Kucing dalam Kotak

“‘Jangan beli kucing dalam karung,’ kata peribahasa,” Hans membalasnya tidak bergeming.

Maya keras hati, “Bagaimana kalau ternyata posisi kucing dalam karung itulah yang membuat eksistensinya tetap terjaga. Kalau karungnya dibuka, kucingnya akan mati. Kalau karungnya tetap dibiarkan tertutup, kemungkinan hidup:mati kucing adalah 50:50. Daripada aku buka karungnya dan dapat kucing mati, kenapa tidak kuambil saja karung dengan kemungkinan kucing hidup?”

“Tidak pernah ada, di dunia nyata, kondisi ‘setengah-mati-setengah-hidup’. Pengukuran selalu memberikan hasil tunggal. Lagipula ngapain beli kucing kalo cuma ditaruh dalam karung? Dasar sakit.”

“Mungkin aku zombi yang sudah tidak merasakan sakit?

“Chopper bilang, itu juga kelemahan terbesar Oars sebagai zombi. Karena dia tidak bisa merasakan sakit, dia tidak tahu bagian mana dari tubuhnya yang rusak. Kalau tulang Oars cedera atau hancur, Oars tidak bisa bergerak lagi. Rasa sakit itu tanda bahwa kita hidup.”

“Tapi orang nggak kay—”

CTAK. Gelas Hansel menghentak kaca meja. Kursinya berputar arah ke lawan diskusinya. “May,” tatapan mereka berdua beradu, “We’ve been over this so many times: You cannot be fixed by the same person who broke you.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s