Credit to christian-grasse.net

Pendapat bagi Para Lingo-Mixaholics Out There

A friend asked my opinion about that Lingo-Mixaholic article. And so I answered.

Bahasa Indonesia is meant to be a casual, daily-communication language. It trades off compactness for a loose-and-easy grammar. You can permute all the words in “Kamu mau pulang kapan?” and get 16 comprehensible sentences out of 24 possible permutations. Yet, writing an essay in bahasa Indonesia takes up to 150% space, compared to its English counterpart.

“Daya pikirmu dibatasi oleh banyaknya kosakatamu”, kamu juga merasakannya, ‘kan? Mereka yang sering baca buku dan berpikir dalam bahasa Inggris pasti pernah mengalami kesulitan menerjemahkan pengetahuannya — yang didapat dalam bahasa Inggris — ke dalam bahasa Indonesia. Jadi, ya, aku bisa mengerti kalau beberapa orang yang berpikir kompleks kadang terpaksa menggunakan diksi dalam bahasa Inggris untuk mengutarakan gagasan dengan secara lebih cepat dan akurat.

But, in Cinta Laura’s case, no, she’s not a complex-minded one. As far as I know, all her mixed-sentences only consists of her daily activities.

Since the Normans (from Northern France) invaded England and won in the beginning of second millenium, kings and nobilities of England have been using mixed-language of French and Anglo-Saxon to give a hint of their aristocracy, which implies they belong to high socioeconomic status. Indonesian nobilities in early 1900’s also used Dutch to achieve the same purpose.

But, in Cinta Laura’s case, no, she’s not trying to prove to others that she’s better socioeconomically. She merely uses mixed language and accent to gain popularity, like Tukul’s “eaaa eaaa” and Syahrini “cetar membahana“. Like Caesar’s Goyang Caesar, it’s both stupid and ineducating, yet funny and selling.

Jadi, khusus untuk kasus Cinta Laura, aku tidak akan menghakiminya untuk penggunaan bahasa-campur. Seorang selebritas butuh popularitas dan ciri khas untuk tetap bertahan. (Pendapat ini mungkin salah, lho. Jangan ditelan bulat-bulat ya.)

Untuk kasus orang-biasa, kayak kita-kita ini, aku tidak akan mencoba menjadi seorang linguistic purist yang mencerca orang-orang yang tidak 100% menggunakan kata-kata Indonesia. Justru kalau kita memaksakan penggunaan bahasa Indonesia yang ketat, orang-orang akan muak terhadap kita, dan malah menghalangi mereka untuk mencintai bahasa Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s