Liburan Lebaran, Bagian II

Mungkin kamu akan merasa lebih nyaman, kalau baca sambil denger lagu yang melankolis ini…

Kamis 17th, ada buber IPA 2 di sekolah. Lima angkatan, dari lulusan 2007 sampai yang sekarang masih kelas XI. Tempat bubernya luas, di sanggar PKG. Yeah! Makannya prasmanan, bukan jatahan! Sate, es garbis, ayam, nasi, dan lauk-lauk menarik lainnya terhampar pasrah di meja. Dari kesemuanya, yang kuincar adalah sate ayam.πŸ˜†

Anak-anak sudah berdatangan. Sampai acaranya mau dimulai, ruangan PKG masih belum terisi banyak orang. Waaah, entah kenapa, aku merasa bahagia sekali, karena yang datang sedikit–tidak sampai 80. Padahal, katanya adik kelas, jatah makan prasmanannya cukup untuk 120 orang. Sejenak, ide jahanam cemerlang muncul di benakku.

Yang datang paling sedikit tuh dari angkatanku, cuma empat orang: Aku, Tio, Bima dan Sulton. Parahnya, habis makan, mereka langsung pulang. Padahal habis makan itu ada acara pengakraban diri antarangkatan. Yaah, dari lulusan 2009 yang tertinggal di situ cuma aku. Jadilah aku yang di-briefing sama beserta senior-senior angkatan atas, termasuk Mbak Nurlita–boss lulusan 2008 yang serem abis. Tapi waktu lagi briefing, ngomongnya gak terlalu serem koq. Lebih cenderung ke kekeluargaan. Mungkin takut tahun depan lulusan 2009 gak ada yang ikut ya? Huahahaha… Intinya, dia berencana tanggal 24 mau ngadain HBH bareng plus reunian lagi, dan yang datang waktu itu harus lebih banyak dari hari ini. Pokoknya acaranya dibuat semeriah mungkin. Ckckckck… Hedonis sekali anak-anak IPA 2 ini.

Jam 7-an, sebelum tarawih, panitia sudah mulai beres-beres. Aku melirik meja makan. Waaau… Satenya masih banyak! Iblis menguasai pikiranku: “Musnahkan satenya! Musnahkan para sate itu! Mereka tidak layak berada di meja yang sama dengan es garbis. Ini adalah tugas muliamu, Okihita!”. Seperti Adam, aku pun jatuh dalam dosa. Aku bawa pulang 30 tusuk sate, dan itu bukan cuma tusuknya.

*****

Sabtu 19th, hari terakhir puasa, ada reuni kelas IPA 2 lagi. Kali ini cuma untuk angkatanku, lulusan 2009. Bu Ningsih, wali kelasku, juga ikut hadir. Aku punya dendam pribadi dengan Bu Ningsih: ulangan Fisikaku yang pertama di kelas XII dapat nilai 20! Tapi sudahlah, what’s done is done. Berhubung aku sekarang masuk STEI ITB, aku jadi merasa tidak apa-apa walaupun dapat 20. Haikhaikhaik…

Singkatnya, kami buka bareng. Sayang, kali ini makannya dijatah. Hiks… Tidak ada kesempatan untuk ide cemerlang. Habis makan dan salam-salaman, kami nyalain banyak kembang api. Itu lho, yang meledak warna-warni di udara. Di Nganjuk, kembang api jenis itu sudah diproduksi. Pada akhir acara, beberapa temanku berbuat anarkis, mereka mecahin recycle bin punya kelas sendiri… Ckckckck… Padahal harganya mahal, 40 bakwan.

*****

Minggu, 20 September 2009! Ulang tahunku yang ke-18. Hari dimulai dengan dering Wiro Sableng dari ponselku–itu nada sms. Aku baca smsnya sambil senyum-senyum sendiri. Isinya ini ucapan selamat ulang tahunku yang pertama di hari ini. Siapa lagi kalau bukan dari Sanchez?πŸ™‚ Makasih, Sanchez. Walaupun kita Bandung-Surabaya, aku yakin kita bisa bertahan. Aku janji gak akan playboy, malah aku akan palaboy (aah, sok sweet…).

Waktunya tobat. Jam 7 kurang seperempat aku ke gereja, bareng keluarga. Di gereja, aku merasa lebih nyaman dan lebih waras. Firman yang dibawain oleh Pendeta Sunu hari itu cocok sekali dengan keadaan hidupku saat ini. Habis kebaktian, teman-teman gereja juga nyalamin aku, ngucapin met ultah. Hahahaha, aku terkenal ya? Iya donk, tahun lalu aku ‘kan ketua kaum muda di GKJW sini. Haikhaikhaik…

Siangnya, aku dan keluarga ke Gondang–daerah pedesaannya Nganjuk, sekalian HBH sama keluarga di sana. Jaraknya cukup jauh, sekitar 25 km. Sampai di sana, kami nyekar dulu, ke pemakaman lokal Gondang. Kuburan di sana masih konvensional. Kebanyakan masih berupa gundukan tanah pasir yang dibatasi dua nisan kayu berukuran sama. Itu pun gundukannya gak terlalu tinggi dari permukaan tanah, terus lagi jarak antara makam gak teratur–maklum, belum ada anak Teknik Sipil ITB waktu itu.πŸ˜† Penataan semrawut ini jadi bikin aku bingung: kalau ada tiga nisan yang segaris, berarti ada dua interval tanah. Nah, bagian mana yang gundukan, dan bagian mana yang kosong? Membingungkan, bukan?

Waktu aku melangkah di antara makam-makam, aku sangat berhati-hati untuk tidak menginjak bagian gundukan tanah dari makam. Dulu waktu aku masih SD, saat nyekar ke Gondang, nenek pernah bilang: “Le, jangan nginjak tanah yang gundukan. Itu tempat jenazahnya ditaruh. Nanti kalau rumahnya kamu injak-injak, yang tidur di situ bisa marah. Nanti kamu bisa diikutin sama dia, sampai pulang ke rumah kita lho!” dengan nada yang mengancam dan muka yang diserem-seremkan. Ya ampun, gila! Didatangin sampai rumah, Men! Hiii… Untuk anak kecil, sosok zombie, pocong, dan skeleton itu jauh lebih menyeramkan dari guru matematika! Walhasil, aku pun jadi takut, dan mulai saat itu berjalan dengan lebih hati-hati.

Tapi, sekarang aku sadar. Tidak boleh menginjak makam itu cuma soal kesopanan. Soal penghuni makam yang akan marah kalau makamnya diinjak itu bohong. Nenek hanya mengatakan hal itu untuk menakuti-nakuti aku saja. Walaupun aku sekarang tetap sopan saat melangkah antara makam, tapi aku sudah tidak takut cerita zombie itu lagi. Nonsense. Mana mungkin mereka ngikutin aku sampai rumah? Mereka ‘kan gak tau alamat rumahku.

Yang kusayangkan adalah cara nenek memberitahuku untuk tidak menginjak makam. Mengapa harus pakai ancaman? Itu hanya akan menanamkan rasa takut yang berkepanjangan pada saat dewasa nantinya. Harusnya ‘kan dikasih tau baik-baik. Aku sangat kecewa. Inilah salah satu keburukan budaya Indonesia: sejak balita, anak-anak Indonesia sudah dicekoki ancaman. Lihat saja contoh ekstrimnya, lagu Nina Bobo:

Nina bobo… Oo, nina bobo…
Kalau tidak bobo digigit nyamuk

Apakah kamu, seperti aku juga, merasakan adanya nada ancaman di lagu itu? Benar sekali! Lebih dari 20 juta balita Indonesia kini terancam kehilangan kepercayaan diri akibat ancaman yang terus-menerus mereka terima sejak lahir. Hal ini dapat berdampak negatif terhadap perkembangan SDM negara kita nantinya. Untuk itu, marilah kita semua, anak Indonesia yang telah sadar, bersama-sama membudayakan penanaman sugesti positif pada generasi penerus kita, melalui lagu-lagu yang mendidik. Misalnya, gunakan lirik yang lebih edukatif, seperti lirik yang mendekatkan anak terhadap orang tuanya.Β  Contohnya:

Adik bobo… Oo, adik bobo…
Kalau tidak bobo digampar mama

Lagu di atas, selain mengajak anak untuk tidur, juga menanamkan pekerti untuk hormat kepada orang tua. Sehingga, nantinya anak itu tidak akan menjadi durhaka pada orang tuanya. Lagu ini akan menjadi lebih baik lagi jika “adik” diganti dengan nama anak itu sendiri. Jadi, tidak akan ada kerancuan, seperti: yang disuruh tidur Edo, tapi koq yang di lagunya Nina?

*****

Oh, iya. Hari ini juga, teman-teman muslim ngerayain 1 Syawal, Ied, Lebaran, Aidil Fitri. Jadi ceritanya, aku ngirim ucapan buat mereka semua. Yah, tidak semuanya sih. Dari teman-teman STEI, aku cuma punya nomornya beberapa anak. Ya udah, mereka aja yang aku kirimin. Buat semuanya yang belum dapat ucapanku dan kebetulan buka blog ini, aku ngucapin secara massal aja ya.πŸ™‚

Matta, Gigi, Coklat, Ungu, ST12, F4, 5566, 17, ProjectPop, TeamLo, PSP, Kuburan, Tani Maju, dan saya sendiri, Okihita, serta segenap keluarga kerja RCTV yang bertugas mengucapkan:

Met Aidil Fitri 1430 Hijriyah 2009 M, I am Sorry Soul and Body

Ingat! Kalo namu ke tetangga, makan kuenya jangan banyak-banyak. Jangan mentang-mentang udah dimaafin, kamu bisa bikin dosa lagi.

2 thoughts on “Liburan Lebaran, Bagian II”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s