Berhenti Mengeluh, Mahasiswa Miskin ITB!

Aku menemukan beberapa mahasiswa ITB yang menyatakan bahwa ITB dihuni oleh kaum borjuis yang tidak merakyat. Melihat kesan pribadi yang mereka tuliskan, sepertinya orang yang mengkritik “ITB adalah kaum borjuis” ini berasal dari keluarga ekonomi lemah. Mereka merasa tidak diperlakukan dengan layak dan merasa dikucilkan di ITB.

Hai teman-teman ekonomi lemah yang mengeluhkan lingkungan borjuis ITB, kalian harusnya malu. Para anak “borjuis” ITB tidak pernah sama sekali memandang kalian lebih rendah dari mereka. Mereka justru kagum atas keberhasilan kalian kendati keterbatasan biaya. Kalian sendirilah yang membuat diri kalian rendah di mata anak-anak mapan ITB.

Jika mereka memang tidak mampu, harusnya katakan saja, secara tersurat maupun tersirat. Jangan memaksakan diri untuk memiliki gaya hidup anak-anak borjuis yang kalian temui di kampus. Bagi penduduk kota besar, gaya hidup itu biasa. Lagipula, gaya hidup mereka dipengaruhi besar oleh keluarga. Bukan salah mereka.

Selain itu, gaya hidup anak ITB tidak bisa disamaratakan. Kalau mereka ingin mengambil contoh komunitas yang bhinneka tunggal ika, cobalah tinggal di asrama. Beberapa asrama ITB menjunjung tinggi kekeluargaan, tenggang rasa, dan tolong menolong, tanpa pandang ras, agama, IP, maupun status ekonomi, misalnya asramaku dan Luhut. #cihuuuibumiganesha

Tidak ada alasan yang kuat untuk mengeluhkan biaya hidup di Bandung. Cari beasiswa biaya hidup di ITB gampang. Tinggal datang ke IOM atau, kalau kamu kristen, Diakonia PMK ITB, dan mereka akan dengan senang hati membantu. Syaratnya, yang dibantu harus benar-benar menghargai bantuan yang diberikan. Kalau butuh uang jajan lebih, mahasiswa bisa ngajar anak SMA atau ngedanus jajanan unik. Dijamin laku.

Yang memusingkan adalah ketika mahasiswa ekonomi lemah meminta perhatian khusus, “Saya berasal dari keluarga miskin. Harusnya kalian dong yang berprakarsa untuk membantu saya. Jangan nunggu saya yang minta. Juga, tolong jangan membicarakan payPhone 5 di depan saya. Saya gak punya benda itu.

Kuberi cerita singkat. Dahulu, di semester satu, waktu aku masih belum punya laptop, aku bikin kartu nama (:ohgodwhy:) pake laptop punya temen. Aku tidak ingin seenaknya, tentunya, jadi sebagai timbal baliknya, aku ngebagusin kinerja laptopnya. Karena ponselku waktu itu juga gak bisa baca Portable Document Format (.pdf), aku ngakalin dengan nyetak bukutronik per bab, supaya murah dan ringan dibawa. Sementara itu, beberapa mahasiswa miskin mengeluhkan, “Dasar dosen tidak pengertian. Dikira dengan dia ngunggah softcopy ke situs kuliah, semua mahasiswanya bisa akses.”

Dan, sungguh, bentuk hiburanku bukan nonton di Cifly atau wisata kuliner di Hanamichi. Aku ke perpustakaan pusat dan berburu buku bagus. Bahkan, saking seringnya baca, aku sampai kagum mikirin gimana perpus ITB mengelola buku-bukunya. Akhirnya, aku belajar Sistem Persepuluhan Dewey yang dipakai pustakawan untuk menggolongkan dan menomori buku. Sementara itu, beberapa mahasiswa miskin mengeluhkan, “Huh, mereka main DotA, pasti supaya saya tidak ikut main karena tidak punya laptop. Huh, mereka ngomongin konser Jason Meras. Saya tidak punya uang untuk beli tiket, jadi jelas saya tidak bisa nimbrung.

Ketika para mahasiswa miskin ini cemburu melihat teman-temannya bisa ngunggah foto di Instagram dengan paket internet tanpa batas, sementara dia sendiri harus jalan 5 km ke Comlabs untuk bales pesan Facebook…

Apa yang kamu harapkan dari mahasiswa ITB? Kamu ingin mereka semua pulang-pergi kampus jalan kaki? Kamu ingin mereka semua menggunakan ponsel layar monokrom? Kamu ingin mereka semua sarapan nasi pecel di warung sebelah? Kamu ingin mereka menggunakan baju dan celana yang dibeli di Gasibu? Kamu ingin retret anak ITB dilakukan di tempat yang dekat-dekat saja, seperti sekre HNLJ di samping kampus?

Mahasiswa ini sendirilah yang harus mengubah sudut pandang.

Ah, kakiku jadi lebih kuat, tubuhku jadi lebih sehat. Aku bisa menghidup udara segar secara langsung. Aku bisa mendengar suara angin yang meliuk melewati tulang daun. Heran, kenapa orang lebih milih bermacet-macet di jalan raya kalau akhirnya tujuan mereka adalah jalan di treadmill?

Sekarang orang mengecek Twitter dan Facebook bukan karena mereka butuh info terbaru, tapi karena mereka ketagihan. Syukurlah, dengan akses internet terbatas, saya bisa bebas dari ketagihan seperti itu.

Gila! Beli majalah National Geologic di Gasibu hemat 80%. Dengan begini, aku bisa ngirit pulsa buat sms-an ama pacar. Eh, tapi aku belum punya pacar deng. Gimana cara dapatnya ya?

Kalau hidup saya ini permainan, Tuhan ingin saya untuk menjalani masa kuliah di ITB ini dalam hard-mode. Dia percaya saya punya kemampuan yang besar, karena itulah Dia menantang saya untuk menjalani semua ini. Kenapa saya harus sakit hati melihat mereka yang mendapat segala sesuatu dengan mudah?

Jadilah percaya diri, Kawan!

Jangan langsung menjauh ketika teman-teman lain membicarakan sesuatu yang ‘borjuis’. Bilang saja dengan santai ke teman yang nonton konser, “Yaah, aku gak punya uang nih buat beli tiket D’arc~in~Sky di Gelora Bang Karyo. Ntar ceritain ama unggahin videonya ke Yutup ya.”

Jangan sungkan-sungkan ketika kamu harus sms-an di kelas menggunakan Yeskia 5110. Toh kebanyakan mahasiswa menganggap jenis ponsel itu eksentrik dan langka. Beberapa bahkan mau membayar mahal untuk memilikinya.

Tidak perlu malu untuk membuka kotak bekal saat teman-teman semeja memesan makanan seharga 25+ ribu di kantin Labtek V. Toh mereka merapat di meja itu untuk mendengar pendapatmu sebagai ketua pengaderan, bukan melihat lauk yang kamu bawa.

Kalian! Jangan membuat diri kalian seolah minta dikasihani dan butuh perhatian. Kalau para mahasiswa miskin bisa bergaul dengan semua golongan tanpa merasa minder, justru para teman-teman borjuis yang akan segan. Sungguh, dalam hati, mereka menyimpan kekaguman yang terdalam.

Belum selesai. Kalian bisa berbuat lebih dengan atribut miskin itu. Nyatakan syukur atas keadaan hidup kalian di depan teman-teman. Berbanggalah karena kalian adalah orang yang dipercaya Tuhan untuk melewati rintangan yang lebih keras. Bermegahlah karena kalian adalah bukti nyata penyertaan-Nya pada manusia.

Jika di akhir nanti, kalian tertawa menjunjung piala di hadapan seluruh orang seraya berkata, “Puji Tuhan banget yah,” hati mana yang tidak akan meleleh? Semua akan berdecak, “Sungguh, dia adalah arang yang dibentuk menjadi berlian oleh tangan Tuhan sendiri.”

Busway, aku mahasiswa yang tidak kaya dan tidak miskin. Kiriman sebulan rata-rata satu setengah juta, dipotong 100 ribu untuk sumbangan ke Greenpeace dan 250 ribu untuk asrama + internet. Itu bukan masalah. Aku bisa menyesuaikan diri dengan jumlah kiriman itu. Lagipula saya yakin, kaya-miskin tidak ada hubungannya dengan harkat manusia.

Oh, well, ciao.

25 thoughts on “Berhenti Mengeluh, Mahasiswa Miskin ITB!”

  1. ‘Datengin orangnya’ itu kegiatan yang produktif, tapi akan makan banyak waktu dan tenaga. Mending nulis di sini, biar nantinya mereka sendiri yang datang ke sini, wkwkwk.

    Yang kita lakukan harus reproduktif.

    1. Hai, ebaroroh😀

      Tidak seberbeda itu kok. Teman-teman ekonomi lemah yang saya kenal juga masih asik-asik aja main bareng, nonton, dan karaokean, asal ditraktir, haha…

    1. Ah. Ya, terima kasih🙂 Walaupun begitu, adalah benar bahwa mereka yang “mengeluh karena miskin” di ITB adalah mereka yang malas mengurus beasiswa.

  2. SUMPAH INI BAGUS😀 Seneng deh ngebacanya. Nurutku ini harus disikapi dengan 2 sudut pandang : 1) Temen-temen yg butuh beasiswa perlu proaktif nyari beasiswa. 2) Pihak-pihak yg punya beasiswa perlu welcome & ngasih info beasiswa ke sekeliling. Siapa tau, ada kondisi si A bener2 butuh beasiswa tapi ga berhasil dapet info tentang beasiswa B🙂

    1. Yey, Syafi!
      Benar sekali. Bahkan, mereka seharusnya menghubungi kadiv kesejahteraan mahasiswa dan tanya, “Broh, kalo ada beasiswa atau info lomba, kabar-kabarin gue dong.”
      Sementara itu, pihak yang menyediakan beasiswa harus menghubungi himpunan-himpunan untuk memberitahu informasi beasiswa.
      Busway, Tim Beasiswa KM-ITB itu apa kabarnya ya? Perlu dibantu tuh, Fir.

        1. Menurutku, harusnya kitalah, sang anak-anak jurusan serba-bisa, yang mengelola sistem informasi untuk hal-hal seperti ini.

          Coba bikin lah, Syaf!😀
          Kita harus jadi senator-senator yang bisa memberikan solusi nyata untuk mewujudkan gagasan kita.

  3. mantap bangetlah~

    aku juga tidak kaya dan tidak miskin. Aku masih bawa bekal untuk makan siang. HPku juga kayaknya nggak layak buat dicolong orang. Pulang pergi masih naik angkot.

    Tapi banyak banget sisi positif yang bisa aku dapat dari ini, setidaknya bersyukur bahwa aku masih bisa kuliah, ya nggak😛

  4. Tulisan ini bagusss banget okihita🙂 ditulis dengan apik dan penuh energi positif.. Kamu bisa nambahin motivasi dengan biografi si hendra kwik (mapres ITB yang mulai bisnisnya dari nol).. Sering2 posting yg kyk gini yaa..🙂

  5. Finally, don’t forget to include seated dumbbell presses in your routine. Nothing if you got a lot of room or you can afford them. The 2009 models came out in September of 2008 and is the newest model regardless of what numerous third-party sellers are portraying, there is no 2010 model.

  6. Permasalahannya, tak jarang mahasiswa borjuis itu menghina. Kalo mereka ingin hidup mewah sebenarnya tidak masalah, tapi tidak usah berikan komentar bersifat menghina kepada mahasiswa miskin. Bahkan secara tidak langsung blog ini merendahkan mahasiswa miskin.

  7. Mungkin yang dimaksud mahasiswa miskin mengeluh itu curhat. Mahasiswa miskin juga tau kalo itu gaya hidup mereka. Mereka itu mengeluh mungkin hanya untuk mengeluarkan isi hati mereka dan tidak berharap agar mahasiswa borjuis itu memiliki keadaan yang sama dengan mereka. Mereka hanya lelah saja dan orang yang lelah biasanya tak jarang mengeluh.

  8. Gausah lah pake kata2 mahasiswa miskin, terlalu rasis, walaupun kita mahasiswa mampu engga sepantasnya ngomong kaya gitu, lagian engga semua dari mereka punya sifat kaya gitu. Kalo emang udah kesel bgt sama orang yg ngeluh itu mending ngomong langsung aja ke orangnya terus nasehatin, kasih tau dengan baik, buang deh jauh-jauh rasa gengsinya. Kalo emang tu orang ga mau denger, yaudah biarin aja. Bukan urusan kita juga, biar aja mereka ngeluh terus sampe mereka puas dan cape.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s