Penggusuran PKL, Perusakan Simbiosis

Tanggal 9 Januari, para PKL di gerbang belakang ITB digusur oleh pihak rektorat ITB. Deretan kios, warung makan, tukang jajanan, pengasong, serta beberapa tempat percetakan dan fotokopi sekarang tinggal puing.

9 Januari 2012, sebuah buldozer menertibkan kios pedagang kaki lima
yang sudah menetap hingga 30 tahun di jalan belakang ITB. DOKSOS LFM ITB

Saya, sebagai mahasiswa yang menggantungkan ketersediaan tinta fotokopi dan makanan pokok kepada para PKL ini, ikut bermurung durja.

https://twitter.com/Nuelsitanggang/status/289234721622339584

Daerah PKL gerbang belakang hanya berjarak sekitar 50 meter dari Sunken Court, daerah kumpulan sekretariat unit ITB yang merangkap jadi kawasan bermain “Sang Maradona”, seorang penunggu kawasan yang entah gimana caranya bisa mendapatkan beberapa atribut unit/himpunan/kepanitiaan di ITB, termasuk syal Himpunan Mahasiswa Metalurgi dan kaos angkatan Himpunan Mahasiswa Informatika 2011.

Kembali ke urusan penggusuran. Jelas, saya sedih, salah satunya karena waktu itu saya sedang liburan dan tidak bisa bertindak apa-apa selain mendukung Pengmas KM-ITB serta Advokasi Kampus membicarakan kebijakan relokasi PKL.

PKL harusnya ditata, bukan digusur. 6 bulan lalu, Peraturan Mendagri tentang penataan dan pemberdayaan PKL dikeluarkan dan bisa dibaca di sini.

Berikut adalah beberapa poin yang menarik dari aturan tentang pemberdayaan pedagang tersebut:

  1. PKL adalah pelaku usaha perdagangan lahan dan bangunan milik pemerintah dan/atau swasta yang bersifat sementara/tidak menetap. (1.1)
  2. Pemberdayaan PKL adalah upaya yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha dan masyarakat secara sinergis. (1.3)
  3. Tentu saja PKL harus ikut andil untuk menjaga keindahan, ketertiban, keamanan, kebersihan, dan kesehatan serta fungsi fasilitas umum. (23.5)
  4. Bupati/Walikota menyampaikan laporan hasil pelaksanaan penataan dan pemberdayaan PKL kepada Gubernur, tembusannya dikasih ke menteri. (46.2)

Tapi, setelah dipikir lagi, PKL itu kan ilegal. Kenapa mereka harus dipertahankan? Ini jawaban saya, saya rangkum dari cuitan saya.

  1. “Sudah 30 tahun di sini” bukan alasan yang cukup kuat bagi PKL untuk tetap mendapatkan lahan jualan. Bahkan hal itu tidak layak jadi alasan.
  2. Karena, menggunakan logika yang sama, “sudah 30 tahun di sini” bisa membenarkan perbuatan preman pemalak dan keluarga pengemis yang mangkal.
  3. Bukan juga karena “saya cari nafkah dari mana lagi”. Bandung itu kota besar. Untuk mendapat retribusi tinggi kalian perlu kontribusi tinggi.
  4. Karena dengan logika itu, seorang dari desa, tanpa keahlian apa-apa, dengan 12 anak, bisa saja datang ke Bandung dan minta bagian dari APBD.
  5. Alasan kenapa penggusuran PKL gerbang belakang ITB tidak tepat adalah karena hal itu merusak mutualisme yang selama ini sudah berjalan baik.
  6. Penggusuran menurunkan nilai kehidupan kedua pihak: PKL dan mahasiswa. Dalam hal ini, benang merahnya adalah sama-sama “kami mau makan apa?”
  7. Mutualisme, Bapak-Bapak rektorat, adalah hal yang memungkinkan peradaban manusia bisa maju. Waktu saya berburu, kamu menjaga gudang makanan.
  8. Seperti jamur dan ganggang, hiu dan remora, kerbau dan jalak. (<- Halah SMP banget.) Layaknya /hardware engineer/ dan /software programmer/.

Untuk yang kepalanya memanas waktu lihat nomor 4, mungkin kalian akan tertarik mempelajari Prinsip Dasar Makroekonomi secara gratis. Sebuah “kota” dibuat karena ada orang-orang yang “bisa memberikan lebih” dan “ingin mendapatkan lebih”. Kalau seseorang tidak bisa atau tidak berniat memberikan lebih dan mengambil risiko tinggi, dia bisa memilih tinggal di kawasan yang disebut “desa”.

Jadi, apa solusi terkait penggusuran PKL ini? Saya melakukan riset bagaimana beberapa negara menata street vendor (PKL) dan hawker/peddler (pengasong) mereka. Hal terkeren yang saya dapatkan adalah pencerdasan kebijakan.

Pembuatan selebaran “Vendor Power” oleh komunitas kreatif New York, berdasarkan peraturan tata kota. Para pedagang jalanan sekarang tahu apa hak dan kewajiban mereka dengan bantuan ilustrasi.

Sepertinya asik tuh. Kalau ada yang tertarik bikin pencerdasan kebijakan buat PKL kota Bandung, saya sangat bersedia membantu. Saya berpengalaman dalam kebahasaan dan desain interaksi lho.

About these ads

One thought on “Penggusuran PKL, Perusakan Simbiosis”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s