fdnow0601a

Skenario Kedai Kopi

“Jadi, menurut kalian, bagaimana kepemimpinanku? Oki?”

Pertanyaan jebakan.

“Bagus,” kataku dengan intonasi yang dimainkan dan kepala yang diangguk-pegaskan. Tetap terdengar setengah hati, walaupun sudah dibungkus dengan senyum lebar dan anggukan yang dipaksa jenaka.

“Hoo… Enggak biasanya kau bilang bagus. Kenapa kau bilang bagus?”

Aku terkesiap. Tidak kunyana dia akan memberikan umpan balik. Yang kutahu, dia cuma orang sederhana yang menelan jawaban bulat-bulat.

Untungnya, di kepalaku sudah ada jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan macam ini. Untuk organisasi atau komunitas mana pun, sebelum rapat atau pertemuan dimulai, aku menyimulasikan seluruh jenis interaksi yang mungkin muncul.

Diam-diam merayap, untuk menangkap nyamuk. Seperti Bond yang datang ke kasino sarang musuh untuk minum, kemudian duduk sambil memikirkan rencana untuk membunuh semua orang di dalam ruangan. Seperti Holmes di adaptasi film Sherlock, saat dia memperhitungkan masing-masing kemungkinan dan tahap dari 13 skenario yang mungkin terjadi saat Moriarty bertemu dengannya di atap.

Ya, aku mempersiapkan sampai ketika ada skenario aku “dibantai”. Sampai memilih aku ingin duduk di mana kalau tempatnya di mana.

Aku mulai memikirkannya sejak beberapa jam sebelum pertemuan. Mulai sejak mandi, berpakaian, dan dalam perjalanan, aku berulang kali memutar ulang skenario itu beserta variasi-variasinya. Membayangkan “apa saja reaksi yang mungkin dilakukan oleh orang lain atas aksiku” dan “apa respons terbaik yang akan paling menguntungkan grup”.

Ya, pikiranku sibuk.

Untungnya, skenario ini termasuk dalam salah satu skenario yang kusimulasikan beberapa menit lalu di dalam angkot menuju kedai kopi ini.

Judul: “Kenapa Kau Bilang Bagus”
Setting: Kedai Kopi Borjuis, Sabtu malam, 15 orang dengan mood senang

——————– Skenario #117

“Karena kau memilih latar tempat, waktu, dan situasi sosial yang mengharuskan aku menjawab ‘baguuus’ terhadap pertanyaan ini. Kalau kau menanyaiku secara pribadi, sore-sore, dan kita punya banyak waktu, jawabanku akan beda lagi,” aku menaikkan flow.

“Wah, kok gitu? Berarti kau pengecut dan pembohong dong. Kalau punya uneg-uneg ya sampaikan saja di sini. Kenapa kau menutup dirimu?”

One single most important independent determining factor dalam memilih respons untuk sebuah pertanyaan adalah situasi sosial. Kau tahu sendiri segala bentuk kritikku keras, tidak tersaring, lengkap dengan kata-kata serapah. Aku yakin, beberapa orang yang pernah mendengar kritik murniku merasa semangatnya patah dan harga dirinya jatuh.”

“Tidak semua yang datang ke sini menganggap ‘kritik tanpa saringan’ adalah hal yang baik,” lanjutku.

Susu vanilla datang, beserta dengan beberapa minuman yang dipesan oleh para fungsionaris lain. Minuman dingin adalah remediku. Di setiap kondisi sosial, aku memesan minuman dingin untuk jaga-jaga kalau alur naik dan aku harus memberikan respons dengan kepala tetap dingin. Jika sedang pusing atau butuh konsentrasi ekstra, brain freeze membantuku untuk meditasi.

Aku mengaduk minumanku, melihat potongan-potongan dadu stroberi tercampur dengan busa putih yang kental. “Kau tidak sedang ingin benar-benar mendengarkan kritik. Kau sedang ingin menciptakan suasana yang membuat orang tidak bisa mengkritikmu. Kau. Ingin. Dipuji.” Ya, mari isi malam ini dengan manajemen konflik.

——————– Skenario #118

“Karena ya emang bagus,” kataku sambil tersenyum “Oke, lanjut!” aku menunjuk Martin untuk memberi pendapat, memindahkan bola-panas-opini dari tanganku ke orang di sampingku ini. Percuma banyak bicara di forum ini, pikirku. Kalaupun aku mengonfrontasinya terang-terangan saat ini, tidak akan ada gunanya.

Dia visioner, memang. Tapi dia tidak punya kemampuan untuk mengerjakan visi-visinya itu. Dia tidak bisa bahasa Inggris, tidak bisa berdialektika, tidak bisa beretorika, tidak tahu cara manajerial, tidak bisa melihat kesempatan bisnis, datang ke acara resmi menggunakan kaos oblong padahal tahu bahwa ada orang-orang penting yang dapat dia dekati dan ajak obrol kalau dia mau sedikit saja investasi ke penampilan.

Dia tidak bodoh, sebenarnya. Definisi bodoh adalah ketidakmampuan belajar dari pengalaman. Aku yakin dia bisa mengerti kalau ada orang yang mau mengajari dia. Tapi, mungkin orang melihat dia sebagai pria 24 tahun yang tidak punya potensi dan pengetahuan-pengetahuan dasarnya tidak mencukupi — ingat bahwa untuk ukuran mahasiswa dari sebuah kampus ternama di Indonesia, dia tidak bisa bahasa Inggris. “Ya sudahlah, orang ini sudah tidak tertolong lagi,” sepertinya itu yang alumnus-alumnus pikirkan. Hal itu juga yang kupikirkan.

Aku mengaduk minumanku, melihat potongan-potongan dadu stroberi tercampur dengan busa putih yang dingin. Sayup-sayup kudengar masing-masing fungsionaris lain memberikan masukan-masukan terhadap pertanyaan Koordinator. Sementara itu, suara-suara di kepalaku makin keras membahas kenapa beberapa orang Indonesia bisa semudah itu menjual pulau-pulau di Mentawai dengan harga murah lewat situs privateislandsonline.

——————– Skenario #119

“Bagus, tapi sebenarnya ada potensi yang belum digunakan dengan maksimal.”

Ketika seorang anak SD datang kepadamu dan memberikan hasil gambar pertamanya — yang di matamu acak-acakan dan tidak lebih dari guratan acak dari krayon yang sebelumnya dia pakai untuk ngupil, hal yang akan kau lakukan — jika kau benar-benar ingin melihatnya tumbuh — adalah (1) memujinya untuk kerja kerasnya, kemudian (2) memberitahunya bahwa sebenarnya dia punya potensi untuk bisa menggambar lebih bagus lagi asal dia mau berusaha.

Aku mengaduk minumanku, melihat potongan-potongan dadu stroberi tercampur dengan busa putih yang manis. “Kalau kau memilih untuk menghancurkan hati seorang anak yang membanggakan karya seninya ketimbang mengapresiasi kerja kerasnya dan menyemangati dia,” pikirku sambil mencoba mengingat sejarah Adolf Hitler, “mungkin kau akan menghancurkan dunia. Terkutuklah para profesor di Vienna Academy of Fine Arts yang dua kali menolak karya Hitler dan membuatnya lari ke militer. It is astounding how someone that feels so lost and unwanted becomes a dictator.

——————– Skenario #120

“Yaaah,” aku mengangkat bahuku dan melirik ke langit-langit mencari cara kabur dari perangkap ini, “Kau sudah mengusahakan yang terbaik; tapi ya memang kemampuanmu mentok segitu. Aku bisa bilang apa? Menurutku, yang penting kau sudah punya niat baik untuk membangun organisasi ini.”

Pasif-agresif.

Passive-aggressive behavior is the indirect expression of hostility, such as through procrastination, sarcasm, stubbornness, sullenness, or deliberate or repeated failure to accomplish requested tasks for which one is (often explicitly) responsible.

Aku mengaduk minumanku, melihat potongan-potongan dadu stroberi tercampur dengan es krim vanila yang mulai mencair. Hanya lebah melipona, yang hidup di Amerika Tengah, yang dapat menyerbuki vanila. Di belahan lain dunia, manusia merekayasa penyerbukan vanila menggunakan jarum kayu. Juga, Indonesia dan Madagaskar adalah produsen vanila terbesar di dunia. Ya, aku berusaha mengalihkan pikiranku dari pertanyaan selanjutnya yang mungkin dia ajukan, seperti, “Usaha seperti apa yang kau inginkan aku untuk lakukan?”

Bollocks. Basa-basi busuk.

——————–

#118. Pilihan paling rasional saat itu. I’m torn. Between choosing to let my thoughts out so that the whole group can learn and choosing to let this meeting end quickly so that I can work on other duties.

One thought on “Skenario Kedai Kopi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s