung hidup terkaveling-kaveling?
Berarti, apa artinya semua itu? Hanya legalisasi bercintakah? SIM resmi untuk kegiatan ranjang?
Kepentingan sensus penduduk? Bentuk kontrol negara? Apa itu komitmen? Apa itu janji?”

Dear Diare
Kamu adalah paradoks, misteri yang tak akan bisa kumengerti
Bagaimana tidak — satu-satunya cara menikmatimu adalah dengan melepasmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s