Jadi Ceritanya…

Aku udah dua minggu di ITB. Tugas-tugas skala giga-lah yang membuatku vacuum (cleaner?) nulis-nulis di WordPress ini. (T_T)

Selama dua minggu ini, aku berkenalan dengan banyak orang. Di sinilah aku sadar kalau orang tuh macam-macam. Mulai dari orang yang gak jelas sampai orang yang lebih gak jelas lagi, semuanya punya kepribadian yang unik dan berbeda satu sama lain. Tapi, sebagian besar mahasiswa yang kutemui, menurut pandanganku, kurang normal. I mean, mereka tidak menunjukkan sikap layaknya mahasiswa. Mereka masih saja bisa tertawa pada saat-saat istirahat. Padahal, mahasiswa harusnya pendiam, geek, dan rajin belajar. Ya khan? Ya khan?

(suara gaib: ) Aah, lebai…

Memang, saat aku pindah dari kota kecil ke kota besar–Nganjuk ke Bandung, aku bertemu dengan banyak orang-orang aneh. Bukan aneh sih sebenarnya… Cuma aja mereka terlalu berlebihan. Berlebihan uang, berlebihan berat badan, dan beberapa macam berlebihan yang lain. Well, sebenarnya ukuran berlebihan dan tidak itu tergantung kitanya juga. Kalian pernah berpikir gak? Tiap orang tuh ngrasa kalo dirinya yang paling standar. Orang lain tu gak bener semua.

Misalnya, aku. Aku ngerasa, kalau akulah cowok dengan tinggi paling ideal. Semua cowok yang tingginya melebihi aku, menderita gigantisme, dan semua cowok yang tingginya kurang dari aku, disebut kretinisme. Juga, dalam hal skills, akulah orang dengan kemampuan paling wajar diantara teman-temanku. Jika ada yang bisa ngalahin aku waktu maen DotA, orang itu adalah freak, dia terlalu banyak maen DotA, dan itu gak bagus. Jika ada orang yang bisa aku kalahin waktu maen DotA, maka dia adalah orang yang lemot, dia kurang pengalaman dalam maen DotA, dan itu gak bagus juga.

Ada lagi contoh berlebihan yang lain. Di STEI, aku ketemu dengan orang-orang yang suka maen kubus rubik. Salah satunya, yang masih bisa kuingat namanya, adalah Filino. Dia itu gila! Bisa nyelesaiin 3x3x3 less than 30 secs (well, sebenarnya gw gak tau berapa rekornya dia, ini cuma kira-kira aja =P). Juga, dia punya 4x4x4, 5x5x5, 6x6x6, 7x7x7, 2x2x2, dan Pyramix. Dan dia bisa nyelesaiinnya! Waw! Itulah yang kusebut freak. Dia terlalu banyak maen Rubik, dan itu gak bagus… Bahkan Nipu, salah seorang mahasiswa STEI yang memiliki pandangan sama denganku, menyebut dia monster rubik.

Tapi, kurasa itu wajar. Menurut Magna Carta, tiap orang punya hak untuk mengekspresikan pemikirannya. Seperti kata pepatah: “Layar perak, panggung terang, adalah tempat kita. Ekspresikan diri.”

Tidak semua aspek kehidupan berjalan menyenangkan. Salah satu hal yang membuatku benar-benar kesal selama berada di ITB ini adalah ketika berpapasan dengan para siswa internasional yang sedang ngobrol dengan sesamanya. Yeah, benar yang dikatakan Mas Raditya Dika di salah satu bukunya, gak tau buku yang mana. Raditya bercerita seperti ini: “Saat SMA, guru-guru kita membacakan teks bahasa Inggris dengan lancar, jelas, dan bisa dimengerti. Tapi, saat kita bertemu mereka di dunia nyata, semua kata-kata bagaikan “Hello, what do you blrrrph brrbbuhp? Blrrp burb…”.

Memang sih, aku gak ngomong nose to nose dengan mereka. Aku cuma beberapa kali ketemu sama sekelompok mahasiswa internasional yang lagi ngobrol. Dari wajah, kalihatannya sih mereka orang India, atau Bhutan gitu. Tapi, bukan orang India seperti yang kamu bayangkan. Wajah mereka tidak mirip dengan Shahrukh Khan atau Kareena CaCO3. Yaah, kapan-kapan deh kalo mereka lagi ketiduran di perpus, aku ambil fotonya buat diunggah di sini.

Tetap saja, bagaimanapun bentuk wajah mereka, hal itu tidak mengubah kenyataan bahwa bahasa mereka sulit untuk dimengerti. Aku yakin seyakin-yakinnya kalau mereka ngomong bahasa Inggris, tapi kenapa aku gak bisa ngerti apa yang mereka omongin? Saat mereka ngobrol, sekilas kelihatan seperti dua orang penyihir yang komat-kamit membaca mantra untuk mengutuk lawan bicaranya. Entah spell apa yang mereka cast

Untungnya, aku ikut SEF, Student English Forum—sebangsa UKM debat bahasa Inggris di ITB. Nah, di SEF ini, aku diajari untuk mengkonversi ucapan blrrp brrrhub tadi dalam bahasa Inggris yang bisa dimengerti, dan sebaliknya. Paling tidak, kalaupun ternyata mereka benar-benar sedang membaca mantra, kita bisa tahu itu mantra curse atau blessing.

Selain mengajari anggotanya untuk bisa menghindar dari mantra jahat, SEF tidak lupa untuk memberikan pelatihan bahasa Inggris. Acara-acara SEF menyenangkan, atraktif dan mengasah kemampuan berpikir kritis.

Dari tiga pertemuan awal, aku ikut dua. Di pertemuan ketiga, ada pemilihan anggota tetap SEF, via wawancara. Aku sendiri merasa, kemampuan bahasa Inggrisku cukup bagus, tapi karena beberapa hal—termasuk tidak beraninya aku berkomitmen untuk setia pada SEF—aku tidak terpilih jadi anggota mereka. Hiks… Sebenarnya aku berharap bisa bergabung dengan kelompok debat mereka. Sudahlah,itu tidak perlu dibahas lagi. Setidaknya, jam tidurku bisa bertambah.

*****

Ada momen menarik yang kualami dalam tiga minggu ini. Salah satunya yang tak akan terlupakan adalah saat kemarin Rabu, waktu gempa di timur laut Jawa Barat. ITB kena imbasnya, tanah bergoyang riang dengan magnitude sekitar 3,5 SR. Ah, aku sendiri gak tau tepatnya berapa. 3,5 SR itu katanya anak FITB.

Waktu gempanya mulai, kira-kira jam 3 sore, aku lagi di dalam ATM dekat GKU Timur, mau ngambil uang. Dalam satu bilik kecil, ada 3 mesin ATM. Waktu lagi asyik-asyiknya mencetin tombol, tiba-tiba aku ngerasa pusing. Aku kira itu cuma pusing mental biasa, gara-gara dompet gak ada isinya. Tapi, 5 detik kemudian, seorang wanita yang juga sedang ngambil uang di mesin sebelahku tanya: “Mas, ini lagi gempa ya?”

“Hah?” aku kaget ditanyain secara tiba-tiba gitu.

“Mas ngerasa pusing gak? Soalnya saya juga pusing nih,” dia ngelanjutin lagi.

Otakku mulai mencoba berpikir cepat, namun tetap jernih. Satu detik kemudian, aku baru sadar kalau ada gempa! Gempa! Seumur hidupku, aku baru dua kali ngerasain gempa, termasuk yang satu ini. Otakku mulai berpikir cepat lagi, tapi sudah tidak jernih. Sementara masih berada di ruang ATM itu, aku berharap mesin ATM-nya jatuh, dan uangnya keluar semua. Lalu aku bisa mengambil semua uang di tengah kepanikan orang-orang. Hahahahaha! Otakku berpikir jernih lagi. Aku sadar, itu sulit terjadi. Selain itu, jika mesin ATM-nya jatuh dan menimpa jempol kakiku, bisa-bisa aku mati kesakitan. Jadi, aku mengambil jalan yang lebih realistis, yaitu lari keluar GKUT, ke parking lot yang lapang. Aku masih memperhatikan dari jauh, apakah mesin ATM-nya jatuh atau tidak. Aah, ternyata tidak…Hancur sudah impianku.

Tidak lama, dari gedung keluar lebih banyak mahasiswa. Mereka yang saat itu ada kuliah di lantai atas langsung turun. Gempanya masih terasa, walaupun cuma kecil. Dalam hati aku berpikir, beruntung sekali mereka, bisa bolos kuliah… Kalau saja gempanya terjadi waktu aku sedang kuis kimia, pasti gempa ini akan jadi lebih berguna. Hmphh…

Makin banyak orang yang keluar dari gedung, menuju tempat yang lebih lapang dan jauh dari bangunan. Aku melihat sekelilingku, masih belum percaya kalau ini gempa. Ternyata, orang-orang di sekitarku panik, walaupun tak sampai teriak-teriak. Yeah, berarti ini gempa sungguhan. Aku melihat lagi ke tempat yang lain. Yang terlihat hanyalah pohon-pohon dan plang-plang yang bergoyang tak karuan, seperti Shinchan yang lagi joget. Entah kenapa aku merasa kesal dengan gerakan goyang-goyang mereka. Untung mereka cuma pohon, kalau gak, udah kutebang…

Gempanya cukup lama, sekitar 30-40 detik, kalau gak salah. Saat gempanya berhenti, aku menghembuskan nafas panjang. Puji Tuhan, jidatku masih ada di atas hidung. Aku senang sekali Saat semuanya sudah tenang dan stabil, aku balik lagi ke ruangan ATM, ngambil uang yang tadi belum sempat keambil. Waktu aku masuk ruangan ATM lagi, aku ketemu dengan mbak yang tadi nanyain gempa. Merasa tadi udah bersikap tidak sopan, sekarang gantian aku yang menyapa dia.

“Iya Mbak, tadi tu ternyata ada gempa,” kataku sambil nerusin ngambil uang.

*****

Btw moymoy palaboy, selama tiga minggu kuliahku ini, aku bertemu dengan dosen-dosen yang unik dan menarik. Aku beruntung (atau sial?) sekali karena aku bisa diajar oleh salah satunya. Namanya Pak Barnas Holil. Beliau mengajar kimia dasar, kelas 16 STEI. Wajah beliau sangat lucu dan imut sekali. Baby face. Yah, tidak begitu baby face sih. Lebih mirip baby face yang berkeriput.

Hahaha, sekali lagi kukatakan, muka beliau benar-benar imut dan lucu. 11-12 sama Stephen Chow. Mungkin muka itulah yang menjadi daya tarik tersendiri dari beliau. Sayangnya, wajah imut itu tidak sekalipun membuat pelajaran kimia menjadi lebih mudah. Beliau sendiri yang mengatakan pada murid-muridnya: “Sungguh, ilmu kimia yang kalian pelajari itu ekivalen dengan chapter mana yang kita bahas. Jika membahas gas, maka ilmu kalian akan cepat menguap. Jika membahas cairan, ilmu kalian akan mengalir dengan cepat dari telinga kiri ke telinga kanan. Jika kalian membahas padatan, ilmu kalian akan begitu berat untuk bisa dicerna.”

Beliau juga mengajari kami beberapa istilah dalam penghitungan kimia. Penghitungan reaksi kimia yang terjadi pada suhu yang sama disebut isotermik. Jika reaksi terjadi pada tekanan yang sama, disebut isobar. Jika reaksi terjadi sedemikian rupa hingga menyebabkan nilai kuis kita setara dengan 273 Kelvin yang dikonversi ke satuan derajat Celcius, itu disebut isoda diedan.

Beliau mengajar kami dengan baik. Maksudku, beliau punya kemampuan komunikasi yang membuat orang cepat dan mudah mengerti akan apa yang disampaikannya. Baguslah, setidaknya teknik pengajaran beliau itu membangkitkan minat kami pada kimia. Sayang seribu sayang, soal-soal latihannya itu lho. Gak ku…ku… deh. Selevel ama teka-tekinya Sherlock Holmes. Tapi, waktu soalnya dibahas, anehnya koq ya bisa selesai, dan selesai secara logis. Padahal sebelumnya kami rasa itu mustahil untuk dikerjakan. Memang, seperti kata Tuan Holmes: “Semua misteri terlihat mudah saat kau sudah tahu pemecahannya.”

Mungkin, karena hal-hal seperti itulah, teman-temanku menjuluki ITB sebagai Institut Tekanan Batin. Sampai-sampai pada pertemuan terakhir, waktu Jumat 4th kemarin, saat Pak Barnas mengakhiri kuliahnya, anak-anak serempak berkata dengan suara yang disedih-sedihkan: “Ooooh….”.

Ckckckck… Munafik nih temen-temenku. (-_-)”

3 thoughts on “Jadi Ceritanya…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s