Jadi, Kenapa Masih Ada OSKM ITB dan Pengaderan Himpunan?

Selamat untuk adik-adik yang baru masuk himpunan di ITB😀 Saya ikut senang kalian bisa berbakti di sana. Semoga berkarya di himpunan memang benar-benar menjadi gairah kalian.

Saya punya beberapa pemikiran skeptis-pesimis tentang pengaderan terpusat dan pengaderan wilayah di ITB, yang kita kenal masing-masing dengan OSKM ITB dan ospek fakultas atau ospek jurusan.

(Mari gunakan kata “pengaderan” saja. “Kaderisasi” adalah diksi yang digunakan oleh mereka yang tidak mengerti cara pengimbuhan dalam bahasa Indonesia. Penggunaan “kaderisasi” itu sekonyol orang yang mengistilahkan “budidaya lele” dengan “lelenisasi”.)

Tahukah kalian apa sebenarnya kegunaan pengaderan himpunan? Pewarisan nilai-nilai dari senior? Bukan. Tujuan utamanya adalah mencari massa himpunan. “Pewarisan nilai”—yang biasanya disebutkan dengan salah kaprah oleh para komandan-lapangan dengan diksi “penurunan nilai”—bisa kalian dapatkan dari berbagai tempat: LSM, unit, teman-teman, dan buku. Bahkan, “nilai” yang diwariskan oleh para pengader di OSKM atau osjur cenderung tidak lebih baik dari yang kalian bisa dapatkan dari membaca buku serupa.

Lalu kemudian, walaupun mutunya nisbi (= relatively) rendah, kenapa OSKM dan osjur masih dilakukan? Kenapa masih ada yang rela bangun pagi, sarapan roti kemarin malam, taking a dump terburu-buru sampai lupa guyur, dan dengan tidak sadar nyemprotin hairspray ke kaos? Ini adalah beberapa pemikiran saya, terurut secara acak.

Please note that my thought is mine alone and does not necessarily represent ITB as a whole nor any of its organization whatsoever.


Walau SDM Payah, Proker Harus Terlaksana


Bagaimana seorang yang miskin prestasi bisa memberi ceramah tentang persoalan bangsa dan solusinya kepada anak-anak baru yang sudah punya segudang karya tingkat nasional? This: I speak for myself. Salah satu yang membuat saya skeptis kepada pengaderan terpusat dan himpunan adalah adanya komandan lapangan (i.e. drill instructor) yang omongannya tidak mencerminkan tindakan mereka sehari-hari.

Berbeda dengan beberapa danlap di ospek ITB, Dr. Banner baru akan ngomong kalau dia punya dasar yang kuat dan punya kredibilitas untuk membuktikan omongannya. LINKMACHINEGO

Mereka incredible. Tidak kredibel. Tidak dapat dipercaya. Ngakunya pegiat pelindung lingkungan hidup, tapi beliin tastangan dari kulit Dalmatian buat pacarnya. Ngakunya cuma makan makanan yang bersertifikasi halal, tapi tiap hari makan temen dan makan hati orang tua. Serigala berbulu ketek.

Sementara itu, tiap tahun harus ada pengaderan. Entah gimana, acara harus jalan. Jadi ya, gunakan yang ada aja.

Kenapa para pembentak ini, walau tidak memegang perkataan yang mereka ucapkan sendiri, tetap suka berlantang-lantang di depan peserta pengaderan? Kita belum mendapatkan jawaban yang pasti. Tapi, mari mengacu pada opini publik yang beredar: karena para pembentak merasa itu hal yang lucu.


Menyaring Emas dari Sungai Lumpur


Jangan lupakan bahwa para Destined Children, maba ITB, adalah orang-orang yang cerdas dan sudah (cukup) banyak makan asam-garam organisasi kesiswaan. Waktu maba memutuskan “ikut OSKM hari ini”, mereka udah tau pasti kalo mereka bakal dapat… yah… sebagian besar pepesan kosong. Udah pengalaman, dari MOS dan diklat ekskul. Toh, maba tetep ikut OSKM.

Kayak waktu kita main ke wahana rumah hantu. Kita tahu bahwa kita akan dikagetin oleh setan boong-boongan, diiringi musik standar bermutu 64kbps. Tetep adaaa aja yang beli tiket.

Seculun-culunnya boneka dalam rumah hantu, tetep ada dong rasa takut yang timbul. Selontong-lontongnya teriakan mahasiswa swasta tingkat 3 dan 4, tetep ada dong dorongan semangat dan petuah kebenaran yang muncul dari bacotan mereka.

They come to hear that tiny bit of truth.

Kalau kamu benar-benar bisa menyaring materi ospek, kamu pasti akan bisa menemukan emas di tumpukan barang-bukan-emas. GROUCHYMUFFIN.WORDPRESS

Kita Butuh Hiburan Pengisi Liburan


You know, kadang seorang mahasiswa terdidik yang punya akses ke semua film-seri-bermutu tingkat-dunia, misalnya The Big Bang Theory, memutuskan untuk ngikutin sinetron Indonesia. Bukan karena dia tertarik dengan jalur cerita sinetron itu, tapi karena dia penasaran how weird this series can become. Id est, para peserta OSKM ingin melihat seberapa ‘kosong’ teriakan yang bisa diserukan massa-kampus.

Kita menonton Tutur Tinular karena kita butuh sesuatu untuk ditertawakan bersama-sama dengan teman kita yang menontonnya juga.
DETIKFORUM

Lagipula, toh maba ITB juga sedang tidak ada kegiatan. Belum ada proyek untuk dikerjakan, belum ada bisnis untuk dijalani, belum ada lomba untuk diikuti, belum ada pacar untuk diurus. Apa salahnya ikut “karyawisata” dan “tur kampus” gratis ini?


Wadah Interaksi dengan Mahasiswa Baru


Kita butuh kenalan. Butuh sosialisasi. Itulah kenapa waktu libur, kita kangen kampus. Kita kangen teman-teman dan main-main. Itulah juga kenapa ada materi yang “kosong” saat OSKM atau osjur. Meeeen, kalo selama OSKM semua materinya menarik-dan-berisi, kapan kita punya waktu untuk interaksi dengan teman-teman sekelompok dan sebelah kelompok?


Tidak, bukan artinya saya tidak sayang kemahasiswaan terpusat maupun himpunan saya. Saya belajar banyak dari kedua organisasi itu. Bukan juga artinya saya ingin pengaderan terpusat maupun pengaderan himpunan dihentikan. Selalu ada nilai luhur dan pengetahuan baru yang saya terima setelah mengikuti masa-masa pengaderan.

Yang saya kecewakan adalah caranya yang nisbi barbar dan tidak bertanggung jawab. Contohnya, himpunan berjaket kondektur.

“Tapi nanti, di tempat kerja, kamu juga akan dibentak-bentak ‘kan?”
“Tidak. Saya akan bikin perusahaan sendiri. Sori yee. Emang elu?”

Yang saya ingin lihat adalah perubahan cara penyampaian. Buatlah pengaderan yang tegas tapi lembut. Jadikan pengaderan itu kayak akupuntur akupunktur. Berikan tusukan yang nyelekit hanya di tempat yang benar-benar diperlukan. Itu pun dengan niat menyembuhkan penyakit, bukan dengan niat ngebolongin tubuh pasien atau bikin pasien terluka.

Semoga tulisan saya ini bisa menjadi pertimbangan panitia kemahasiswaan ITB untuk bahan pengaderan selanjutnya. Saya sayang kalian semua.😀

19 thoughts on “Jadi, Kenapa Masih Ada OSKM ITB dan Pengaderan Himpunan?”

  1. Teman-teman, karena tiba-tiba banyak kunjungan ke tulisan ini, saya memperjelas lagi apa yang saya tulis di sini—menambahkan gambar, memberi tambahan tanda baca, dan menyunting beberapa kata. Yang kalian lihat sekarang adalah versi akhir, terhitung dari tanggal pengiriman komentar ini: 4 November 2012, 11:08:20.

  2. Cukup setuju.. Memang kualitas pengkaderan sudah mulai menurun… Semoga tulisan anda tidak membuat orang2 yang sudah dari awal apatis hanya karena kemalasan atau keegoisan tidak semakin kegirangan… Mungkin kondisi sekarang buruk, tapi bukan untuk ditinggalkan..

    Sangat tertarik dengan kritik anda tentang danlap. Kadang saya menemukan danlap yang kurang greget, dan memang semakin lama kenal, danlap tsb memang masih kurang integritas.. Sedangkan danlap yang greget, memang ketika kenal lebih jauh, memang memiliki integritas..

    1. Semoga tidak. Pengaderan itu harus dirancang sedemikian rupa sehingga membuat pesertanya bangga karena telah ikut pengaderan itu.

      It’s useless to force them to join us. They’ll come by themselves when they realize it’s worth it.

  3. LIKE THIS!
    “Tapi nanti, di tempat kerja, kamu juga akan dibentak-bentak ‘kan?”
    “Tidak. Saya akan bikin perusahaan sendiri. Sori yee. Emang elu?”

    1. Haha😀
      Menurut cerita beberapa alumni, di kantor pun, junior masih nunduk-nunduk kalo berpapasan ama senior. Aku sendiri sih kemarin kerja praktik di tempat yang tidak seperti itu, jadi tidak tahu rasanya dibentak-bentak. :))

  4. Bravo! Saya paling suka kutipan ini:
    “Tapi nanti, di tempat kerja, kamu juga akan dibentak-bentak ‘kan?”
    “Tidak. Saya akan bikin perusahaan sendiri. Sori yee. Emang elu?”

    Sejujurnya saya selama di kampus sudah mengikuti dan memantau kegiatan OSKM selama 4 tahun. Dengan tujuan apa? Untuk eksis? Tidak. Saya hanya ingin mencari kenalan dan esensi dari acara yang panjang itu, sesuai tulisan di atas “mencari emas di tumpukan logam bekas.”

    Yang saya rasa, kita perlukan adalah: mencari cara mempersiapkan mahasiswa baru menjadi mahasiswa yang benar ketika sorotan mulai membuat kampus ini menjadi kampus orang kaya dan manja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s