credit to http://blindmanphoto.deviantart.com/art/Book-152089843

Halaman 52, Kalimat Pertama

Dari salah satu meme Facebook.

Ini Pekan Buku Internasional. Aturannya: ambil buku di dekatmu, buka halaman 52, tuliskan kalimat kelima sebagai statusmu. Jangan sebut judulnya. Salin aturan ini dalam statusmu. Oke, jadi karena buku di meja saya ditumpuk vertikal, jadi jaraknya sama-sama dekat.


(1) “Ini bukanlah akhir kisah.” ■

Kita diingatkan bahwa kehidupan fana ini bukan akhir dari segalanya. Itulah kenapa ada janji yang sepertinya tidak digenapi, ada doa yang sepertinya tidak dijawab — semua itu agar kita tidak terikat dengan kebahagiaan yang diberi dunia, karena memang bukan di dunia inilah kita akan benar-benar bahagia.

(2) “Mereka menyerbu tempat kerja masing-masing: bengkel bubut, kilang minyak, gudang beras, dok kapal, dan unit-unit pencucian timah.” ■

Terjadi pada akhir tahun ’70-an. ‘Aku’ menceritakan bahwa kampung ini adalah “kampung terkaya di Indonesia”, tempat para investor, melalui sebuah perusahaan tambang, mengeruk kekayaan tanah ini dan merekrut penduduknya sebagai pekerja kasar. Pemandangan tiap pagi hari, jam tujuh kurang sepuluh, selalu monoton.

(3) “Namanya sel T CD4+, sejenis sel T matang yang memperlihatkan protein CD4+ pada permukaannya.” ■

Sebuah kiasan tentang jenis sel penting dari sistem kekebalan tubuh manusia, yang pada akhirnya mendapat musuh bengis di abad lalu: Human Immunodeficiency Virus. Dengan belum adanya obat untuk HIV/AIDS, dan konsekuensi yang ganas dari penyakit ini, dapat dimaklumi kalau orang-orang religius menilai penyakit ini sebagai hukuman dari Tuhan akibat percabulan.

(4) “A well-known study out of UC Berkeley by organizational behaviour professor Philip Tetlock found that television pundits—that is, people who earn their living by holding forth confidently on the basis of limited information—make worse predictions about political and economic trends than they would be by random chance.” ■

Dalam penelitian yang dilakukan pada sebuah kelompok responden yang diminta mengerjakan soal-soal matematika dalam kelompok, kemudian diminta untuk saling menilai kepintaran rekan-rekan satu grup, orang yang mendapat nilai kepintaran tinggi dari responden adalah orang yang pertama mengajukan solusi. Namun ternyata, orang yang pertama mengajukan solusi ini nilai matematikanya tidak lebih tinggi ketimbang orang yang diam saja. Menganggap seseorang lebih pintar dan lebih tahu karena dia yang pertama ngomong adalah sebuah kesalahan fatal dalam pengambilan keputusan dalam kelompok. Masalahnya, di pemerintahan kita — dan sistem sosial lainnya, misalnya organisasi kampus — orang-orang yang pertama kali ngomong adalah mereka yang… yah… kemampuannya cuma ngomong.

(5) “When you think you’ve got the right aisle, you start looking at the individual product.” ■

Faktanya adalah, orang-orang tidak akan mau masuk ke situs web kita kalau mereka tidak mengerti alur navigasinya. Di bab ini, buku yang disebut banyak orang sebagai Kitab Sucinya desain situs web ini menjelaskan bagaimana harusnya sistem navigasi sebuah situs diimplementasikan.


Buku-bukunya adalah (1) Purpose Driven Life, (2) Laskar Pelangi, (3) Berpikir di Tingkat Bangsa, (4) Quiet, dan (5) Don’t Make Me Think.

Apa bukumu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s