Naik Sepeda dari Bale Endah ke Sekre KM

Ini bukan tentang saya. Ini tentang seorang korban banjir di Bale Endah yang datang ke sekre KM.

Siang tadi, saya jalan-jalan ke 7 himpunan untuk “menjual” Soul of Campus edisi #7 (Okt-Nov) ke himpunan-himpunan. Sebelum jalan-jalan itu, sekitar jam 11, saya mampir ke CC Barat dulu untuk ngambil majalah-majalah yang masih terbungkus kardus itu. Ngantuk karena kemarinnya cuma tidur dua jam, saya istirahat dulu di lorong lantai dua.

Maundri, menteri Pengmas ITB, sedang di dalam sekre. Ada tamu buatnya.

Saat itu hujan. Saya duduk di kursi lorong, menaruh tas di meja depan saya, memejamkan mata, menyamankan diri di sandaran kursi, melamun memikirkan rencana kegiatan 6 jam ke depan sementara mengistirahatkan seluruh anggota tubuh lainnya. Bisa dibilang, meditasi.

Lima menit kemudian, ada yang memanggil, “Dek, anak KM ya?”

Saya buka mata. Di kursi kiri saya sudah ada seorang bapak berusia sekitar 30-an, pake baju dingin Eropa yang sepertinya dia beli di Gasibu. Mantelnya basah, sama kayak muka, rambut, celana panjang, dan sepatunya. Kayaknya saya terlalu asyik ngelamun sampai tidak dengar dia datang dan duduk di samping saya.

Iya, Pak. Saya anak Kominfo.”

Ooh, Maundri sedang ada tamu ya?

Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu? Bapak dari mana?

Saya dari kemasyarakatan, Dek. Saya korban banjir di Bale Endah.

Karena saya belum pernah ngobrol langsung sama korban banjir, jadi rasanya ini adalah kesempatan yang tepat buat tahu seperti apa kehidupan dan derita seorang korban banjir.😀 Kami ngobrol.

Pak Dana Santana; beliau bermukim Bale Endah. Dengan mantel lusuh dan lembab itu, beliau mengayuh sepeda ke sekre KM.

Itu sekitar… 18 kilometer.

Beliau mengaku datang ke sekre KM-ITB untuk meminjam uang Rp105.000,00 untuk biaya pengobatan anak beliau yang berumur lima tahun. Nadin, nama putri sulung beliau sedang demam akut dan butuh dibawa ke dokter. Beberapa kali dalam pembicaraan, beliau menunjukkan botol obat yang sudah habis isinya, “Ini, Dek, kebutuhan obat buat anak saya. Demamnya sudah tinggi. Saya takut kalau dibiarin terus.

Musim hujan ini, Bandung banjir lagi. Daerah “Soreang” jadi populer. Anak-anak ITB bersama-sama mengumpulkan bantuan untuk korban banjir di Soreang. Berdasar cerita Pak Dana, justru yang harusnya menjadi fokus adalah banjir di Bale Endah.  Daerah pemukiman Bale Endah berada tepat di dekat sungai Citarum, dan menyebabkan daerah itu menjadi salah satu titik dengan kerusakan terbesar. “Banjir sudah nutupin genteng,” kata Pak Dana, “Bahkan dinding dari bata pun ambruk kena arus. Perabotan sudah hanyut gak tau ke mana. Mau buang air besar gak bisa.

Banjir Bandung. Klasik. Beritanya ada di mana-mana. Cuma, baru kali ini saya punya kesempatan ngobrol langsung sama korbannya.

Pak Dana ini sudah kenal sebelumnya dengan Maundri; Nadin pernah dikirimi alat-alat sekolah dan buku. Hari ini, Pak Dana datang murni untuk minta pinjaman ke “anak ITB”—yang pastinya adalah sebuah totum pro parte. Beliau menunjukkan ponselnya, Nokia, monokrom. “Adek mau beli henpon saya gak? 100 ribu aja. Cerjernya masih di rumah, nanti saya ambilkan lagi kalau Adek mau.

Duh, tidak, Pak. ^^

Beliau mengaku bahwa beliau sedang putus asa, berusaha menjual apa pun yang bisa dijual. Perabotan rumah beliau jelas bukan pilihan untuk dijual. Semua bagian rumah sudah terendam air. Beliau dan dua anak beliau yang berumur 5 tahun dan 6 bulan tinggal di loteng rumah, ruang antara langit-langit dan genteng. Istri? Minggat. Lelah hidup susah bersama Pak Dana.

Dari sekian banyak curhat yang pernah saya dengar—yang mana daripada itu 70%-nya adalah tentang teman hidup atau pasangan wisuda, curhatan dari seorang korban banjir ini bikin saya diam. Takut salah ngomong. Takut salah tanya. Dan, yak, selama 40 menit dengar curhat beliau, memang beliau yang lebih banyak cerita. Tentang kesetiaan istri, tentang sulitnya lulusan SMP mencari kerja, tentang penyalur bantuan pemerintah yang lebih mendahulukan korban banjir yang dikenal ketimbang keluarga yang benar-benar membutuhkan, tentang kesetiaan istri, tentang mahasiswa adalah calon wakil rakyat, tentang betapa enaknya orang kaya yang bisa cepat berobat saat mereka sakit.

Tentang bagaimana beliau tidak punya apa-apa lagi untuk dijual selain ponsel dan harga diri, tentang kerelaan beliau menjilat kaki orang supaya bisa membeli obat untuk Nadin, tentang kesetiaan istri, tentang arti nama anak-anaknya, tentang enaknya mahasiswa yang kerja sebentar saja sudah bisa menghasilkan uang banyak, tentang beberapa anggota keluarga beliau yang Batak (setelah saya bilang kalau nama saya Okihita Hasiholan Sihaloho).

Tentang prinsip beliau yang lebih baik mati bersama anak-anak ketimbang harus mencuri.

Saya tertarik untuk mendengar lebih lanjut; sayangnya, saya punya tugas untuk diselesaikan. Akhirnya, dengan tulus-ikhlas,saya membantu beliau sebesar 4% dari uang jajan saya sebulan: 100 bakwan. Beliau menawarkan KTP sebagai jaminan uang itu akan kembali, tapi saya menolaknya. Cukup tukeran nomor telepon aja, pikir saya. Pas jam 12 itu, Maundri sudah selesai menerima tamu dan menggantikan saya menemani Pak Dana.

Lalu saya jalan-jalan ke himpunan-himpunan, bagiin SoC dan ngobrol ama kadiv-kadiv kominfo. Daaan, selama obrolan saya dengan para kadiv, Pak Dana ngirim SMS. Berhubung saya lebih menghormati orang yang ada di depan saya ketimbang yang mengirimi saya SMS, saya tidak langsung baca SMS dari beliau. Saya nunggu. Sampai selesai ngobrol ama kadiv-kadiv kominfo.

Beliau SMS ini:

  1. siang,ni no hp sy  nama sy DANA, mksih td ud nge bantu sy yg 50rb,smoga bang oki slalu di lindungi o/tuhan YME
  2. anak sy ( Nadin ) lg skolah di TK saat ni lg mem- bth kan meja belajar & alat tulis,brang kali aja,bang oki py yg di bth kan anak sy,sy siap menerima nya
  3. meja blajar yg wrna coklat yg pendek,di rmh tdk py,kasi an klw anak sy lg blajar tulis2 an, baca2 hrs tdur2 an jd ga bner blajar nya,pensil tulis,gambar, ga py
  4. sy sdang bkerja tp utk 6 bln ke dpan sy tdk akn merasakan uang gaji an, krna hrs mem- byr smua utang2 kluarga sy ke rentenir dlu bkas ke rmh sakit ( setruk )
  5. ini alamat rmh jalan sukabirus Rt 6 Rw 15 gang akil 1 daerah buah batu arah yg mau ke bojong soang itu rmh numpang,bkn rmh sy,layak nya di sebut gubuk bkn rmh
  6. dkat kampus ITB sy lhat ad tmpat yg jualan meja2 sbelum msuk grbang ITB,sy tdk minta uang,tp mnta meja blajar nya & alat tulis,bku gambar jg,sy tdk meminta smua
  7. nya ya minimal meja belajar ny sukur2 sih smua nya bang oki bs bntu
  8. bang oki kan py byk teman2 sesama mhasiswa ITB mgkin bs dgn cara patungan
  9. utk skrg2 sy ga bs beli kperluan skolah anak sy, sy hrs mlunasi smua utang2 istri,mertua jumlah ny sgt bsar skitar 3 juta an,ke rentenir
  10. sy jg bth baju bekas,klw ada sy terima
  11. anak sy makan sgt kekurangan sehari makan sehari tdk,

Oke. Respon saya kira-kira seperti ini: “Bulan depan saya bantu lagi ya, Pak. Waktu survei KM-ITB ke daerah bencana selanjutnya, saya kemungkinan besar akan ikut kok.

Dalam hati: Maaf sekali, Pak, saya tidak bisa banyak membantu. ^^ Saya peduli dengan nyawa dan masa depan anak Bapak, tetapi saya juga punya tugas dan kerjaan untuk diurus. Bahkan dalam cerita “Orang Samaria yang Baik Hati” pun, si orang cuma mengantar korban-perampokan itu ke penginapan dan menitipkan orang pada penjaga penginapan untuk perawatannya. Saya cuma bisa bantu dalam doa dan, mungkin bulan depan, meja belajar dan buku untuk Nadin.

Lagipula, karena Bapak tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik saat mengirim SMS, saya jadi malas untuk membantu Bapak lagi. Semoga di kunjungan ke ITB yang selanjutnya, Bapak bisa menemukan orang yang lebih baik hati dari saya. Semoga Nadin cepat sembuh.🙂

You, who have finished reading this, what would you do in my position? Me? I would not care if his family starve. Natural selection, Sir. The lazy and incompetent ones cannot live in a big city of Bandung. Sorry, please just migrate to a smaller town or village.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s