Seminar Jurnalistik ala Dokter

Terpujilah engkau mahasiswa kedokteran UI Salemba yang mengadakan pelatihan jurnalistik pekan lalu. Hari Sabtu itu, gudang di kepalaku mendapat ekspansi. Setelah bosan menghafalkan semua pengecualian CSS di IE6 yang menjadi alasan rekan-rekan desainer web memutuskan pindah pekerjaan jadi pemulung, akhirnya ada kesempatan untuk jalan-jalan ke kampus lain.

Anak Kedokteran UI bukan cuma jago ngulik mayat. Mereka punya tabloid nasional sendiri yang dirawat dengan penuh kasih sayang dan diberi julukan Media Aesculapius, lengkap dengan situs. Isi tabloid ini tidak main-main. MA menjalin kerja sama dengan badan kesehatan nasional untuk mendapatkan data terbaru kesehatan Indonesia, mewawancarai doktor-doktor UI untuk mencari tahu apa vaksin terbaru yang dihasilkan tahun ini, dan mampir ke Australia untuk menguak bagaimana para doktor atlet di sana memperlakukan para pesepak bola.

Khususnya dokter yang bisa mengatasi cidera semacam ini.

…dan kegiatan pelatihan jurnalistik ini bertujuan untuk memerlengkapi mereka, para calon dokter muda Indonesia, dengan pengalaman dari para ahli.

Sesampainya di UI Salemba dengan selamat sentosa, satpam kampus menjawab pertanyaan pertamaku dengan, “Oh. Dari kamar mayat itu belok ke kanan, Mas.” Hemm… Bisa dimaklumi. Tidak banyak landmark yang bisa dijadikan pedoman arah di sini.

Hopla, itu spanduk acaranya. Hal pertama yang kulakukan setelah membayar 50 bakwan adalah ngobrol dengan kelompok orang yang paling dikucilkan dalam sebuah kepanitiaan seminar.

Wah, baru segini ya yang tanda tangan.
Iya nih. Orang-orang suka telat datang. Ngomong-ngomong, Mas asalnya dari mana?
Dari Jawa Timur.
Jauh banget!
Kuliah di ITB sih.
Oh.

Jadi, ada yang namanya reflek kalimat templat ketika kenalan dengan mahasiswa lain. “Aku Okihita, Teknik Informatika 2009, ITB. Kamu dari fakultas apa?

Hening dua detik.

Oh, maksudku, kuliah di fakultas kedokteran pasti enak ya. Bisa nyuntik orang semaunya, semuanya. Kayak Susan. Hahaha… Aku masuk dulu ya. Uang kembalianku nanti aja kuambil.

Pendingin udara dinyalakan, layar terang benderang, mikrofon dipukul-pukul oleh pembawa acara. Here we go.

Babak 1 – Journalistic: Past, Present, Future

Kenapa? Karena masyarakat Indonesia Raya lebih suka baca linimasa @Liputan9 ketimbang @Time.

Konon, paragraf pertama sebuah berita harus mengandung Abdikasim (apa, bagaimana, di mana, kapan, siapa, mengapa). Makin ke belakang, hal yang diliput dalam sebuah berita harus makin tidak penting, supaya kalau redaktur mendadak butuh memotong berita untuk spasi iklan, dia tinggal menghapus satu paragraf terakhir.

Semua tinggal legenda. Sekarang, wartawan bisa memberikan informasi apa pun di bagian mana pun dari beritanya. Wartawan juga bisa langsung melihat bagaimana beritanya akan disajikan, dengan bantuan modem dan piranti lunak yang langsung bisa menyimulasikan tampilan berita di edisi cetak koran esok hari. Oh, teknologi.

“Kerangka kerja 5W1H pun kini ber-evolusi menjadi matriks,” kata Bapak Usman Kasong, pembicara utama sesi itu.

“Siapa nama kamu, Dik?”
“Adi, Pak.”
“Kalau kamu?”
“Joko, Pak.”
“Nah, peserta seminar sekalian, dulu, pemberitaan di koran itu sebatas menuliskan ‘Adi mencium Joko di depan WC kampus sore ini.‘,” Direktur Utama Media Indonesia itu memberikan contoh yang aplikatif, “…tapi sekarang kita bisa membuat matriks pertanyaan dari enam pertanyaan dasar itu.”

Kira-kira seperti ini materi yang dijelaskan beliau. Mohon pengertian bahwa pikiranku tidak bisa merekonstruksi ulang apa yang dikatakan beliau dengan akurasi penuh.

“Lihat? Sekarang, dengan kekritisan kamu, kamu bisa menggali 36 pertanyaan turunan ketimbang sekadar mencari berita linear,” jelas beliau disertai decak kagum Adi dan Joko yang tidak menyangka cinta terlarang mereka bisa menjadi inspirasi jurnalistik bagi 60 mahasiswa di ruangan itu.

Babak 2 – The Art of Interviewing and Writing a Profile

Kenapa? Karena kamu harus menghindari jenis pertanyaan semacam “Pak, boleh minta pin BB?”

Ketidaksiapan wartawan tampak ketika ia, misalnya, mau mewawancarai seorang sumber tanpa mencari nama sumber itu hingga halaman lima penelusuran Google. Tanpa pengetahuan yang luas tentang latar belakang sumber, jangan harap wartawan mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menarik minat sumber untuk menjawabnya.

Dalam situasi kikuk (awkward moment) ini, wartawan akan gagal menjalin hubungan yang nyaman dengan sumbernya sehingga wawancara—jika masih diputuskan untuk berlanjut—tidak akan kondusif. Wartawan tetap masih bisa mengumpulkan remah-remah informasi, namun semua itu tidak akan maksimal.

Kiat dari Pak Budiarto Shambazy, Redaktur Senior Kompas, terkait persiapan wawancara dengan narasumber: jangan menanyakan sesuatu yang bisa dijawab dengan “ya” atau “tidak”. Alih-alih memberikan pertanyaan, lemparkan saja sebuah topik umum kepada narsum; narsum hal yang ingin disampaikan narsum lebih banyak ketimbang yang pertanyaan yang kepikiran di otakmu yang kecil itu.

Beliau juga menceritakan pengalaman beliau di masa orba dulu, di kala tiap hari ada saja karung yang ditumpuk di pemakaman terdekat. Pada masa itu, media harus sangat hati-hati memilih diksi, atau mati.

Babak 3 – Marketing and Branding, Dua Pilar Penyangga Media

Kenapa? Karena kamu tidak mau majalahmu terselip di rak “pelajaran menggambar untuk balita”

Hem, dengan rendah hati kukatakan, aku sudah cukup banyak mengerti tentang materi ini. Kala Bapak Saiful Bachrie, Kepala Divisi Marketing Communication Media Indonesia, memberikan presentasi beliau, aku keluar ruangan dan ngobrol pribadi dengan Pak Budi, menanyakan pertanyaanku yang tidak kebagian menit di sesi sebelumnya. Gila, kapan lagi bisa ngopi berdua dan ngobrol dengan petinggi Kompas?

Babak 4 – Expert in Managing Your Website

Kenapa? Karena kalau ada yang ingin tahu lebih banyak tentang produkmu, mereka menekan Ctrl+E di Firefox.

“Berita yang ditampilkan di sebuah situs haruslah singkat, jelas, dan mengundang pembaca untuk memberi komentar,” wanti-wanti Mas Abdul Qowi Bastian, Redaktur TheJakartaGlobe.com. Dia juga bilang, untuk menarik pengunjung ke situs atau blog perusahaan, biasanya redaktur blog membayar narablog profesional untuk mengisi situs dengan konten yang sesuai dengan bidang keahlian narablog itu.

Aku juga bertanya tentang seberapa pentingnya pencantuman QR Code dan shortlink di media cetak. Beliau jawab, “Berhubung saya tidak pakai BB dan Android, saya sih tidak pernah mengakses yang begituan, hahaha…,” balas beliau.

Menjawab sekali, Pak. Menjawab sekali.

Oke. Ini pukul 00:57 dan aku tidak tidur siang. Mungkin kalau ada yang bertanya di kolom komentar di bawah, aku bisa ingat lagi pelajaran-pelajaran lain yang kudapat dari seminar ini.

Babak 5 – Fotografi, Penyempurna Sebuah Karya Jurnalistik

-_-
Karena syarat ikut sesi ini adalah punya kamera Sing Larang Regane atau minimal kamera digital, jadi aku tidak bisa mengikuti acara hari kedua.

Bagaimanapun, terima kasih sebesar-besarnya untuk teman-teman FKUI yang sudah repot-repot mengadakan acara ini. Semoga jumlah orang sakit di Indonesia tetap terjaga dalam rentang yang wajar. Salam damai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s