Maksim Harmoni

Aspek pragmatik (nyaman-tidaknya penuturan sebuah kalimat) sangat dekat dengan budaya masyarakat penuturnya. Di kuliah humaniora, ada penjelasan tentang “maksim harmoni”, yaitu: minimize disagreement; maximize agreement (sedapat mungkin menghindari perdebatan; sebanyak mungkin sependapat).

Maksim ini yang awalnya dikira bersifat universal, ternyata tidak berlaku pada semua budaya. Dalam budaya Jawa, lingkungan tetanggaku, maksim ini berlaku dengan cara memperbanyak mengatakan kata “inggih”. Menurut sebagian besar masyarakat Jawa, hal ini menciptakan suasana yang harmonis.

Untuk masyarakat Yahudi maksim ini tidak berlaku. Kala itu, perbedaaan pendapat justru dihargai karena dengan adanya perbedaan pendapat, hubungan seorang penutur dengan penutur yang lain dianggap hangat dan akrab. Dalam budaya Batak, lingkungan keluargaku, masyarakatnya juga senang dengan adanya perbedaan pendapat atau perdebatan, hingga saat ini.

Tidak hanya maksim harmoni, tetapi maksim kesopanan, maksim kejujuran, maksim kerendahan hati dalam suatu daerah bisa berbeda-beda dengan daerah lainnya. Menyentuh kepala orang yang lebih tua di India melambangkan penghormatan, tapi di Indonesia merupakan faux pass (pelanggaran norma).

Moral cerita: jangan marah kalau ada yang menentang pendapatmu, tapi juga jangan ragu untuk membela apa yang kamu yakini, selama semuanya masih dilakukan dalam lingkup kekeluargaan😀

One thought on “Maksim Harmoni”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s