Liburan Lebaran, Bagian I

Dari PTN-PTN besar lainnya, ITB-lah yang termasuk duluan ngeliburin anak-anaknya. Kami dibebastugaskan sejak Sabtu 12th sampe Minggu 27th September 2009. UI aja baru libur sejak 18th. ITB baik, ‘kan? Tapi cuma kadang-kadang. Itulah kenapa sebagian teman-temanku menyebut kampus ini Institut Terkadang Baik

Sayang, libur ITB cuma 2 minggu. IPB ama IPDN aja ngasih 3 minggu. Tapi, syukurilah apa yang ada… Masa’ kita sebagai mahasiswa pinginnya libur terus sih? ‘Kan gak bagus. Ntar kalo waktu masuk, terus kita udah lupa materi pelajaran, gimana? Yeah… Memang sih, untuk beberapa orang, gak peduli lagi liburan ato gak, mereka tetap lupa materi pelajaran. Untungnya, aku tidak termasuk orang jenis itu. Setidaknya, belum

Minggu 6th, ada acara di rumahnya amangtua Depok. Adat Batak. Salah satu lae-ku mau nikah sama orang Nias. Menurut adat Batak, calon istrinya lae-ku yang non-Batak itu harus dikasih marga, dengan cara diangkat sebagai anak oleh seorang dari keluarga tulang, sehingga dia bisa berstatus pariban dengan lae-ku. Karena, hanya anaknya tulang-lah yang bisa menikah dengan bere. Sudah, cukup bacanya. Aku tahu kamu bingung. Aku sendiri juga awalnya bingung prosesinya bakal seperti apa. Yang jelas, Kamis 3rd, bonyok udah sampai di Depok. Aku disuruh langsung nyusul ke sana begitu semua kegiatan di Bandung selesai.

Sabtu 5th, setelah packing dan pamitan dengan Mas Gema, teman sekamarku di ABG, dan anak-anak asrama lainnya, termasuk Mbak Hera dan Mas Supriyatna–dua orang yang berperan penting dalam pencetakan lembar sosialisasiku, aku melangkahkan jempol kaki keluar asrama. Dari ABG aku pergi ke terminal Leuwipanjang, naik angkot. Kenapa sih namanya terminal Leuwipanjang? Hmm… Mungkin terinspirasi oleh bentuk bus kali ya? Atau terinspirasi bentuk kacang panjang? Whatever lah… Itu urusannya yang bikin terminal.

Sampai di sana, aku terkaget-terkaget-terkaget-kaget. Waaau… Banyak sekali busnya. Di terminal Nganjuk aja gak sebanyak ini. Naik bus yang mana nih? Aku takut salah naik bis. Bisa-bisa nyasar sampai Papua, bahaya tuh! Untung ada ponsel. Jadi aku telepon papa, yang udah duluan ada di Depok. “Naik aja bus merek MGI jurusan Bandung-Depok. Ada AC-nya. Kamu bisa latihan kedinginan, jaga-jaga kalo sewaktu-waktu dapat beasiswa S2 di Iceland,” kata papaku.

Yeah… Ketemu juga bis yang dimaksud. Langsung aja masuk. Dan–waaau…  Keren banget. Benar-benar cozy. Kursinya gak bolong, gak ada orang yang bawa-bawa ayam, dan kernetnya gak bau. Ada tulisan “no smoking“, yang kira-kira artinya “dilarang berasap“. Ada tevenya juga lho, kebetulan waktu itu lagi ada lagunya TeamLo yang “Poligami”. Tarif Bandung-Jakarta lumayan mahal, tapi sebanding lah dengan fasilitasnya. Rp 45.000, setara 90 bakwan. Dan, memang di dalam bus tu dingin. Brrr…

Setelah dua jam perjalanan yang panjang dan membekukan, akhirnya sampe Depok juga. Rumah amangtua-ku tidak begitu jauh dari terminal. Cuma sekitar 1 km. Jadi, aku jalan ke sana. Sekalian thawing sehabis kedinginan. Sembari berjalan menyusuri trotoar, aku melihat sekeliling. Aku sadar sesuatu. Mobil jaman sekarang tuh kecil-kecil, beda sama dulu, gede-gede. Padahal orang sekarang tinggi-tinggi. Bukankah mengendarai mobil yang rendah akan meningkatkan persentase kejeduk?

Aku sampai juga. Rumah amangtua-ku besar dan nyaman. Habis sok kangen-kangenan, aku tidur siang di kamar (ya iyalah! masa’ di wc?). Capek banget, men! Padahal cuma duduk dalam bus plus jalan satu kilo aja, tapi capeknya sampai ke tulang-belulang. Mungkin capek ini karena performaku di acara makrab hari Jumat 4th, huahahahaha… Uhuk, uhuk…

Minggunya, acara pemberian marga. Ribetkah prosesinya? Banget! Aku sampai MALES mau nyeritain di sini. :-v. Singkat aja deh. Nama aslinya Rosidawati Zebua, sekarang resmi jadi Rosidawati Zebua Sihaloho. Umurnya 25 tahun, tapi statusnya dalam keluarga adalah sebagai adikku. Haduuh…

Senin 14th, aku pulang naek kereta api. Gila! Tiket bisnis habis. Tiket ekonomi? Harus ngantri sampai satu hari. EMOH! Terpaksa deh, pakai jalur pricy. Eksekutif Bangunkarta, buat tiga orang. Mahal banget, Beb! 960 ribu, setara 1920 bakwan! Mulai tanggal 1 Agustus, kelas eksekutif udah gak nyediain makan gratis lagi. Akhirnya, terpaksa beli nasi goreng sendiri, harganya 26 Bakwan.

Akhirnya, Selasa pagi sampai rumah. Wah, aku ketemu lagi sama nenek dan adikku yang kusayang. Capek dan kemeng, aku memutuskan untuk hibernasi… Bettle control, terminated…

One thought on “Liburan Lebaran, Bagian I”

  1. JIahaha…, mantap bener teknik pendeskripsiannya. Bikin ngakak. Huahahahaha😀

    Hm…, hebat juga nih! Kamu ahli menulis, “Jenenge Sopo? Okita? Kamu bagusnya kerja dengan tinta dan keyboard. Di tinta kamu bisa nyebur ngitamin badan, di keyboard buat melatih jari kamu supaya sekuat baja. Hahaha (mengikuti gaya Ki Joko Pintar :-D)

    Well, tolong dong istilah yang dicetak miring dikasih artinya. Saya orang Kal-Bar bingung nih😛

    Hehehe…, sekali-sekali buat rusuh di blog saya, ya!
    http://www.endy21.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s