ganti-topik

LOL My Thesis

Saya ganti topik skripsi. Awalnya saya ingin mewujudkan aplikasi yang saya ajukan ke lomba UX Design Windows 8 untuk jadi bahan penelitian, tapi setelah ngerjain sepertiganya, saya merasa kalau penelitian di bidang itu tidak akan banyak berkontribusi pada dunia engineering (halah…).

Berhubung saya dari jurusan teknik informatika, dan penelitian saya butuh masukan dari seorang pengamat bisnis, jadi saya minta seorang dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB yang menurut saya sangat berpengalaman di bidangnya dan cakap berkomunikasi, Pak Herry Hudraysah. (Untung di ITB ada SBM!) Ngomong-ngomong, beliau juga pernah berkontribusi sebagai penulis di Soul of Campus #8 tahun lalu.

Jelas, tidak mungkin untuk memberikan spesifikasi teknis dari software engineering kepada seorang praktisi bisnis. Learn their language adalah salah satu poin di sebuah artikel keren dari Smashing Magazine yang saya patri di otak tiap kali menjelaskan tentang hal teknis ke orang non-teknis. Jadi, saya menulis versi lain dari bagian latar belakang  skripsi saya untuk ditunjukkan kepada beliau. And I think it’s worth sharing.


Pembuatan Aplikasi Mobile dengan Layanan Berbasis Lokasi untuk Bisnis Peer-to-Peer Trading

Dalam artikel 10 Ideas That Will Change the World (artikel terlampir), TIME memberi hipotesis bahwa masyarakat kita akan berpindah dari konsumerisme pribadi yang disebut dengan “ownership society” kepada sebuah masyarakat yang saling berbagi.

Berikut studi kasusnya:

Abram adalah seorang mahasiswa ITB yang sedang PDKT dengan wanita pencinta alam. Suatu hari, wanita ini mengajak Abram dan teman-temannya untuk mendaki Semeru. Abram langsung mengiyakan tanpa pikir panjang. Begitu sampai kosan, Abram baru ingat sesuatu: dia tidak punya peralatan hiking.

Abram bingung mau meminjam peralatan hiking ke mana. Dia berniat pamer ke wanita ini bahwa dia punya peralatan hiking bermutu tinggi, tapi tidak tahu tempat membelinya. Mau pinjam ke teman, di lingkungan pergaulannya tidak ada yang hobi camping. Mau beli baru, wah, satu tenda saja harganya sudah 5 juta. Bukannya tidak ada uang, tapi sayang saja kalau beli tenda cuma untuk satu-dua kali pakai.

Tidak jauh dari kosan Abram, ada seorang bernama Okihita yang adalah mantan ketua unit pencinta alam di kampusnya. Sekarang dia bekerja kantoran, dan sudah jarang naik gunung. Okihita merasa sayang tendanya sudah menganggur selama beberapa bulan. Tapi dia serba salah mau menyimpannya atau menjualnya. Kalau disimpan, mountain gear-nya sendiri sudah jarang dipakai. Tapi kalau dijual, dia yakin dalam setahun ke depan pasti teman-temannya minimal satu kali mengajaknya naik gunung.

Okihita punya ide untuk mempublikasikan bahwa dia punya mountain gear untuk disewakan. Tapi bagaimana caranya? Haruskah Okihita membuat plang di depan pintu kosannya: “Disewakan: Tenda merek Hilleberg kualitas top! Cuma 100 ribu sehari!” Tidak, ‘kan? Lagipula, siapa yang bakal melihat plang itu?

Lalu, bagaimana cara supaya orang-orang seperti Abram bisa dengan mudah menyewa (tanpa harus membeli) barang-barang yang hanya sesekali dia pakai, dan bagaimana cara supaya orang-orang seperti Okihita bisa mendapat pemasukan tambahan dari barang-barangnya yang nganggur?

Alternatif solusi yang saya ingin teliti melalui TA saya adalah:
Membuat sistem yang memudahkan orang meminjam (atau menyewa) barang dari orang-orang di sekitarnya. Alur kerja sistem tersebut ada di halaman selanjutnya.

ALUR KERJA SISTEM

  1. Pemilik barang membuat akun (gratis).
  2. Pemilik barang memotret barang yang ingin disewakan, kemudian aplikasi akan otomatis mendeteksi lokasi foto itu diambil, dengan fitur geolocation (teknologi ini sudah diimplementasikan di seluruh jenis smartphone yang dirilis di 2013).
  3. Pemilik barang kemudian memasukkan nama barang, spesifikasi barang, harga, syarat dan ketentuan peminjaman, serta status ketersediaan barang (sedang tersedia untuk disewa atau tidak).
  4. Pemilik barang bisa menambahkan barang-barang baru dan mengedit informasi barang yang sudah terdaftar, jika dibutuhkan.
  1. Pencari barang tidak perlu membuat akun jika dia ingin mencari barang.
  2. Pencari barang memasukkan jenis barang yang ingin dia cari, misalnya tenda.
  3. Pencari barang menentukan radius pencarian (misalnya, hanya cari di tempat yang lokasinya tidak lebih dari 1 km dari tempat saya sekarang berada).
  4. Pencari barang menekan tombol search di aplikasi, aplikasi akan otomatis menampilkan daftar tenda yang tersedia untuk disewakan dalam 1 km di sekitar lokasi pencari barang.
  5. Jika tidak ada tenda dalam radius pencarian, aplikasi akan otomatis memberikan saran: “Tidak ada tenda dalam 1.00 km, tapi ada tenda yang disewakan 2.73 km dari posisi Anda. Mau lihat informasinya?”
  6. Aplikasi juga akan memberikan saran untuk barang-barang terkait, misalnya:
    • Anda mencari kata kunci tenda, mungkin Anda tertarik untuk menyewa mountain bag, 0.81 km dari lokasi Anda dan antishock walking stick, 1.02 km dari lokasi Anda.
  7. Pencari barang kemudian mendatangi pemilik barang dan melakukan transaksi penyewaan. Jaminan sewa tergantung rincian yang ada di syarat dan ketentuan yang diajukan oleh pemilik barang.
  8. Selesai. Semua senang.

Kalo skripsi ini selesai sih, niatnya mau diajuin ke salah satu biro digital untuk dikembangkan, atau cari investor sendiri. Sejauh ini, setelah lulus saya berencana mengajukan ide ini ke tempat kerja praktik saya dulu, Suitmedia.

postscript:

I submitted my thesis as an one-line quirky semi-hillarious sentence to LOLMyThesis, that reads “Our Hidden Desire to Peep and Use Stuffs Our Neighbors Own”.

4 thoughts on “LOL My Thesis”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s