Rokok, Contoh Utama Branding

Dosen Branding saya bilang, produk rokok itu sebenarnya zero-benefit. Komoditi utama yang dijual bukan tembakau, filter, maupun saus dalam rokok itu sendiri, melainkan “gaya hidup”.

Penjualan rokok analog dengan Coca Cola yang menjual “kemeriahan”. Satu botol Coca Cola dijual Rp2.500, padahal bahan bakunya hanya seharga Rp800. Kenapa bisa jadi mahal? Rp1.200 dari penjualan Coca Cola digunakan untuk bikin iklan-iklan teve, poster raksasa, dan spanduk-spanduk merah-meriah itu.

Karena itulah, branding iklan-iklan rokok menjual ilusi bahwa “merokok itu jantan, keren, dan menyenangkan”, padahal sebenarnya tidak sama sekali.

Saya pernah, sekali, menegur seorang bapak yang merokok dalam angkot ketika angkot itu dipenuhi anak kecil yang pulang sekolah. Feel like a boss. Tapi, nampaknya saya perlu keberanian yang jauh lebih besar untuk menegur teman dekat sendiri. :| Sungkan banget eh.

Baiklah. Hari ini saya berjanji untuk membuat sebuah infografik tentang fakta rokok, supaya anak-anak kampus tidak merokok lagi.

Tulisan Sebelumnya
Tulisan Berikutnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.