Susah Fokus ke Satu Topik

Alkisah, ada seorang yang bernama Roy Pandapotan. Dia adalah seorang mahasiswa ITB... which is me myself.

Roy Pandapotan adalah orang yang suka baca. Waktu dia SMA, saat teman-teman menggunakan dana internet mereka untuk buka Friendster[masih ada gitu?] dan MySpace, si Roy Pandapotan ini malah baca-baca artikel terbaru Time. Saat teman-temannya lihat-lihat profil cewek cakep di Facebook dan nyimpenin foto mereka, Roy malah asyik baca-baca artikel Wikipedia lalu menyimpannya di kandar kilas—it’s flash disk, don’t ask. Tidak jarang, artikel Wikipedia ini membawanya bertualang di internet dari spesifikasi Playstation hingga sejarah pembedahan jantung.

Really. Playstation -> List of game developers -> Hudson Soft -> Arcade game -> Bomberman -> Balloon -> Balloon catheter -> Heart surgery.

Sehingga, sekarang, si Roy Pandapotan ini menjadi orang yang susah kalau diajak ngobrol tentang satu hal spesifik. Dia pasti akan ngomong ngalor-ngidul, karena pola pikirnya sudah teracuni oleh sistem hyperlink yang digunakan Wikipedia. Lama-lama, jika tidak dihentikan oleh lawan bicaranya, topik yang dibicarakannya akan melebar ke mana-mana, seperti perut politikus.

Bagaimanapun, sistem “terlepas dari topik” seperti ini tidak bisa digunakan dalam forum besar yang membahas hal spesifik. Roy sadar hal itu. Dia tidak mau membuang waktu orang-orang yang belum tentu mau mendengarkan kicauannya. Jadi, dia lebih sering melakukan obrolan “terlepas dari topik” di tempat-tempat yang santai, seperti FB atau blog. Kadang takut dikira bodoh karena gak nyambung.

Salah satu contoh pembicaraannya akan kita lihat di kiriman selanjutnya.

Niat dia baik. Dia ingin berbagi pengetahuan, dengan tujuan akhir untuk memberi sudut pandang yang berbeda terhadap suatu masalah. Orang-orang seperti Roy Pandapotan inilah yang membuat saya tenggang rasa kepada mereka yang suka ngomong terlepas dari topik.

Tapi, sekali lagi, hai orang-yang-suka-ngomong-terlepas-dari-topik, berusahalah menahan diri untuk tidak bicara di forum besar yang membahas hal spesifik dan punya jadwal padat. Saya yakin, untuk anak-anak ITB, fragmen waktu 15 menit itu sangat berharga, dan tidak semua orang sedang ingin mendengar “pengetahuan baru”. Kendalikan dirimu.🙂

8 thoughts on “Susah Fokus ke Satu Topik”

    1. Duh, baru baca tentang definisi Flight of Ideas. Saya sih ngerasa bukan orang yang seperti itu, haha😀

      Sebelum “ganti topik”, saya akan memberikan satu fakta unik kepada lawan bicara. Kalau dia memberikan respon interaktif terhadap fakta itu, saya akan “ganti topik”. Kalau responnya tidak menunjukkan ketertarikan, maka “ganti topik” itu akan berhenti di sekadar fakta unik saja.

  1. Hahaha. Kalo ga salah itu memang salah satu ciri khas dari orang2 berkepribadian NT (INTP, INTJ, ENTJ, ENTP), karena aku jg gitu. Tapi mungkin juga ini adalah efek internet yang membuat segalanya terhubung sehingga memperbesat kemungkinan distraksi. #sotoyclub

    1. Benar! Ini karena alur informasi internet yang begitu mendistraksi kita dan gara-gara teknologi hipertaut, mwahahahaha. Untuk orang-orang yang otaknya jenuh seperti kita, perlu ada sarana untuk bertukar pikiran. /Hey, even bacteria need to swap DNA to relax./

      Busway, did you know that “ciri” origins on Javanese and, in its purest use, means “defect”? Senior villagers back in Nganjuk still use “ciri” to denote “body impairment”. It also synonymise with “bejat”, but “bejat” is more commonly used to adjectivise inanimate objects, as in “Gerobake wis bejat; tukuwa sing anyar.”

      But, again, a piece of puzzle has hollow spaces for other piece to tessellate. Perhaps, it is our imperfections that make us humans so perfect for one another.

      1. I don’t really understand Javanese so I have to ask my dad about “tukuwa”, and I finally understand what do you mean about “bejat”.

        On the way, it’s always nice talking to you, Oki. Everyone will always learn new stuffs from you. *Don’t blush don’t blush don’t blush ahahahahahah*

        *Oh iya, apa bedanya pranala dan tautan? Bagaimana cara penggunaannya?

        1. Wuoooh. I thought you were a Javanese indigen. Yes, “ciri” is the krama—the most ameliorated form—of “cacat”.

          Sometimes my (crave of) knowledge frightens me. I bet you’ll be able to recall where these lines came from:

          The three ways to make ******: One, you can mix equal parts of gasoline and frozen orange juice concentrate. Two, you can mix equal parts of gasoline and diet cola. Three, you can dissolve crumbled cat litter in gasoline until the mixture is thick.

          That’s why people like us should be strongly affiliated with religious organizations, hahaha😀

          Tentang “pranala” dan “tautan”, saya percaya mereka berdua adalah saudara kembar yang dapat saling bertukar kelas tanpa ketahuan oleh guru maupun teman-teman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s