Paradoks Kemahakuasaan

Pada suatu hari yang normal di grup PMK ITB, ada yang nyeletuk “Nothing is impossible”. Dan itulah awal dari semuanya ini. Roy Pandapotan, orang yang suka ngomongin hal yang gak nyambung, tiba-tiba memberikan tanggapan pada sebuah kiriman.

ompar

Untuk memudahkan pembacaan, saya akan menuliskan isi gambar ini dalam bentuk teks:

Christian Sidauruk: nothing is impossible


David Setyanugraha: if we through it with God..:)


Roy Pandapotan: I several times tried to imagine a color outside the visible-spectrum. Hadn’t been successful…😐


Christian Sidauruk: there is the right time to do that.


Yosua Briandhika Utama Siregar: Jadi berpikir, bisa gak ya kita membuat ruang yang benar2 hampa, tanpa partikel sekecil quark sekali pun:/ *seri nothing is impossible*


Christian Sidauruk: jadi kepikiran, bisa ga ya kita membuat sebuah saluran transmisi tanpa kabel yang hanya menggunakan gelombang dengan frekuensi tertentu tetapi dapat menyalurkan listrik 220 V bahkan sampai orde kV ??


Sandro Hanaehan Sirait: dari “nothing is impossible” menjadi “nothing i understand”, abang-abang di atas bahasanya terlalu tinggi


Sandro Hanaehan Sirait: eh aku bercanda loh ini huehehehehehe :3


Roy Pandapotan: Christian Sidauruk: Transfer energi nirkabel itu sangat mungkin. Wi-Fi dan Bluetooth sendiri adalah transfer energi dalam bentuk gelombang. Kalau receiver-nya punya mekanisme konversi energi, secara teori sinyal Wi-Fi itu bisa digunakan untuk mengisi ulang baterai.

Di game Red Alert, kalo main pake Soviet, ada pertahanan yang namanya “Tesla Coil”. Menara “Tesla Coil” menyerang musuh dengan loncatan energi listrik dari jarak jauh.

Pada tahun 1888, Nicola Tesla bikin sebuah “Apparatus for Transmitting Electrical Energy“.

Sebuah transmitter “Tesla Coil” dibuat untuk berosilasi pada voltase dan frekuensi tinggi. Sebuah receiver kemudian disetel pada frekuensi yang sama. Konsepnya mirip radio modern. Listrik ditransfer melalui gelombang elektromagnet untuk “mengirim elektron lewat udara”.

Konsep itu dikembangkan dan~ taraa~ pengisi baterai nirkabel pertama di dunia dikembangkan.

Kontra dan bahaya dari konsep ini adalah (1) bunga listrik yang mungkin terjadi saat transfer elektron dan (2) radiasi medan elektromagnet yang terlalu kuat sehingga memengaruhi medan magnet tubuh dan rambut kita akan lurus menuju arah utara.

Kesimpulan: yang masih tidak mungkin dilakukan adalah membayangkan warna di luar spektrum-tampak…

…atau, bagi beberapa orang, mendapatkan pacar. Sumpah ini galau abis. Bener-bener butuh temen curhat full-timer nih, hahaha.


Christian Sidauruk: Roy Pandapotan wahaha.. aku penggemar red alert juga dan senang pakai sovyet dengan menara tesla coilnya itu. nah sekarang bagaimana membuat “radiasi medan elektromagnet yang terlalu kuat sehingga memengaruhi medan magnet tubuh dan rambut kita akan lurus menuju arah utara” tidak terjadi. hahaha


Yohanes Halim Febriwijaya Ada hal yang tidak mungkin, bagi Tuhan sekalipun😀


Roy Pandapotan:
Itu disebut “Omnipotence Paradox”. Versi paling populer dari paradoks itu adalah “Bisakah Tuhan membuat batu yang begitu berat sampai Dia tidak bisa mengangkatnya?”

Dan paradoks yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: “Apa yang terjadi saat gaya-tak-tertahankan bertemu dengan benda-tak-tergerakkan?”

Pertanyaan itu kemudian dikembangkan oleh para ateis dan menjadi pertanyaan populer mereka dalam mempertanyakan Tuhan: “Jika Tuhan ada, kenapa kejahatan masih merajalela di dunia?”

Justru karena Tuhan maha-segalanya itulah, Dia tidak bisa melakukan beberapa hal. Bukan karena tidak punya kuasa, melainkan karena sifat-sifat ketuhanan-Nya tidak boleh saling bertentangan.

Karena Tuhan punya kesucian mutlak, Dia tidak mungkin melakukan kejahatan, membuat manusia untuk melakukan kejahatan, bahkan menghasut manusia melakukan kejahatan.

Karena Tuhan punya keadilan mutlak, Dia tidak mungkin memaafkan Adam dan Hawa begitu saja setelah mereka memakan Buah X. Dia harus mematuhi peraturan yang Dia buat sendiri. Seluruh keturunan Adam pun jatuh ke dalam dosa.

Akan tetapi, Tuhan juga maha pengasih. Jadi, apa yang harus Dia lakukan supaya ciptaan yang Dia kasihi bisa merasakan kasih-Nya, sementara Dia tidak melanggar peraturan yang Dia buat sendiri?

Silakan simak video ini untuk tahu jawabannya.


2 thoughts on “Paradoks Kemahakuasaan”

    1. Lydia Utami, well-versed as always😀

      Yes. From that scene. Joker is not an ordinary strong-armed nor witty-smart villain. He is schizophrenic and psychopathic. The way he thinks often amazes me.

      Kapan-kapan nonton bareng yok, Lyd.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s