Mendesain untuk Diri Sendiri

Kadang aku kesal ama anak FSRD yang seproyek denganku, khususnya proyek majalah. Beberapa dari mereka, kalo ngedesain tata letak (layout) majalah, suka-suka sendiri. Mereka bukan merancang tata letak untuk mempermudah pembaca mendapat informasi dari halaman, melainkan untuk membuat halaman itu kanvas bagi karya pikiran mereka yang, sumur (well)… abstrak. Misalnya (hanya misal), artikel tentang pemakaman dikasih ilustrasi mayat sedang makan otak orang. Lalu, apa hubungannya artikel virus komputer dengan pisang dan awan?

Kasus desain untuk diri sendiri bukan cuma terjadi di kalangan perupa. Pemerintah juga melakukannya. Menurut catatan salah satu temanku, sekitar setahun yang lalu Pemda DKI meruntuhkan bangunan Pasar Mayestik di Jakarta, sebuah pasar tekstil yang sangat besar. Pasar fesyen, kata mereka. Jangan kaget kalau kamu menemukan mahasiswi berpakaian warna-warni, lengkap dengan kacamata hitam ala sinetron Office Boys. Ada yang bilang, jika kamu beruntung, kamu bisa juga dicolek oleh tante-tante seksi yang, eh, ternyata dari Thailand.

Desain eksteriornya sih bagus. Tapi tetap waspadalah, teman-teman.
TOURISM OF THAILAND

Setelah didesain ulang, gedung itu jadi sangat modern. Warnanya bukan lagi kelabu, melainkan putih terang. Lorong jalan jadi lebih besar, AC dinyalakan dari pagi sampai malam, dan dinding menjadi konkret.

Sayangnya, para pedagang di dalamnya tidak nyaman dengan itu. Mereka kedinginan tiap hari dan itu menghambat kegiatan mereka. Mereka tidak boleh lagi memaku dagangan mereka di tembok-tembok dan, uh… mereka tidak bisa menggunakan shower. Di rumah mereka, para pedagang itu sudah terbiasa mandi di kali dan sabunan pake batu. “Hah, memangnya kami bunga? Kok disuruh mandi pake cipratan air kecil-kecil gini?”

Hal yang sama terjadi di gedung kantorku: semua WC-nya adalah WC duduk; tidak ada WC jongkok sama sekali. Bayangkan bagaimana aku, seorang anak dari Timur, bisa beradaptasi dengan desain WC seperti itu—membatasi ruang gerak dan mengekang kebebasan berekspresi. Sungguh tidak… memuaskan.

Desainer harusnya mendesain untuk menjawab kebutuhan pengguna, bukan untuk mengekspresikan diri sendiri. User-oriented. Dosen software engineering-ku selalu mengingatkan kami untuk terus menerus ketemu dengan klien, meminta umpan balik dari mereka sebelum melangkah ke tahap pengembangan selanjutnya. Jadi, begitulah, para perancang. Pastikan, sebelum kalian merancang, kalian benar-benar tahu oleh siapa produk kalian akan digunakan.đŸ˜€

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s