Si on Devait Mourir Demain

Malam ini, aku diingatkan lagi bahwa waktuku di dunia ini terbatas.

Barusan, jam 10 malam tadi, aku mengantarkan seorang adik kelas (ceilaaaaah) ke Cimahi naik motor, setelah sebelumnya ikut sosialisasi Earth Hour KM ITB. Waktu mengantarkan dia, kami ngobrol di jalan tentang rencana KP, cita-cita, tugas-tugas yang sekarang sedang menumpuk, dan keinginan di masa depan.

Sepanjang perjalanan pergi-pulang, Bandung diterpa hujan. Asyiknya, karena aku punya tingkat kekebalan yang tinggi terhadap dingin–terima kasih untuk pilek selama 6 tahun di masa SD–jadi aku tidak perlu jas hujan. Setelah mengantarkan adik itu dengan selamat ke rumahnya, aku langsung pulang ke ITB, 30 km dari rumah adik itu.

Pulangnya, eeh… ada lubang besar di jalan. Biasa laah, jalan di Bandung banyak lubangnya. Karena lubang besar yang berkerikil itu, ditambah bantuan hujan rintik-rintik, berhasillah motor yang kupinjam itu terguling-guling. #gubrak #cieeeeeet #soundeffect

Dalam sepersekian detik motorku oleng, satu-satunya yang terpikir saat itu adalah, “Tuhan, aku belum siap mati.Tugas kelompok kuliah masih belum kelar.” Jalanan cukup ramai. Aku sadar benar saat itu ada satu mobil di belakangku. Kalau badanku jatuh ke arah tengah jalan dan ban mobil itu lewat tepat di atas kepalaku, woah… Pasti sakitnya tidak terasa.

Syukurlah, itu tidak terjadi. Walau badanku jatuh ke arah dalam jalan, nyawaku aman. Motor menimpa badanku (aduh) dan membuatku tidak bisa bergerak. Saat aku pasrah itu, mobil di belakangku berhenti. Aku masih belum sadar benar. Tiba-tiba dua orang karyawan Ind*maret terdekat membantuku membangunkan dan menepikan motor yang jatuh.

Grace

Singkat cerita, setelah aku mengembalikan motor dan pulang ke asrama, aku merenungkan lagi kenapa aku bisa hidup hingga hari ini.

Karunia adalah satu-satunya alasan yang masuk akal bagiku. Tiap orang bisa mati kapan saja, dan jika hingga hari ini aku masih bisa berkarya di himpunan, kabinet, unit, dan dunia maya, masih bisa berhubungan dengan keluarga dan teman-teman terkasih, itu semua karena kasih karunia.

Okelah, Lord. Thanks for reminding me how fragile a human life is.🙂

Ah, ini foto celana kesayanganku yang sobek. Akan tetap kusimpan sebagai memento ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s