Forget that you succeeded. Forgive and forget that you failed. Learn from both and move on fast. Failure can be a patient teacher—it’s often a learnable event. Success can lead to signal and pattern blindness. The faster we forget the twins of success and failure and focus on only creating value the faster the engines of achievement can carry you forward.
Author Archives
IF3056 Distributed Systems: Naming
Newsletter Production Management
It’s been awhile since my post is in English. For these two weeks, I’m in charge of LPMI’s bulletin production. This bulletin is the first issue, as a apiritual successor of the previous newsletter under the name Lemper Enak.

Me designing Lansai, using my oh-so-cool CorelDRAW X6. CorelDRAW has been my favorite and only image editing software since 3-4 years ago.
I’m planning on making a guideline how to manage the production, from the beginning to the end, of a bulletin. PMK ITB’s newsletter, Sangkakala, currently has no guidelines of this kind. That’s why the way Sangkakala CEOs making it is a bit messy, unstructured.
Firstly, the contributors send me the bunch of .doc files. That time, there was no idea how we should arrange the page nor how much space is needed. Applying what I learned in my major, software engineering, I try to do the design on an iterative way.
Like most softwares, I had planned release 4 beta patches for this bulletin, each beta has better design and content management:
Beta 1:
http://issuu.com/okihita/docs/lansai_apr_beta1.
What I did on this first release was arranging the pages, which article would show up first, followed by which. Considering that there will be space for ads (amen), I approximate how many pages an article would take. I also set several gray rectangles for image placeholder. It’s not good for a bulletin to have its entire content as mere text.
Beta 2:
http://issuu.com/okihita/docs/lansai_apr_beta_2
More placeholders. At this point I realize that, image placement plays a big role in your page layout. You can always fill the negative white space with images, no matter how short the paragraph content itself.
Beta 3:
- Bikin daftar redaksi
- Nyari foto buat halaman “SLT 1″, “SLT 2″, “SLT 3″, “Pengabaran”, “Thiners”, “TEF”, “Misi dan Doa”, “Famous”, “Programmer”, dan “Networking”,
- Desain “Tetelestai”, “Kepemimpinan Oraganik”, “Cerita Sampul”, dan “MOIA”
- Nambahin artikel buat “Inset MOIA” dan “Alkitab Elektronik”
- Konsultasi ama tim penulis, mastiin konten udah cocok atau belum
Beta 4:
- Uji tata bahasa, estetika, dan koherensi semua artikel
- Tambahin nomor halaman
- Kalo ada iklan, masukin iklannya
- Poles desain terakhir
Like all kind of engineering, there’s always 4 steps to design a product, which are:
- Requirement analysis
- Design
- Implementation
- Test and verification
On my managing this first issue, I realised that, hey, those steps also apply to bulletins! See my next post for my further thought on this.
Susahnya Menerjemahkan Bahasa
Bahasa Inggris tidak bisa diterjemahkan kata per kata. Dengan kosakata yang sama, sebuah kalimat dalam bahasa Inggris bisa berarti hal yang beda jika struktur yang digunakan berbeda.
Apa terjemahan Indonesia untuk “I believe I can fly”? Orang yang hanya mengandalkan kamus Inggris-Indonesia tanpa punya kemahiran tata bahasa akan jawab “Aku percaya aku kaleng lalat”.
Ugh…
Contoh di awal tadi baru contoh dalam penggunaan kosakata makro. Bagaimana jika kita harus menggunakan kosakata mikro– a, an, and, as, at, by, for, from, if, in, into, on, or, of, the, to, with? Bahkan orang yang nilai TOEFL-nya 600 poin pun kadang masih kesulitan membedakan penggunaan in, on, dan at.
Penerjemahan dari English ke bahasa Indonesia tidak kalah susah.
Selain tata bahasa, rasa bahasa perlu juga dipertimbangkan. Gundala Putra Petir bukan seorang pembela kebetulan, ‘kan? Perhatikan juga penggunaan bekas kepala sekolah, mobil mantan, dan bekas mantan. Tidak selamanya sinonim bisa saling menggantikan. Di Indonesia, ada faktor budaya lokal dan kebiasaan yang menggeser makna sebuah kata dari definisi aslinya dalam kamus.
Tongue of Spirit, Language of Heart
(This article relates to Christianity)
Ada dua pengertian “bahasa roh”:
—–
Pengertian (1)
“Mujizat Komunikasi”
Dasar Alkitab: Kis 2:4
“Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.”
Karunia ini diberikan kepada orang yang ditunjuk Allah untuk mengajar orang asing. Bahasa Roh di sini berfungsi sebagai sarana komunikasi (kosakata + /grammar/) yang digunakan para rasul untuk mengajar para orang Yahudi yang berasal dari luar Palestina. Bahasa ini digunakan sebagai alat transfer pengetahuan kepada jemaat lain yang tidak mengerti bahasa ibu para rasul.
Tidak tertulis dalam Alkitab apakah para rasul tetap menggunakan bahasa ini hingga akhir pelayanan mereka, jadi saya mengasumsikan bahwa mujizat ini adalah “one hit wonder”, seperti mujizat kebangkitan Lazarus. Dipadu dengan mujizat munculnya lidah-lidah api, cara ini adalah strategi Roh Kudus untuk membuat orang-orang yang datang percaya kepada pengajaran para rasul.
—–
Pengertian (2)
“Seruan dari Hati”
Dasar Alkitab: I Korintus 14:2
“Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah.”
Karunia ini diberikan kepada orang yang sungguh-sungguh ingin bercakap dengan Tuhan. Ketika seorang sedang dipenuhi Roh Kudus dan mengalami keadaan yang sangat intim dengan Tuhan, seringkali dia akan kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan perasaannya.
Ketika hal tersebut terjadi, Roh Kudus akan membimbing orang itu membentuk sebuah bahasa yang akan digunakan untuk menyampaikan informasi pada Tuhan. Bahasa ini punya kosakata dan tata bahasa yang cenderung tidak dimengerti oleh orang lain, karena bahasa ini memang bukan digunakan untuk bertutur dengan manusia, melainkan dengan Tuhan.
Bahasa roh ini lebih wajar ditemui di Indonesia karena: bahasa Indonesia itu susah dituturkan, punya tata bahasa (= /grammar/) yang kaku, kosakata yang sedikit, dan jumlah informasi per suku kata yang rendah. Jika dibandingkan dengan betapa meletup-letupnya informasi (syukur + pujian + penghormatan + ratapan + sukacita + harapan + permintaan) yang ingin kita sampaikan pada Tuhan, bahasa Indonesia sama sekali tidak bisa dijadikan sarana. Inilah juga kenapa kecepatan penuturan kata relatif tinggi ketika kita menggunakan bahasa roh.
—–
Dan, ini bagian pentingnya:
Lihatlah bagaimana para penerjemah dari LAI menggunakan kata “bahasa roh”, bukan “bahasa Roh”, untuk menyebut bahasa yang dimaksud dalam I Korintus 14:2.
Saya tidak mengerti bahasa Ibrani, Yahudi, maupun Romawi. Namun, saya yakin para penerjemah di LAI adalah para cendekia di bidang bahasa; pastinya mereka punya pertimbangan sendiri dalam penggunaan ‘r’ kecil. Asumsi saya, hal itu untuk membedakan “Tongue from The Holy Spirit” dengan “language of the heart”; hal ini kiasi (= /analogous/) dengan penggunaan “kBps” (kilobyte per second) yang berbeda dengan “kbps” (kilobit per second).
Terima kasih sudah membaca. ![]()
Semoga tulisan ini menambah pengetahuan.
