FGH: Babakan Siliwangi…

Kemarin, pukul 19:00, diadakan Forum Ganesha Hijau di sekretariat KM ITB. Benang merah pertemuan kali ini adalah peresmian Babakan Siliwangi sebagai hutan kota dunia. Whew, hutan kota dunia? Berikut ceritanya.

Baksil adalah sebuah daerah hutan di antara lapangan Saraga ITB dengan jalan Siliwangi. Walaupun hutan ini relatif kecil terhadap “hutan” yang selama ini kita kenal, namun hutan ini menjadi habitat bagi 30+ jenis tumbuhan dan 20+ jenis hewan.

Ada jalan setapak di sepanjang hutan ini. Anak-anak TPB yang mau ke Saraga buat kuliah olahraga cukup sering kok melewati jalan setapak ini. Saking kecilnya hutan ini, jalan setapak itu bisa disusuri dalam waktu 4 menit jalan kaki dan hanya 13 menit ngesot.

Selama ini, Baksil tidak terawat dan hanya menjadi daerah kosong. Masyarakat sekitar tidak begitu peduli pada perkembangan Baksil. Bahkan para setan Bandung pun enggan berdiam di Baksil ini. “Temen-temen banyak yang hangout di gedung, Mas. Saya jadi sering sendirian di sini. Sepi. Lama-lama saya jadi takut sendiri,” tanggapan seorang narasumber yang enggan menyebutkan namanya.

Kemudian, seorang pengembang melihat usaha bisnis yang menjanjikan di tanah kosong ini. Bekerja sama dengan sebuah kontraktor, dia hendak mendirikan apartemen di Babakan Siliwangi ini.

Wah, hutannya dibabat dong?

Awalnya sih, pengembang itu berjanji ke masyarakat sekitar untuk hanya menggunakan daerah tanah kosong di Baksil, jadi tidak perlu menebang pohon sekitar. Kalaupun ada bagian hutan yang ditebang, tidak akan sampai 10%.

Berita pembangunan Baksil itu dengan cepat tersebar ke kelompok-kelompok pegiat lingkungan di Bandung. Sontak, persekutuan pegiat tersebut mengadakan protes untuk menghentikan pembangunan apartemen di Baksil. Para pegiat itu meminta pengembang untuk mempublikasikan konsep tentang rencana penggunaan dan pembangunan daerah Baksil selama beberapa tahun ke depan.

Ternyata setelah rancangan tersebut diaudit oleh para pegiat, banyak hal yang tidak ‘ramah lingkungan’ yang ada di dalamnya. Pengembang seolah ingin membabat Baksil perlahan-lahan, dimulai dari pembangunan apartemen tersebut. Jelas, para pegiat jadi makin kesal dan sensi dan terang-terangan menentang pembangunan tersebut.

(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s