Kenapa Belajar Ini, Kenapa Belajar Itu

KENAPA BELAJAR INI, KENAPA BELAJAR ITU

Guys, gw nggak capek-capek bilang ini ya: Knowledge is an invaluable capital. Bisa tahu lebih duluan ketimbang temen-temen kalian yang lain is a huge advantage.

Belajar filosofi dan retorika itu gunanya supaya kita punya worldview yang kokoh dan bisa mempertahankan semua pilihan hidup kita sampai tingkat atomik, jika orang lain mempertanyakannya.

Yang bikin males adalah kalau kita merasa filosofi itu cuma ngapalin ucapan-ucapan Descartes, Peter Singer, Socrates/Plato/Aristoteles.

Belajar sejarah itu gunanya supaya kita bisa mengerti kesuksesan dan kegagalan yang membawa kita ke titik ini, supaya kita bisa meniru langkah-langkah menuju kesuksesan dan menghindari kegagalan.

Yang bikin males adalah kalau kita merasa sejarah itu cuma ngapalin tanggal kejadian sama nama-nama orang yang terlibat di dalamnya.

Belajar sains dan teknik itu gunanya supaya ngerti cara kerja dunia, supaya pelajaran kita di bidang-bidang lain bisa ditopang dan kita bisa membuat inovasi dan kemajuan untuk kualitas hidup manusia.

Yang bikin males adalah kalau kita merasa sains itu cuma ngapalin tabel periodik dan ngapalin rumus-rumus fisika dan teknik cuma belajar cara bongkar pasang komponen listrik dan beton dan debugging software.

Belajar sosiologi dan psikologi itu gunanya buat tahu cara kerja dan karakteristik masyarakat, serta peran masing-masing individu dalam masyarakat tersebut.

⁠⁠⁠⁠⁠Yang bikin males adalah kalau kita merasa sosiologi/psikologi itu cuma baca-baca Capital-nya Karl Marx, The Wealth of Nations-nya Adam Smith, sama jenis-jenis penyakit di Pedoman Penggolongan Penyakit dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ).

Belajar matematika itu untuk meningkatkan kapasitas mental dalam mengumpulkan informasi, mengolahnya, dan menggunakannya untuk mengambil keputusan terbaik bagi sebanyak mungkin orang.

Yang bikin males adalah kalau kita merasa matematika adalah muter-muterin angka yang abstrak untuk dipas-pasin ke integral lipat tiga dalam enam dimensi.

Belajar seni itu gunanya supaya kita bisa membuat gagasan-gagasan terbaik yang kita miliki menjadi hidup dan persuasif bagi orang lain.

Yang bikin males adalah kalau kita merasa seni adalah sekadar corat-coret pakai cat dan bikin cerita fiksi dan produksi film-film absurd dan ngasih informasi yang nggak penting.

Intelligence is a gift, not a right. It must be wielded not as a weapon but as a tool for the betterment of others.

Intelligence must be used for the benefit, and not to the detriment, of society. Those who use intelligence for their own personal gain or to the detriment of others have not properly borne the responsibility of their gift, and are not welcome in the world of wisdom.

Depiction: Saraswati, (Indian) godess of knowledge and arts.

Iklan

Drama Angkatan

dramaangkatan-docx

Scene 1: Senangnya Lulus ITB (2 menit)

Latar Tempat :     Jalan raya, pinggiran kota
Main Char :     Matika (Okihita) dan 4 orang wisudawan lainnya (Sam, Kevin, Eko, satu lagi)

kost/prop: 5 set toga

 

10 orang pengarak (Aduh, lupa siapa aja)

kost/prop: jamal, celana panjang, papan “Viva Informatika!” dan “Senangnya diwisuda”

 

Support Char :     Tiang listrik (Dion)

Gedung (Marchy)

Pembawa Papan Waktu (???)

Pembawa Papan Pikiran (

Properti :    Balon ide: “uang”, “IP 4.01”, “

Waktu Awal :     21y3m12d

Sinopsis/Sari :    Menceritakan bagaimana beberapa wisudawan yang baru diarak bercerita tentang impian mereka masing-masing. Matika, seorang dari kelima wisudawan itu, masih belum punya tujuan yang pasti. Di tengah idealismenya, muncul beberapa pemikiran “duniawi”. Status mahasiswa IF-ITB dengan IP 4.01 sudah didapatkannya. Namun, dia masih belum menentukan secara pasti apa yang akan dia lakukan setelah lulus.

 

    5 orang wisudawan masuk bersama dari kiri panggung. 10 orang pengarak mendampingi mereka. 2 orang di depan barisan wisudawan, diikuti 5 orang wisudawan dengan Matika di tengah. Sembari berjalan menuju tengah panggung, terdengar suara vevezuela mengelu-elukan kelulusan kelima wisudawan itu. Seorang dari pengarak menaburkan kertas berwarna pada para wisudawan.

Sesampainya di tengah panggung, kelima wisudawan berhenti menghadap penonton. Pengarak membentuk barisan baru (ingat, jangan blocking) di kiri barisan wisudawan dan menyalami mereka satu per satu. Pengarak kemudian melambai lebai pada para wisudawan seraya berjalan keluar panggung lewat kanan.

Tersisa lima orang wisudawan yang kini melengkungkan barisannya membentuk tembereng sepertiga lingkaran menghadap penonton. Kelimanya masing-masing menceritakan tentang apa yang dipikirkannya. Keempat wisudawan, kecuali Matika, menuturkan keinginannya dengan penuh keyakinan. Saat keempat wisudawan itu bertanya kepada Matika apa yang akan dilakukannya  setelah lulus ini, Matika seolah bingung. Karena Matika terlalu lama berpikir, salah seorang wisudawan melirik jam tangannya dan mengeluh. Tiga wisudawan lainnya juga tidak sabar. Matika masih saja larut dalam pemikirannya. Akhirnya, keempat wisudawan lainnya meninggalkan Matika. (2 lewat kanan, 2 lewat kiri.) Lambaian tangan mereka yang meninggalkan panggung tidak begitu diperhatikan oleh Matika; dia masih saja menunjukkan ekspresi bingung.

 

Scene 2: Terus Mau Ngapain? (3 menit)

Pemain    : 2-3 masyarakat yang “membutuhkan”, 3 anggota parpol, 3 cewek cakep, 1 cewek pacar           lamanya Matika, 3 pengusaha, 1 dosen S2, 5 aktivis kampus

 

Latar Tempat :     Sama persis ama scene 1
Main Char :     Matika (Okihita) kost/prop: masih toga

 

Lima orang aktivis kampus (Hilman, Agast, Aulia, ???, ???)

kost/prop: jamal (lengan baju disingsing, tidak terkancing), megaphone, slayer di kepala,         papan demo “1 Juta Mahasiswa Menentang Limbah Liar” dan papan “Limbah dapat             Menyebabkan Gangguan Kehamilan dan Janin”

 

Kades (Fitra), seorang ibu desa (Cita), warga desa lain (???)

kost/prop: (as ndeso as possible), satu boneka bayi, selendang, setelan kades

 

Pemimpin parpol (Faisal), 2 kacung parpol (???, ???)

kost/prop: papan lambang parpol “Partai Koin Emas”, 3 setelan parlente, koper berisi             duit(-duitan), sendok, kopyah, yaah… gimana politikus lah…

 

Pengusaha (???), pembawa gedung-gedungan (???), pembawa tas (???)

kost/prop: kostum parlente, koper, kacamata pink, botol minuman berwarna-600 ml-            tanpa merek, gedung-gedungan

 

3 orang wanita glamor (Vivi, Gita, Rita)

kost/prop: gown, dandanan yang cukup menor, papan “Waah, ITB” dan “Kyaa… Kyaa…”

 

Gata (Iza)

kost/prop: gak perlu bawa apa-apa, Za

 

Dosen S2 (MAF)

kost/prop: tas khas dosen (tas jinjing), papan “S2”

 

Support Char :     Tiang listrik (Dion)

Gedung (Marchy)

Pembawa Papan Waktu (???)

Pembawa Papan Pikiran (

 

Waktu Awal :     21y3m12d

Sinopsis/Sari :    Menceritakan bagaimana Matika dibingungkan oleh beberapa elemen yang “mengganggu kelulusan”. Ketidakmampuan Matika menentukan langkah hidup selanjutnya -lah yang membuat dia kini bingung harus berbuat apa. Akhirnya, karena mental yang lemah dan sedikit rayuan, dia “terjebak” di kehidupan kantoran, dengan seorang istri yang materialistis.

 

(21y4m1d) Lima orang aktivis kampus (A, B, C, D, E), dipimpin oleh Hilman (A), datang dari kanan panggung. B membawa megaphone dan seolah meneriakkan kata-kata persuasif dan ofensif, C membawa papan “1 Juta Mahasiswa Menentang Limbah Liar”. D dan E bersama membawa papan “Limbah dapat Menyebabkan Gangguan Kehamilan dan Janin”. Matika memandang mereka dengan penuh keheranan. A sebagai pemimpin aktivis, ketika sampai di dekat Matika, membentangkan tangan kirinya sebagai kode pada empat anak buahnya untuk berhenti bergerak. A mengajak Matika ikut dengan gerakan mereka. Matika, sedikit cemas, menggelengkan kepala dan tangannya. A memaksa Matika dan menarik pergelangan tangan Matika. Matika mengibas-lepaskan pegangan itu. A memandang Matika dengan wajah kecewa. A kemudian mengeratkan slayer di kepalanya dan memberi isyarat pada anak buahnya agar terus maju, menuju kiri panggung. Matika menggelengkan kepalanya.

(21y4m2d) Saat C menjejakkan kaki keluar panggung, dosen S2 datang dengan wajah murah senyum. Dia membawa papan “S2” yang masih dibalik sedemikian rupa hingga penonton maupun Matika tidak bisa melihat sisi “S2” dari papan itu. Dosen, dengan wajahnya dan intelek menyapa Matika. Matika yang kenal dengan dosen itu segera saja membalas sapaannya. Mereka berpelukan, seolah sudah lama sekali kenal. Dosen kemudian, masih dengan wajah sumringah, memutar papannya dan menunjukkan sisi “S2”-nya. Matika mengerutkan alisnya. Dia tampaknya bingung lagi menentukan harus berbuat apa. Dosen tampaknya mengerti bahwa Matika butuh waktu lebih untuk berpikir. Dia menepuk pundak Matika dan menganggukkan kepalanya. Dosen mengangkat jarinya dan berekspresi penuh ide. Dia mengeluarkan ponselnya, menyuruh Matika mengeluarkan ponselnya, kemudian mereka berdua tampak bertukar nomor telepon. Dosen kemudian beranjak meninggalkan panggung. Di antara tepi kiri panggung dan Matika, dosen itu menggoyangkan tangannya di dekat kepala, memberi isyarat pada Matika untuk meneleponnya segera setelah Matika mengambil keputusan. Dosen keluar panggung.

(21y4m3d) Kades melangkah masuk. Ibu desa dan warga desa masuk dan mendekati Matika. Ibu desa itu tampaknya bermasalah dengan bayi yang ada dalam gendongan selendangnya (optional: sfx bayi nangis) dan terus menimang-nimang anaknya itu. (optional: Matika mencoba menghibur bayi itu, lalu tampaknya berhasil karena ada sfx bayi ketawa). Kades kemudian mencoba menjelaskan ke Matika bagaimana keadaan di desa. Kades menunjuk ke layar yang menunjukkan foto-foto kondisi tragis pedesaan Indonesia. Kades memohon Matika untuk membantunya. Matika, dengan wajah sungkan, berusaha menghindar. Bayi menangis lagi. Kades yang putus asa, beserta ibu dan warga desa, meninggalkan Matika. Matika, walapun merasa sungkan, tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk kegiatan “sok-sial” seperti itu.

(21y4m4d) Tiga orang anggota parpol masuk, melangkah dengan gaya gedongan. Kacung A membawa banner parpol itu “Partai Koin Emas”, kacung B membawa koper berisi duit(-duitan). Si pemimpin langsung mendekati Matika, memandanginya dari atas sampai bawah. Dia mengangguk-angguk sambil mengelus jenggotnya. Si pemimpin menjentikkan jarinya dan kacung B membuka koper, menunjukkan isinya di hadapan Matika. Matika langsung terhenyak begitu tahu kalau koper itu penuh uang. Tangan Matika hendak meraih uang dalam koper itu, namun kacung B menutup kembali kopernya. Pemimpin memainkan cincin di jari manisnya, kemudian mengambil banner partai dari kacung A, memegangnya di tangan kiri, “menancapkannya” di tanah, mengambil segebok uang dari dalam koper, dan menyodorkannya ke mulut Matika. (Metafora dari menyuap.) Matika membuka dan mendekatkan mulutnya ke uang itu. Namun, ketika mulut Matika hanya tinggal beberapa senti dari uang, Matika sontak tersadar dan langsung menjauh.

to be continued… besok siang gw lanjutin, print, dan fotokopi detailnya.

————–versi beta (masih GBHN), terusan page yang di atas—————-

 

(Datang 3 cewek cakep, Matika bingung)

(Saat masih bingung itu, datang Gata [pacarnya Matika]. Saat Gata mendekat, Matika seolah lupa siapa dia, kemudian cewek itu nangis dan menunjuk pada layar yang menunjukkan foto-foto mereka [efek fotonya Sepia ya…]. Matika jadi bingung mau pilih yang mana. 3 cewek lainnya menunjukkan muka merendahkan pada Gata. Menangis dan lari menjauh. Matika berusaha mengejarnya, namun 3 cewek lainnya menghadang.)

 

Waktu        : 21y4m4d

(Semua pemeran “penggoda” datang, masing-masing merayu Matika. Bahkan, mereka saling bertengkar satu sama lain. Matika berteriak! Semua “penggoda” minggir. Matika terduduk bingung. Selagi Matika terduduk bingung, salah seorang dari 3 cewek berdiskusi dengan 3 pengusaha, seolah merencanakan sesuatu, kemudian mereka high ten. Setelah itu, salah satu kacung mengeluarkan minuman dari tasnya, memberikannya pada cewek itu. Cewek itu memberikan minuman “ajaib” itu pada Matika. Cewek itu juga memberikan kacamata pink pada Matika, yang menyebabkan Matika seolah buta oleh dunia. Matika tiba-tiba hilang kesadaran [menunduk dan mata terpejam, tapi tetap bisa berdiri dan berjalan]. Cewek dan pengusaha “merebut” Matika dari orang-orang lain.)

 

Scene 3: Manusia Biasa yang Tak Tahu (karena memang Tak Peduli) Apa-apa (4 menit)

 

Waktu        : 21y5m4d

Properti    : kursi putar, laptop, 3 gebok duit(-duitan)

Pemain        : Matika, Istri, 3 Kacung, Pengusaha, 3 pembawa limbah, 5 aktivis kampus, 6-8 warga desa, 1 fotografer

    Matika sudah berganti kostum, dari kostum wisudawan ke kostum pekerja kantoran. Ada satu kursi putar di tengah. Pengusaha (dengan laptop) ada di sebelah kiri Matika dan istri ada di sebelah kanan Matika. Kacung memberikan laptop pada Matika.

    Matika mengetik, seolah bekerja. 10 detik berlalu. Dia tampaknya puas dengan pekerjaannya. Kacung perusahaan juga puas kemudian mengambil laptop dari Matika, dan memberikan Matika gajinya. Masih duduk, Matika berputar ke kanan. Kemudian dia berdiri dengan tersenyum, berdiri, dan siap pulang (di panggung dimetaforakan sebagai “berjalan ke kanan”).

    Di bagian kanan panggung, istrinya sudah menunggu. Istrinya hanya ingin mendapat uang yang barusan Matika dapatkan. Matika hendak beristirahat, namun istrinya menyuruhnya kembali duduk di kursi putar dan memutar kursinya ke kiri. Di kiri, kacung sudah memegang laptop, siap menyuruh Matika bekerja (mengetik) lagi.

         22y5m5d

Properti +++    : papan demo bertuliskan “1 juta orang lebih sedikit menjadi korban limbah”, “mau              dibawa kemana negara kita?”, “tutup P.T. Limbahaya!”

papan “Karyawan Terbaik P.T. Limbahaya”

bendera Merah Putih kecil, yang bisa dilipat

    Saat Matika “bekerja”, di depan panggung tampak para aktivis kampus tadi menggotong jenazah bayi ibu tadi (ibu yang anggota masyarakat tadi lho). Ibu itu tampak menangis meraung-raung di belakang barisan aktivis, kepala desa menghibur ibu itu. Orang-orang desa berbaris di belakang kepala desa, penuh amarah. Matika tersentak dari pekerjaannya, bangkit dari kursinya dan berusaha bertanya pada orang desa yang berada pada paling belakang. Saat Matika mendekat ke belakang barisan, ibu itu mendekat ke Matika dan mendorong jatuh Matika, seraya menunjuk-nunjuk Matika seolah mempersalahkan Matika atas kematian bayinya. Sebelum sempat bertindak lebih lanjut, ibu itu dihentikan oleh kepala desa. Matika, masih terhuyung dan bingung, kembali ke kursinya, melanjutkan pekerjaannya.

    Matika selesai bekerja. Kacung memberikan gaji Matika, namun tetap berada di tempatnya berdiri dengan laptop tetap menghadap Matika. Matika berputar ke kanan. Istri Matika menunggu. Istrinya merebut uang langsung dari tangan Matika. Istrinya kemudian memutar-mutar kursi Matika, dengan pemegang waktu  membalik-balik indikator hari. (Adegan tadi untuk menunjukkan metafora rutinitas yang sama.)

 

    Istri berhenti memutar Matika. Matika, yang terhuyung kelelahan, jatuh dari kursi putarnya. Matika naik kembali ke kursinya, kemudian Kacung mendekati Matika sembari bersorak gembira dan memberikan segebok uang. Langsung, 2 orang membawa papan “Karyawan Terbaik P.T. Limbahaya”. Matika terlihat senang akan penambahan gaji dan penghargaan itu. Fotografer memotret pengusaha dan Matika di depan papan ucapan. Namun, saat Matika melihat “P.T. Limbahaya”, dia tersentak dan seolah marah, kemudian berputar-putar karena bingung.

    Saat Matika bingung, tiga orang pembawa limbah mendekat pada pengusaha, seolah menanyakan hendak dibuang ke mana limbah yang mereka bawa. Pengusaha asal menunjuk arah saja. Matika makin tak karuan mengetahui bahwa tempatnya bekerja selama ini ternyata berdampak buruk bagi lingkungan, ekspresinya makin tak karuan. Namun, Pengusaha menjentikkan jarinya dan seorang kacung menunjukkan koper penuh berisi uang pada Matika. Matika masih bingung dan marah saat Istri datang dan mengambil koper uang dari Kacung. Istri kemudian memaksa Matika untuk kembali bekerja.

    Matika yang tidak berdaya kembali diputar-putar oleh Istri di kursi putar. Pemegang waktu  membalik-balikkan hitungan hari. Ibu yang kehilangan anaknya tadi berjalan di depan panggung. Matika berteriak lagi! Tiba-tiba waktu berhenti. Semua orang selain Matika freeze. Bahkan Ibu yang masih di tengah panggung pun ikut freeze. Matika kemudian berbalik dan merampas papan hitungan hari serta membantingnya ke tanah.

    William Gates (16530201), cucu dari Bill Gates, datang. Dia datang dari masa depan, ingin mencoba aplikasi baru yang dia kembangkan: System Restore untuk manusia. Bill bilang bahwa System Restore ini akan membuat manusia kembali lagi ke 17 tahun. Namun, karena sel otak yang dibawa masih dari umur 22, maka sel otak Matika akan kehilangan kemampuan regenerasinya dan hal itu akan mempersingkat hidup Matika. Matika yang ingin hidupnya lebih baik menyetujuinya.

 

Will    : Hai, Kawan. Aku William Gates, 16530227. Aku ingin menjadikanmu seorang beta tester.           Aku bisa membuatmu kembali lagi ke masa lalu. Tapi, ada konsekuensinya… (bla-bla-bla)

Matika    : Aku ingin kembali ke saat aku baru wisuda

Will    : Sayangnya, restore point dari tiap manusia adalah saat 17 tahun. Tetap mau?

Matika    : Okelah kalau begitu

 

Jeda, ganti kostum. Matika pindah kostum dari kostum kantoran ke seragam SMA

   

Scene 4: Seventeen Again (2 menit)

 

17y3m1d

– Matika kembali ke umur 17 (sesaat sebelum pengumuman masuk ITB)

– Dia diberitahu ibunya bahwa dia berhasil masuk SPMB, di STEI

– Oleh ibunya, Matika dipakaikan Jaket Almamater ITB, dan didorong mengikuti OSKM

– Tiba-tiba muncul beberapa maba berjamal dan danlap

– Para maba berjamal itu berbaris di hadapan danlap

– Danlap membubarkan barisan

– Satu baris pasukan yang Matika termasuk di dalamnya menjadi satu

– Beberapa taplok datang dan mengajak lingkar wacana

17y3m2d – 17y3m20d

– Selama taplok menjelaskan tentang mahasiswa dan pengabdian masyarakat, tampak di layar foto-foto masyarakat yang “memerlukan” dan peran mahasiswa dalam membangun Indonesia (cari foto-foto anak informatika yang berjasa di Indonesia)

 

Scene 5: Kembalinya Mimpi-mimpi, Bangkitnya Idealisme (5 menit)

– Poin yang ingin ditunjukkan adalah saat dia mengalami masa awal kuliahnya lagi selama beberapa bulan, dia mengalami penyegaran idealisme dan mendapatkan pandangan lagi tentang apa yang harusnya mahasiswa lakukan, namun aksi panggung yang mewakili poin tersebut belum fixed.

Jangan lupa masukkan unsur romantisme

 

– Gates datang. Dia memberitahu bahwa alatnya ternyata punya beberapa bug dan harus diperbaiki. Jadi, Gates me-warp Matika ke satu tahun setelah OSKM, tepatnya saat mulai Sparta

18y3m20d

– Matika kembali ke masa HMIF, saat dia “mengabdi” pada masyarakat.

– Dia juga bertemu dengan Gata, kekasihnya itu

– Mereka “main-main”. Entah mau ngapain. Mungkin belajar bareng, makan es krim, jalan-jalan, dan berdansa. Selama main-mainnya itu, Andre nyanyi Bukan Cinta Biasa.

Well, karena Bukan Cinta Biasa cukup lama, maka beberapa scene harus didetailkan

1) Scene belajar bareng

2) Scene jalan-jalan

3) Scene pengabdian masyarakat

4) Scene saat Matika meninggalkan Gata sendiri dan baru datang setelah beberapa lama. Gata sudah terlanjur sebel ama Matika. Gata memarahi Matika dan menunjukkan pada Matika layar yang berisi “time is everything, kau bisa membuat satu hari dalam hidupmu dikenang seratus tahun oleh orang-orang. Jangan sia-siakan waktu, sesedikit apa pun itu

 

Scene 6: Kembali Hidup (4 menit)

– Tiba-tiba, waktu berhenti. Matika bingung.

– Bill Gates datang, memberitahu Matika bahwa System Restore-nya rusak dan Matika harus memilih apakah dia akan mengulangi dari umur 17 awal lagi dengan risiko kehilangan 2 tahun hidupnya ATAU reset kembali ke umurnya yang 25 dan mendapatkan semua 2 tahun yang hilang itu.

– Matika bingung dan tertunduk. Gates menyuruh Matika berpikir cepat. Tiba-tiba di layar terlihat ”Jangan sia-siakan waktu, sesedikit apa pun itu.

– Matika memilih kembali ke umur 25 tahun

– Matika kembali berada di kondisi di akhir scene 3, dengan panorama posisi pemeran yang tetap

 

– Matika memarahi para pembuang limbah. Dia mengambil uang yang ada dalam koper dan yang dipegang oleh Istri, membawanya ke “balik papan”, dan menjadikannya “alat penyaring limbah”.

– Istri memarahi Matika karena uang yang harusnya jadi milik Matika digunakan untuk membiayai pengolahan limbah

– Matika menampar Istri. Matika membuang cincin kawinnya dan menyuruh Istri keluar. Kemudian, Matika menarik seorang dari balik panggung yang ternyata adalah Gata. Matika meminta maaf dan memberikan cincin nikah pada Gata.

– Anggota parpol lewat di panggung, masuk dari sebelah kiri. Bersamaan dengan itu, aktivis kampus masuk dari sebelah kanan.

– Matika menghampiri anggota parpol yang “bling-bling”, melucuti semua aksesorisnya dan menjadikan dia “politikus yang baik”

– Matika menghampiri pemimpin aktivis, membuang bandananya, mengancingkan bajunya,

men-“dis-singsingkan” lengan bajunya. Matika lalu mengganti papan demo “Bunuh Koruptor!” dan “Hancurkan aset-aset tikus negara!” menjadi “Rakyat butuh penghidupan!” dan “Kembalikan hak mereka!”

– ???

– Masyarakat memberikan kado. Setelah dibuka, ternyata isi kado itu bendera Merah Putih ukuran kecil. Matika mengibarkannya

 

Scene 7: Bagikan Apa yang Kau Dapatkan (2 menit)

– Poin yang ingin ditunjukkan adalah ada wisudawan baru lainnya, dan Matika memberikan pengarahan pada wisudawan itu untuk memajukan Indonesia.

Tahun berganti

– Ada seorang wisudawan baru yang diarak masuk panggung

– Matika menghentikan wisudawan itu.

– Matika memberikan bendera yang sebelumnya dia dapatkan

– Pemegang waktu membalik tahun-tahun, selama pembalikan itu tampak 5 wisudawan baru masuk ke panggung.

– Masing-masing wisudawan membawa potongan pulau besar Indonesia berwarna hitam

– Bendera berpindah tangan secara estafet dari wisudawan pertama hingga terakhir

– Seusai mengestafetkan bendera, kelima wisudawan itu seolah berunding, dengan Matika sebagai pemimpinnya

– Mereka mengangkat kelima potongan pulau itu, menghadapkannya ke arah penonton.

– Bersama-sama, mereka menyobek warna hitam pada pulau-pulau. Ternyata, warna asli kelima pulau itu adalah emas

– Matika: “Setelah kalian mengakhiri kemahasiswaan kalian di ITB, kalian bukan lagi insan biasa—kalian mahainsan! Ingat itu, Kawan! Di tangan kalianlah negeri ini akan berjaya. Ingat sumpah yang selalu kita teriakkan!” Ucapkan Salam Ganesha

– Mereka bersama-sama menyanyikan Himne Informatika

Selesai. Teknisnya Sabtu aja ya

 

Ibn Sina, the Elementalist

Terinspirasi dari kiriman Facebook Maria Popova:

For some perspective on Trump’s atrocious Muslim Ban: If the ancient Arab world had banned Western travelers from its borders, we’d have no mathematics, no astronomy, no medicine. See, for instance, the lovely illustrated story of how Persian polymath Ibn Sina shaped modern medicine:

ibnsina2


Ibnu Sina (57 tahun, 980–1037) adalah salah seorang Ravenclaw dari Zaman Emas Islam (502 tahun, 786–1258) yang saya hormati karya-karyanya.

His work, “The Canon of Medicine”, is the 10th century’s “Gray’s Anatomy”. Even though they’re scientifically inaccurate (for example, he said that blood came from liver, whereas according to the current science blood comes from bone marrow), they’re mythologically cool.

(I’ve only read the summaries of these great scientists’ works–mostly through Wikipedia, since I hadn’t time to read, let alone understand, their original manuscripts.)

Jadi Ibnu Sina ini percaya bahwa di dunia ini ada empat unsur: air, api, tanah, udara. Paham “classical elements” ini, di kala itu, adalah “filosofi alam” yang lagi ngetren di dunia sejak dipopulerkan oleh Empedocles (60 tahun, -490–-430) Kombinasi dua elemen akan menghasilkan “sifat” sebagai berikut:

Api + tanah = kering
Tanah + air = dingin
Air + udara = basah
Udara + api = panas

Nah, Ibnu Sina mengklasifikasikan seluruh penyakit, organ tubuh, cairan tubuh, beserta cara pengobatannya, berdasar empat unsur dan empat sifat itu. Menakjubkan, ya? Kalau saya disuruh menggolongkan barang-barang di kantor saya berdasarkan empat elemen, saya kayaknya nggak kuat. :’)

Anyways, sampai sekarang, mitologi 4 classical elements ini masih terpakai luas untuk sastra dan kultur kontemporer. Bahkan bentuk zat (padat, cair, gas, plasma) punya banyak kesamaan atribut dengan classical elements.

(Kecuali di Megaman Battle Network. MMBN pakai elemen Aqua, Heat, Wood, sama Elec. Aqua memadamkan Heat, Heat menghanguskan Wood, Wood mengonsletkan Elec, dan Elec menyetrum Aqua. Iya, saya kangen main GBA.)

Surat Terbuka untuk Kemahasiswaan ITB

Jadi awal bulan ini ada salah satu CEO paguyuban intrakampus ITB yang mengatasnamakan [seluruh] anggota KM-ITB untuk mem-bully salah satu pejabat di pemerintahan Indonesia. Saya awalnya tidak yakin dia benar-benar mewakili semua mahasiswa ITB dan mempertanyakan motivasi dia dalam melabeli presiden dengan kata sifat “serampangan”; namun, setelah disadarkan salah satu teman saya untuk berprasangka baik, saya memberikan “benefit of the doubt” kepada dia.

Karena itulah saya merancang draft surat ini. Anggap draft surat ini adalah proposal sekaligus tantangan. Dia bisa mempertimbangkan untuk melaksanakan isi surat saya untuk menunjukkan keberaniannya. Toh, slogan kampanyenya adalah #AksiBerani.

Kalau dia benar-benar berkarisma dan, seperti yang dia tuliskan di Surat Terbuka, punya cukup banyak pendukung untuk bisa mengklaim mewakili Keluarga Mahasiswa ITB, harusnya sih cari 200 orang yang sevisi sekaligus menyemangati mereka untuk menjalankan sebuah program itu gampang. Orang mahasiswa baru ITB tiap tahunnya 3000+ orang kok. (Okelah, TPB ITB termasuk anggota muda, jadi nggak usah diitung.) Toh, mereka semua punya semangat membara dan energi tiada-henti untuk membela rakyat Indonesia; tinggal diarahkan dan dikelola ‘kan?

Juga, kalau perlu, saya menyarankan metode di surat ini menjadi syarat agar sebuah BEM kampus bisa tergabung dalam BEM-SI. Penjaminan mutu ini bertujuan memastikan sebuah BEM sudah cukup dewasa, bertanggung jawab, mampu membina para kadernya, serta punya ketulusan dan komitmen sebelum turun ke jalan dan gabung demonstrasi besar-besaran [yang mengatasnamakan rakyat Indonesia].

Kalau nggak ada penjaminan mutu semacam itu, ya, BEM-SI itu bakalan penuh sama anak-anak yang menjadikan kemahasiswaan sebagai tempat pelarian karena gagal di bidang akademis, atau mereka yang mau ikut demo dan nge-bully presiden buat keren-kerenan aja. Intinya, isinya bakal jadi sampah-sampah yang nggak tau mau ngapain dengan hidup ini.


Earlier this month, I promised an open rebuttal letter to Zein’s Open Letter regarding Jokowi’s haphazardish management of Indonesia. It’s still in draft. (Yes, I’m slacking off.) This #SumpahSeribuTahun mock-letter is one of the theses and anecdotes that I use in my ~25-pages rebuttal.

Well, consider this mock-letter as a teaser.

c3fbkmdukai58wc-jpg_large

After Posting A Hateful Comment

Correct. It was an ignorant, uneducated, and insulting comment.

According to your knowledge and experience, what do you usually do about people who imbue their rebuttal with disrespectful tones and trash talks? Get emotional? Bashing them back? Dismiss the argument entirely?

Should your disregard to my [other] points categorize as “ad hominem”? Is it fair, in discussion, for you to force me to use less-harsh words in describing my perception? Are you trying to control my behaviour not to [verbally] expose what I think about a certain topic? Is it always the speaker’s fault that [one of] the audience get offended by the statements?

Besides, [if you take this as a personal offense,] isn’t being offended is a mark of your own insecurity? Isn’t being offended a sign of fear that what offended you is actually true and fear that the lies you kept telling yourself will be uncovered? Isn’t being offended an indication of narcissism and overvaluing your own opinion?

So how should an educated person respond to scornful verbal abuses?

Nevertheless, I hope you’ll have the mood.

%d blogger menyukai ini: